Dari pengalaman berinteraksi dengan beberapa klien, saya banyak menjumpai tim-tim dalam organisasi yang belum siap menerapkan pemanfaatan teknologi informasi secara maksimal. Tentu saja pemanfaatan disini ditujukan untuk meningkatkan kinerja serta mempercepat laju aktivitasnya supaya semakin cepat merespon setiap perubahan yang ada.
Kesimpulan yang saya dapatkan dari pengamatan dari pengalaman itu adalah masih rendahnya kesadaran penerapan IT Governance alias tata laksana kelola teknologi informasi di dalam organisasi tersebut.
Teknologi informasi masih sebatas dianggap “alat teknikal” yang digunakan untuk mengembangkan sebuah sistem yang wajib menjadi solusi atas seluruh proses bisnis di dalam organisasi. Sehingga sangat wajar jika kemudian unit/departemen yang terkait dengan teknologi informasi hanya dikelola oleh seorang atau sekelompok software engineer dan bukan seorang dengan tingkat setara C seperti CIO (Chief Information Officers) atau CTO (Chief Technology Officers).
Mengapa hal tersebut bisa terjadi di banyak organisasi?
Jawabannya sebenarnya sangat sederhana.
Trauma sejarah penerapan teknologi informasi dalam mendukung sistem informasi organisasi yang menjadi alasan mayoritas organisasi.
Trauma sejarah yang mungkin pernah mereka alami sendiri atau berkaca dari organisasi-organisasi lain yang sudah mengalami “painful” dan bukanlah “successful” dalam implementasi sistem informasinya.
Begitu banyak cerita kegagalan yang beredar, menghabiskan investasi aktiva dengan nilai yang luar biasa dengan hasil yang cenderung biasa-biasa atau bahkan tidak menghasilkan apapun
Sayangnya kebanyakan organisasi tersebut lebih suka mengambil cara paling gampang dalam mengambil alasan atas kegagalan tersebut, yaitu “buruknya kompetensi” dari vendor/konsultan/kontraktor yang menjadi mitra mereka dalam implementasi.
Padahal jika ditelaah lebih lanjut, hulu dari masalah tersebut adalah buruknya IT governance di organisasi tersebut. Buruk karena minimnya kesadaran para pengambil keputusan di tingkat puncak organisasi mengenai hal tersebut.
Dimana hal paling parah adalah faktor “kemalasan” para pemegang keputusan melibatkan konsultan yang memiliki kemampuan dalam memberikan masukan-masukan bagaimana IT dapat menjadi faktor penentu dalam mencapai tujuan-tujuan strategis organisasi.
Padahal sudah sedemikian banyak kerangka kerja/acuan praktek terbaik (framework/best-practices) yang melibatkan seluruh aspek pemanfaatan IT di dalam organisasi yang dapat digunakan dalam upaya menciptakan IT Governance yang baik.
Kematangan dan kesiapan IT Governance yang memadai akan memperlihatkan pengaruh yang besar dalam meningkatkan kesiapan seluruh elemen organisasi dalam memanfaatkan serta membangun/mengembangkan sistem informasi berbasis IT yang tepat guna dan berdaya guna.
Tepat guna dan berdaya guna sehingga setiap sen investasi aktiva di dalamnya akan memproduksi hasil-hasil yang luar biasa dalam pemanfaatannya.
Bukankah itu yang Anda inginkan sebagai para pemegang keputusan?
Topik yang mungkin Terkait:
- Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Terbaik
- Apakah Manfaat Sistem Informasi Bagi Bisnis Anda?
- Perlukah (Pentingkah) Audit Teknologi Informasi?
- Tips Menghitung Anggaran Biaya Software Development/Engineering
- Kuasai Informasi untuk Kuasai Dunia!
- Posisi Penting Seorang CIO
- Open Source Software = Freeware = Software Gratis = Layanan Gratis?
- Pemanfaatan CMM (Capability Maturity Model) Dalam Pengembangan Aplikasi Software
- Open Source Software Hanya Tren (alias nanti bakalan hilang)?
- Potong Investasi Teknologi Informasi Anda dengan FLOSS..
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- IT Audit Standard Tools/Framework (Bagian V)
- Mengapa Tidak Ada Harga Standar Pembangunan Software Komputer?
- Mengapa Saya dan Teman-Teman Berbisnis di Bidang Teknologi Informasi
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development” Bagian 2


