Sepupu perempuan saya yang sedang kuliah tingkat 2 di ITB bercerita tentang kegiatan ekskul yang dia ikuti.
Capoeira adalah ekskul favoritnya. Alasannya pun sederhana, olah raga itu sedang ngetrend dan tentu saja karena produk budaya impor dari Brazil jadi berkesan lebih bergengsi dibandingkan budaya lokal.
“Kenapa nggak ikutan silat saja? Kan sama-sama olah raga beladiri?” tanya saya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
“Nggak ah, katro begitu,” jelasnya dengan singkat, jelas dan padat.
Tentu saja saya jadi bengong sendiri. Padahal yang saya tahu capoeira berasal dari budaya para budak di Brazil pada jaman penjajahan Portugal.
Sangat kontras dengan sejarah pencak silat yang mayoritas alirannya diajarkan secara eksklusif di lingkungan elit istana dan menjadi olah raga kaum bangsawan di negeri ini.
Saya pun jadi berprasangka buruk, jangan-jangan para remaja di negeri ini sudah tidak lagi memiliki kebanggaan atas budayanya sendiri. Budaya yang ironisnya lebih dihargai oleh bangsa lain bahkan pelestariannya pun lebih banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga asing.
Padahal saya lihat mayoritas produk-produk budaya impor tersebut hanya menang dalam kemasan dan pemasaran saja dibandingkan dengan produk-produk budaya lokal.
Salah satu contohnya adalah bela diri aikido yang diimpor dari Jepang yang sebenarnya memiliki kesamaan prinsip dan teknik dengan silat aliran Cikalong Pancer Bumi.
Namun jika Anda ingin mempelajari silat aliran Cikalong Pancer Bumi, Anda harus keluar masuk kampung di daerah Jawa Barat terutama Purwakarta. Sangat kontras dengan kondisi aikido, Anda dapat dengan mudah mempelajarinya di berbagai tempat latihan kebugaran, kampus bahkan pusat-pusat perbelanjaan.
Jadi sungguh sangat terlihat bahwa dengan kemasan yang lebih baik dan menarik kemudian dipromosikan serta didistribusikan dengan membumi maka sebuah produk budaya lokal dapat diekspor atau minimalnya diminati oleh bangsa sendiri.
Mungkin pelajaran dari tayangan Empat Mata di stasiun teve Trans7 dapat menjadi contoh yang baik bahwa ke-katro-an
jika dikemas dengan apik akan menjadi tontonan dengan rating yang tinggi.
Popularity: 2% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
- Berbasa Daerah = Kampungan?
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Perang Indonesia VS Malaysia
- Sisindiran, Kesenian Tradisional Sunda yang Dilibas Rap
- Bersyukurlah Kita Jadi Warga Negara dan Tinggal di Indonesia!
- Hal-Hal yang Ingin Saya Sampaikan (kalau) Bertemu Bill Gates di Indonesia
- Indonesia Punya Posisi Tawar yang Kuat Terhadap Amerika Lhoo..
- Indonesia Mau Membangun PLTN? (Semburan Lumpur & Sampah Saja Susah Diurusnya)
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Kenapa Nggak Pakai Nama Domain Indonesia?
- 5 Tips Berhenti Merokok (Buat yang Niat) dan Faktor Pendorong Berhenti Merokok (Buat yang Belum Niat)
- Memanusiawikan Pendidikan di Indonesia (Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2007)
- Akankah Terjadi Revolusi Indonesia?

10 Komentar Terakhir