Dari ngobrol-ngobrol tanpa topik dengan teman-teman jaman masih kerja dulu terlontar sebuah pertanyaan, “Bud, loe kan ceritanya sekarang udah jadi wirausahawan. Menurut loe jadi wirausahawan itu wajib ya?”
Saya sendiri cuma tertawa menyimaknya.
Pertanyaan yang mungkin juga sering kita dengar dan bahkan dilontarkan dari mulut kita.
Secara pribadi, menurut pendapat saya semua hal yang kita lakukan sebenarnya kembali kepada pilihan hidup masing-masing.
Menjadi apapun diri kita dalam kehidupan ini tidak lepas dari mimpi yang ingin kita wujudkan.
Namun sebagai seorang Muslim, mimpi saja tidak cukup.
Sebagai manusia, tujuan saya diciptakan dan dilahirkan ke dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya (Ad-dzariyat 56)
Lho.. kok jadi melantur?
Nggak juga.. coba deh kita renungkan sama-sama.
Setiap orang selalu memiliki harapan dan mimpi dalam hidupnya semenjak benaknya mampu mencerna hal-hal di sekelilingnya dengan baik.
Walaupun secara naluriah sebenarnya manusia dan mahluk hidup lainnya selalu berusaha untuk bertahan hidup di alam semesta ini.
Naluri, harapan dan mimpi itulah yang menjadi cambuk dan tujuan setiap manusia dalam melewati setiap detik menuju kematiannya.
Setiap detik yang terlewati oleh manusia berlalu dengan pilihan-pilihan yang kita buat.
Tidak ada pilihan yang salah atau kurang tepat.
Yang ada adalah pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan itu.
Bagi yang tidak percaya adanya kehidupan akhirat, pertanggungjawaban itu dapat secara sosial, normatif maupun legal formal yang berlaku di masyarakat.
Sedangkan bagi yang percaya kehidupan di akhirat maka pertanggungjawaban itu adalah saat dimana setiap diri berhadapan dengan Sang Maha Hakim yang telah menciptakan dan memelihara kehidupan kita sebelumnya.
Jika kita memilih untuk menjadi seorang wirausahawan maka kita harus siap dengan pertanggungjawabannya.
Katakanlah dengan nasib orang-orang yang telah mengabdikan diri di dalam organisasi bisnis yang kita jalankan.
Tentu saja jangan dilupakan nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya pula kepada mereka.
Apakah kita sudah siap?
Jika ternyata kita kemudian menganiaya mereka karena lalai menunaikan setiap hak mereka.
Jika ternyata kita kemudian menyelewengkan amanat para pelanggan yang menggunakan produk yang ditawarkan oleh kita.
Jika ternyata kita kemudian mengkhianati komitmen dengan para mitra yang menjadi rekan kita dalam menjalankan usaha.
Apakah kita sudah siap?
Jika setiap titik kekayaan yang kita kumpulkan akan dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawaban pemanfaatannya oleh-Nya kelak?
Jika ternyata ada hak-hak karyawan, pelanggan dan mitra yang kita zholimi?
Jika ternyata kekayaan malah semakin menjauhkan kita dengan-Nya?
Ternyata sekedar mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya bukan sebuah mimpi yang indah saat kita berniat menjadi seorang pelaku wirausaha.
Niat itu adalah angan-angan yang menuntut tanggung jawab besar, kesiapan mental yang tinggi dan kearifan yang mendalam.
Jika menjadi seorang wirausaha sekedar memenuhi hasrat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya maka sebaiknya kita kembali ke jaman primitif.
Jaman dimana ternyata ukuran kebahagiaan dan kecukupan untuk hidup layak diperoleh dari harmoni dengan semesta.
Bukan harta.
Popularity: 22% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Mengapa Saya Lebih Memilih Menjadi Wirausahawan
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Wirausahawan Banyakan Nongkrong di Kantor? BAHAYA!
- Ternyata Bayi Bisa Menjadi Guru Saya..
- Bagaimanakah Cara Mewujudkan Mimpi?
- Mengapa Sejarah Itu Penting?
- Apakah Kriteria Suksesmu?
- Resolusi 2010
- Tips Metode Selalu Menjadi Kreatif
- Tangkap Mimpimu! (Inspired by GOAL! The Dream Begins)
- Hikayat Tafsir Mimpi 7 Ekor Sapi Nabi Yusuf
- Haruskah Memilih yang Terbaik dari yang Terburuk?
- Siapa Bilang Zakat Cuma Buang Sial?
- Dukun Kode Buntut dan Konsultan Akselerasi Kekayaan

Allahuakbar !!
Ngeri juga ternyata hidup itu
Hidup itu keras ketika Aturan Allah kita amalkan.
jadi inget utang nih…
bayar utang heula akhh, bisi di tanyakeun ku Alloh :d
Kontemplasi diri yang menarik, mas Setiabudi…
Hidup akan terasa lebih lunak dan lembut, jika kita bisa mengamalkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.
Pada dasarnya, Islam mengajarkan untuk bisa mengalahkan diri sendiri, mau keras kepada diri sendiri…bukan keras kepada orang lain.
Sehingga dengan demikian, hidup kita akan menjadi lunak, semua unsur kehidupan akan serta merta mendukung diri kita. Dan, pada gilirannya kita bisa meraih bahagia dunia dan akhirat. Subhanallah.
Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,
Wuryanano
Motivational Blog – Support Your Success
Entrepreneur Campus – Support Your Future
Dalam kehidupan ini semuanya adalah mata pisau. Tergantung orang yang menjalani, Mas…
Jadi pegawai, jadi pengusaha, jadi pengangguran. Semua bisa jadi positif, tapi bisa sebaliknya kan…
Ini sebenernya ngomongin moral, pilihan atau keadaan?
Buat aku yang sekarang ini masih berkarir, karena punya anak dan sadar tanggungjawab di rumah, maka jadi “pengusaha adalah keharusan”.
Tergantung dilihat dari sudut pandang mana melihatnya sih hehehe