Seorang eksekutif muda kelompok gaji 8 digit bertemu dengan seorang bapak yang sedang asyik menenteng ikan di suatu siang hari bolong.
“Habis nangkap ikan pak?” tanya eksekutif muda tersebut sambil membenahi simpul dasinya yang masih rapi.
“Iya mas, lumayanlah buat makan hari ini. Mungkin sebagian masih bisa saya jual untuk menambah keperluan rumah tangga yang lain,” sahut penangkap ikan tersebut dengan ceria.
Sejenak si eksekutif muda tersebut tertegun, kemudian menggeleng-gelengkan kepala kepada penangkap ikan tersebut.
“Apakah bapak tidak memikirkan tentang masa depan? Persiapan untuk pensiun dengan materi yang mencukupi misalnya? Sepertinya kok bapak masih kurang kerja keras untuk mencapainya?” berondong si eksekutif muda yang sepertinya begitu terindoktrinisasi oleh Robert T. Kiyosaki
Si penangkap ikan tersebut hanya tersenyum kemudian bertanya kepada si eksekutif muda tersebut, “Maksud Anda saya tidak punya cita-cita pensiun di usia muda dengan kebebasan finansial?”
“Ya, tepat sekali. Bapak mengerti itu tapi kok kelihatan santai-santai saja,” tanya si eksekutif muda tersebut.
“Terus, pensiun dan kebebasan finansial itu seperti apa?” tanya si penangkap ikan pada si eksekutif muda itu lagi.
“Ya, kita tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan pendapatan kita. Kemudian kita bisa bebas melakukan apa saja yang kita senangi. Target saya sih usia 40 tahun sudah bisa mencapai itu,” jelas si eksekutif muda.
“Hmm.. bagaimana ya mas, jadual saya ini padat sekali setiap harinya. Pagi-pagi setelah sholat subuh saya menyempatkan diri untuk sarapan sambil bercengkrama dengan keluarga saya di rumah.
Selesai sarapan saya kemudian berangkat menangkap ikan hingga sebelum masuk waktu sholat dhuhur. Setelah itu saya pulang untuk menyerahkan hasil tangkapan dan pergi ke surau untuk sholat dhuhur.
Sepulang dari surau saya makan siang dan membantu isteri menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah terutama di kebun hingga waktu sholat ashar.
Setelah sholat ashar di surau, saya mengaji dan bersenang-senang dengan teman-teman saya sambil minum-minum kopi dan makan gorengan hasil kebun kami hingga waktu sholat maghrib.
Selesai sholat maghrib saya berkumpul dengan keluarga dan makan malam bersama yang dilanjutkan dengan membaca buku-buku kegemaran saya hingga waktu sholat isya.
Selepas isya saya melanjutkan membaca buku-buku hingga waktunya saya dan isteri saya beristirahat dan bermesraan hingga kami tertidur lelap dan mengulang lagi kehidupan baru di esok hari.
Saya dan keluarga sudah tidak mengkhawatirkan lagi kehidupan finansial kami sejak dan selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan tanpa terikat oleh kejaran pekerjaan dari para bos.
Jadi apakah ini namanya bukan bebas secara finansial dan pensiun usia muda? Padahal saya baru berusia 40 tahun dan melalukan hal tersebut sejak 20 tahun yang lalu.”
Popularity: 3% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Berperang Demi Tuhan atau Demi Kekuasaan?
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Romadhon… Sekedar Ajang Menabung Pahala? (Demi Menebus Dosa Sepanjang Tahun)
- Ngapain Kamu Sholat?
- Hati-Hati dengan Preferensi dan Referensi Anda
- Pilih Durinya atau Dagingnya?
- Perlukah Sertifikasi Badan Usaha bagi Perusahaan Peserta Tender di Badan Pemerintah?
- Mas.. Ngapain Sih Anda Ngeblog?
- Bangkitkan Naluri Anda!!
- Pentingnya Menetapkan Visi dan Misi Bisnis Anda
- Tahukah Anda Seorang Penerbang Menggantungkan Hidupnya pada Sebatang Jarum?
- Review Buku “Latih Ulang Otak Bisnis Anda”
- Behind the Process… Buku “Buktikan..! Anda Pasti Kaya-Raya”
- Hati-Hati dengan Penafsiran Anda Terhadap Tulisan
- Takbirotul Ihrom – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (3)

Wah…kisah yang bagus Mas.
Memang sebenarnya makna kebebasan finasial itu berbeda pada setiap orang.
Seperti halnya makna sukses, juga berbeda-beda pada setiap orang.
Salut dengan kisah singkatnya.
Sukses selalu,
Wuryanano
http://wuryanano.com/
Terima kasih Pak Wuryanano.
Hanya buat penyeimbang hati supaya tidak lupa kalau uang bukan ukuran kebahagiaan dalam hidup.
Terima kasih sudah berkunjung.
Gila…gak terpikir kalo kebebasan finansial ada yang seperti dikisahkan di sini….membuka cakrawala baru buat saya…..makasih….
Saya mau pensiun kerja sebaiknya?
Kerja apa setelah pensiun nanti, kapan merintisnya?
@ bambang triono:
Halo Pak Bambang Triono,
Jadi enterpreuner kan nggak harus orientasinya “sekedar” mengumpulkan kekayaan?
Salut buat mas…baru terfikirkan oleh saya, masalah seperti ini bisa menambah wawasan dalam berfikir….thanx
@ ZEN:
Terima kasih Mas.
Semoga bermanfaat buat kita semua.
Boro-boro mas, mikirin kebebasan finansial palagi mikir pensiun dini, saya aja pusing mikirin utang cicilan rumah, arisan, sekolah anak, tagihan telepon, listrik, pulsa Hp, makan sehari-hari, berobat anak, buku-buku sekolah,,Gaji saya “ngepress,press,press” diperes sampai ga keluar airnya. Puusiing..puussing..Bantu saya, wahai para dermawan/jutawan, “Jangan beri saya uang, berikan pekerjaan apapun” asal saya bisa terbebas dari jeratan finansial. Terimakasih.(algibrasantoso@ymail.com). Kritik/masukan, positif/negatif saya terima dengan ikhlass lillaahi ta’alla.
@ algibra santoso:
Nah itu dia Pak Algibra
Masalahnya bukan di “pemasukan” tapi di “pengeluaran”.
Harus mulai dibuat cash flow untuk kebutuhan pengelolaan keuangan keluarga.
Artikel yang “menyentil” ini Pak Setiabudi. Selayaknya memang kehidupan harus seimbang, baik materi dan spiritualnya. Jadi bisa menuju kepada kehidupan yg penuh keberkahan. Salam sukses selalu Pak Setiabudi.
Memang qt hrz trz bsyukur,jd wlupn kebebasn itu msh jauh qt gak akan pernah merasa tersiksa. Dan bila kebebasan itu datang,qt pandai menikmatiny.
Hebat bgt loh kisahny. Memang tiap hari qt hrz bgerak biar badan sehat.
Kira2 apa y aktivitas u/pensiun nanti??
wah bos bagus banget critanya…emh ternyata lebih nyaman hidup apa adanya daripada dikejar target ma dicurhatin downline walopun sebenernya pendapatan lumayan (mantan pelaku MLM), yang jelas nikmati hidup dan berserah diri selalu padaNya adalah kekayaan yang tak terbatas