Dalam beberapa saat terakhir ini, kesadaran organisasi (profit maupun nonprofit) akan pentingnya pendayagunaan sistem informasi berbasis teknologi informasi semakin tinggi.
Bahkan dalam beberapa survey disebutkan bahwa organisasi-organisasi yang mapan memiliki anggaran belanja teknologi informasi hingga 70% dari total anggaran tahunannya.
Kesadaran ini mayoritas dipengaruhi oleh tuntutan peningkatan pelayanan kepada pelanggan/rekanan sehingga menciptakan nilai kompetitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan kompetitornya.
Sayangnya semangat tersebut memunculkan banyak kasus kegagalan dalam pengelolaan dan penerapan teknologi informasi di organisasi tersebut.
Mengapa hal itu terjadi?
Faktor utama adalah lemahnya “kepemimpinan” yang secara khusus terkait dengan kebijakan-kebijakan tata kelola teknologi informasi di lingkungan internalnya.
Lemahnya kepemimpinan ini karena masih banyak para pemegang kebijakan dalam organisasi yang beranggapan bahwa tata kelola teknologi informasi terfokus kepada aspek teknis.
Padahal dalam kenyataannya, aspek nonteknis terutama manajemen strategik, investasi dan sumber daya menjadi faktor penentu dari kesuksesan implementasi teknologi informasi dalam sebuah organisasi.
Terkait dengan hal tersebut maka sudah selayaknya jika puncak pimpinan divisi teknologi informasi masuk di dalam jajaran direksi atau C-class seperti halnya CEO, COO, CFO, dsb.
Oleh sebab itu maka saat ini banyak organisasi yang memiliki seorang CIO (Chief Information Officer).
Mengapa posisi seorang CIO menjadi sangat penting?
Sebagai pejabat dalam jajaran dewan direksi atau top level management maka sebagaimana layaknya fungsi utama mereka dalam hierarki manajemen, seorang CIO menjadi seorang “komandan tertinggi” dalam masalah tata kelola teknologi informasi organisasinya.
Dan sebagai seorang “komandan tertinggi” maka tugas utamanya adalah menyusun rancangan strategis dari obyektif yang ingin dicapai oleh organisasi secara menyeluruh.
Dengan posisinya yang sekelas dengan direksi lainnya maka seorang CIO dapat memberikan semacam garis koordinasi dan garis komando di dalam organisasi yang terkait dengan tata kelola teknologi informasi.
Tentu saja hal tersebut berdampak kepada “daya tekan” terhadap seluruh staf/karyawan di dalam organisasi tersebut.
Hal tersebut akan mempermudah dalam proses sosialisasi serta pengembangan sumber daya teknologi informasi organisasi tersebut.
Popularity: 97% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Posisi Penting SME (Subject Matter Expert) dalam Pengembangan Aplikasi Sofware
- Sistem Informasi “Bukan” Sekedar Software Engineering!
- SSL dan CA, Aspek Penting yang Sering Dilupakan Saat Membangun e-Commerce
- Sebuah Pelajaran Bisnis Berharga dari Seorang Diyan Marandi
- Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Terbaik
- Perbedaan CIO dan CTO
- Anggaran TI (Information Technology Budgeting) Bagian I
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- Indonesia Punya Posisi Tawar yang Kuat Terhadap Amerika Lhoo..
- Tahukah Anda Seorang Penerbang Menggantungkan Hidupnya pada Sebatang Jarum?
- IT Audit Standard Tools/Framework (Bagian IV)
- Perlukah IT Auditor Terlibat UAT?
- Anggaran TI (Information Technology Budgeting) Bagian II
- Gambaran Umum Pekerjaan Auditor IT/IS
- Tips Memilih Kontraktor IT di Organisasi/Perusahaan Anda

kang, bener… ternyata level nya sudah meningkat. hehe
Mau nanya, kang. Kalau bedanya CIO dan CTO apa? Kalau di IT, berarti CIO=CTO?
@ ismail:
Halo Kang Cima, udah saya bahas di sini yaaa..
Sok mangga dihaturanan..