Bagi si Budi, menunaikan zakat sekedar “buang sial”.
Ya, daripada nanti Alloh SWT mengambil hak para penerima zakat dari hartanya dengan cara-cara yang menurutnya tidak mengenakkan, lebih baik secepatnya ritual buang sial ini dilaksanakan.
Toh nilainya sangat kecil, hanya 2,5% dari “sisa” kebutuhan pokok hidupnya.
Dengan ilmu pas-pasan macam si Budi, wajar saja jika kemudian muncul pola pikir seperti itu.
Zakat memang sebuah prosesi untuk mensucikan harta dan jiwa pelakunya.
Tapi sebenarnya seluruh harta yang dizakatkan pada hakikatnya pasti akan bersikulasi kepada kita yang melakukannya.
Wah, mana mungkin?
Kok mana mungkin? Itu sudah pasti!
Coba kita bayangkan gambaran sederhana ini.
Jika total potensi zakat yang terkumpul di negeri ini sebesar 8 trilyun rupiah dan realisasinya hanya sebesar 500 milyar.
Kemudian sebesar 100 milyar digunakan untuk memberikan bantuan modal produktif kepada 100 ribu orang miskin sehingga masing-masing menerima sebesar 1 juta rupiah.
Katakanlah ke 100 ribu penerima zakat tersebut kemudian menjadi penjual gorengan.
Tentu saja mereka memerlukan peralatan seperti gerobak, alat masak, kompor, dsb.
Berarti masing-masing pedagang gorengan tersebut sedikitnya sudah merangsang pertumbuhan usaha dan perekonomian 3 pihak saat memulai usahanya.
Plus setiap hari para pedagang itu memerlukan bahan-bahan pembuatan gorengan seperti minyak goreng, terigu, sayuran, dsb.
Nah, berarti ada 3 pihak juga yang setiap hari terputarkan roda nafkahnya.
Berarti ada 4 pihak yang terputarkan roda nafkahnya dikali 4 orang lagi sebagai anggota keluarga yang ditanggung oleh mereka sehingga totalnya sebanyak 16 orang!
Kalikan jumlah tersebut dengan 100 ribu sehingga ada 1,6 juta orang yang sudah diangkat dari keterpurukan ekonominya setiap hari!
Bayangkan efek domino yang terjadi jika daya beli 1,6 juta orang tersebut meningkat hingga memacu sektor lainnya.
Nah, sebagian kecil harta si Budi ternyata kembali secara berlipat-lipat kepada dia bukan?
Dengan bertumbuhnya setiap sektor ekonomi maka secara otomatis taraf kehidupan pun meningkat yang berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan serta pemerataan distribusi kekayaan.
Maka bayangkan apa yang terjadi jika benar-benar 8 trilyun rupiah setiap tahunnya berputar di negeri ini.
Jadi, masihkah si Budi berfikir bahwa zakat hanya sekedar “buang sial”?
Yang bener aja Bud..
Popularity: 97% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Catatan Kecil Rakernas Rumah Zakat 2010
- Haahhh.. Kamu Nggak Bisa Bayar Qurban?
- Kompetisi Antar Lembaga Amil Zakat
- Waduh… THR Kok Diributin
- Maulid Nabi.. Kok Cuma Jadi Libur Nasional?
- Cuma Teori: “Pengembangan Diri dan Motivasi”
- Haruskah Menjadi Wirausahawan?
- Neo NATO… No Action Think Only..
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- Alhamdulillah.. Mulai Belajar Jadi Social Entrepreneur
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”
- Dukun Kode Buntut dan Konsultan Akselerasi Kekayaan

inspiring…
makasih mas artikelnya. saya masih berpikir seperti budi.
Tapi setelah membaca ini Insya allah saya nggak seperti budi
@ farida:
Terima kasih Ibu Farida.
Semoga bermanfaat inspirasinya.