Ibu adalah sosok wanita yang selalu saya kagumi dan tentu saja saya hormati.
Apapun latar belakangnya, mereka adalah sosok yang tidak pernah bisa membuat saya berhenti meluruhkan hati bertakzim kepadanya.
Mereka adalah sosok-sosok yang luar biasa.
Sehingga seringkali saya merasakan sedikit kecumburuan yang mungkin bisa mengundang protes walaupun hanya dalam hati.
Bayangkan, jika ada seorang ibu yang hebat dalam berkarya di luar rumah dan penuh cinta mengurus keluarganya maka orang-orang akan menyebutnya “superwoman” atau “supermom” dengan kekaguman yang luar biasa.
Sedangkan jika ada seorang ayah yang hebat bekerja keras menafkahi keluarganya dan ikut berbagi cinta mengurus keluarganya maka orang-orang akan menyebutnya “naah.. gitu dong jadi laki-laki.. jangan cuma mau dilayani..”
Atau dengan kata lain, tidak pernah ada yang dipanggil sebagai “superman” atau “superdad”.
Kecuali mungkin kita kaum lelaki rela kemana-mana mengenakan celana dalam di luar dan menyampirkan jubah berkibar di bahu, hahaha..
Kalau yang seperti ini sih.. sudah saya lakukan waktu kecil dulu hingga akhirnya menghentikan hobi ini demi memenuhi kriteria sebagai laki-laki dewasa.
Namun kecemburuan akan status “supergender” ini akhirnya hilang ditelan sebuah dorongan kesadaran.
Maksudnya?
Ya, kesadaran bahwa ternyata sehebat apapun saya dan kita sebagai laki-laki selalu memerlukan pendamping seorang wanita hebat.
Atau yang lebih ekstrim lagi.. selalu memerlukan seorang wanita untuk melahirkan kita ke dunia.
Walaupun kerapkali saya yang sudah kepalang dilahirkan ke dunia ini akhirnya membawa kemalangan bagi ibunda tercinta.
Anehnya, semalang apapun akibat polah saya kepada beliau, sederet doa yang tak terhingga selalu dipanjatkan dengan ikhlas bagi sang anak tak tahu adat ini.
Kemudian bertambahlah seorang wanita lagi yang harus menerima kemalangan berbagi kehidupan dengan saya.
Ya.. seorang wanita yang sekarang menjadi ibu dari anak-anak kami.
Wanita yang menitahkan anak-anak kami untuk memanggilnya “bunda”, hehehe..
Wanita yang sudah kepalang membeli kucing dalam karung namun ternyata isinya adalah “kucing garong angora”.
Wanita yang masih tetap ikhlas menemani saya berpayah-payah menjalani hidup.
Wanita yang… (silahkan Anda isi sendiri sesuai citra kemalangan beliau semenjak menikahi saya.. hihihi..)
Hufffhh..
Semakin sulit saja saya menggambarkan kekaguman dan penghormatan kepada para ibu.
Tidak akan pernah cukup penghargaan apapun didedikasikan kepada mereka.
Walaupun sebuah tanggal dalam satu tahun kalender dipersembahkan demi menghormati para ibu di negeri ini.
I love you mom(s)..
Tulisan ini dedikasikan untuk para ibu dimanapun dan kapanpun.
Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2008!
NB:
Dimohon dengan sangat tidak tersebarnya gosip picisan.
Beneran.. mom(s) di sini maksudnya ibu saya, ibu mertua saya dan isteri saya tercinta.
Isteri yaa.. dalam bentuk tunggal.. bukan jamak
Topik yang mungkin Terkait:
- Akankah Saya Masuk Syurga?
- Apakah Kriteria Suksesmu?
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru
- Cuma Teori: “Pengembangan Diri dan Motivasi”
- Apa Resolusi Saya di 2008?
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- Get Your Soulmate
- Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
- Pria Tangguhkah Kamu?
- Kerikil dan Hati
- Masihkah Ada Alasan untuk TIDAK Berkurban?
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Hikmah di Balik Humor
- Iblis Memang Luar Biasa Dahsyat!
- Tangkap Mimpimu! (Inspired by GOAL! The Dream Begins)




thank you (^_^)
ASW…
hehehehe..
Siip lah Kang Aries…ternyata “kucing Garong” juga gaduh perasaan sentimentil nya,
Inti na mah : Selamat Hari Ibu dehh, buat para Ibu di dunia ini.. Inga..Inga..Pepatah mengatakan “Surga di bawah telapak kaki Ibu”
berlebihan ngga kalo kita mencintai ibu kita, layaknya kita mencintai syurga..??
gak berlebihan kan kalo kita mencintai bunda layaknya kita mencintai surga..
Tulisan sedikit, sederhana tapi mengena. Itu yang saya rasakan.
Ijin share di facebook saya.
Semoga Allah SWT memberkahi Bapak dan keluarga.