Banyak sekali sahabat saya yang marah besar karena banyaknya hujatan, hinaan dan fitnah yang diarahkan kepada Islam terutama Nabi Muhammad SAW.
Saat mereka menanyakan bagaimana “perasaan” saya, tentu saja saya pun merasakan hal yang sama.
Tapi saat saya balik bertanya bagaimana “sikap” mereka, jawabannya bermacam-macam.
Ada yang menghujat balik, memaki balik, akan melakukan aksi pembalasan, dsb.
Anehnya, TIDAK ADA satupun yang memiliki tekad untuk melakukan aksi untuk semakin dalam menerapkan seluruh keteladanan Rosululloh SAW sehingga keagungan dan keindahan Islam dapat diwujudkan secara nyata.
Entahlah.. secara pribadi saya seringkali merasa malu kepada Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Saya seringkali marah kepada setiap pihak yang menghujat dan merendahkan-Nya dan utusan-Nya.
Tapi saya sendiri disadari atau tidak, seringkali menghujat dan merendahkan secara langsung maupun tidak langsung.
Bagaimana tidak.
Saya mengaku menjunjung tinggi beliau dan mengabdi kepada-Nya.
Tapi banyak sekali ajaran-ajaran dalam al-Qur’an dan teladan-teladan dalam hadits yang saya perkosa demi kepentingan pribadi atau ditinggalkan karena dianggap merugikan.
Bukankah itu lebih merendahkan sekaligus menginjak-injak?
Selain itu, sebenarnya saya marah karena ingin dianggap menjunjung tinggi Nabi Muhammad SAW dan beriman kepada Alloh SWT atau benar-benar didorong kecintaan saya kepada-Nya dan rosul-Nya?
Padahal Alloh SWT sudah diingkari semenjak manusia durhaka pertama muncul di muka bumi ini.
Padahal Nabi Muhammad SAW sudah direndahkan semenjak menyebarkan risalah Alloh SWT di muka bumi ini.
Tapi beliau tidak bergeming.
Kemuliaan beliau tidak berkurang sedikit pun karena segala hinaan dan perlakuan yang merendahkan martabat tersebut.
Para pengikut setia beliau pun lebih fokus dalam mengkoreksi diri mereka sendiri dan mewujudkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pedang mereka terangkat bukan karena harga diri mereka diinjak-injak.
Tapi karena hak hidup mereka sebagai manusia sudah terancam dan harus dipertahankan.
Karena jika sampai keberadaan kaum mereka punah, bukti bahwa Alloh SWT selalu bersama dan melindungi kaum yang mencintai-Nya menjadi teringkari.
Jadi, sebenarnya layakkah saya marah karena ego saya diinjak-injak kemudian memasang topeng kemunafikan?
Topik yang mungkin Terkait:
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Makan Bersama Orang Nonmuslim Haram?
- Masihkah Ada Alasan untuk TIDAK Berkurban?
- Isro Mi’roj: “Sebuah Ujian Besar Keimanan”
- Ruku’ – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (5)
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Tasyahhud Akhir – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (10)
- Alloh SWT Tidak Adil Kepada Iblis?
- Saya TIDAK Terima Bangsa Ini Dihina oleh Yth. Bapak Jusuf Kalla
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Kok AKKBB Nggak Membela Bupati Simon Hayon?
- Maulid Nabi.. Kok Cuma Jadi Libur Nasional?
- Seandainya Saya yang Isro Mi’roj (pasti nggak mau balik lagi ke dunia..)
- Berita Basi: Ribut-Ribut IPDN (Kok Akabri Nggak Pernah Ribut yaa??)


