Dalam sebuah acara seminar di Jakarta beberapa waktu lalu Wapres Jusuf Kalla memberikan pernyataan bahwa calon independen kepala pemerintahan akan lebih mahal mengeluarkan biaya untuk ongkos pencalonannya.
Pernyataan itu disampaikan dengan penuh keyakinan berdasarkan informasi dari Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang menurut beliau mengeluarkan biaya hingga 25 milyar rupiah hanya untuk mendapatkan KTP para pendukungnya sebagai calon independen.
Informasi yang sebenarnya bagi saya dan mungkin bagi banyak orang di negara ini tidak terlalu mencengangkan. Karena sudah menjadi rahasia umum jika setiap pasangan calon kepala pemerintahan di negeri ini harus selalu menyetor sejumlah dana kepada partai politik supaya mau mendukung mereka.
Sebenarnya yang menyesakkan dada saya adalah pernyataan tersebut seolah-olah bahwa seluruh warga bangsa Indonesia harus disuap untuk memberikan dukungan kepada calon-calon tertentu.
Atau dengan kata lain daripada nyogok rakyat secara langsung, lebih baik nyogok para petinggi partai politik saja
Tentu saja saya tidak terima dan menganggap hal tersebut adalah penghinaan terhadap Bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin seorang negarawan berani mengeluarkan pernyataan bahwa ada anak buahnya yang jadi pemimpin (seorang gubernur) dengan menyogok 25 milyar rupiah demi mendapatkan foto-copy KTP.
Ironis? Tentu saja..
Ironis karena dalam beberapa hari ini kita mendapatkan berita yang menggembirakan tentang para korban lumpur Lapindo yang mengembalikan kelebihan uang ganti rugi yang mereka terima.
Sungguh fantastik karena dalam kondisi yang begitu menderita mereka masih mau mendengarkan hati nuraninya. Mengembalikan uang senilai 400 juta rupiah dalam kondisi ekonomi yang carut-marut tentu bukan hal gampang bagi banyak orang (terlebih para koruptor).
Berita itu seharusnya menjadi tamparan keras bagi para koruptor yang begitu bangganya dengan jabatan dan harta yang luar biasa haram itu.
Saya tidak terima jika seorang semulia Pak Waras di Sidoarjo yang sedemikian jujurnya mengembalikan kelebihan uang ganti rugi sebesar 400 juta rupiah disamakan dengan para koruptor bajingan pengecut yang berlindung di balik topeng jabatan dan kekuasaan serta mengatasnamakan rakyat.
Seolah-olah sudah tidak mungkin lagi seorang calon independen melaju ke ajang pemilihan tanpa dukungan tulus para pendukungnya. Dukungan yang diberikan karena mereka menginginkan amanah hati nurani rakyat tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan integritas yang tinggi.
YA, sangat marah dan tidak terima bangsa ini dihina..
Popularity: 3% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- Terima kasih Om Bill!
- Kedaulatan Ada di Tangan Parpol
- Emang Saya Ini Luar Biasa Dahsyat.. Huahahaha..!!
- Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Hidup Ini Memang Tidak Adil
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Bolehkah Saya Beristri Lagi?
- Tidak Selamanya Inflasi itu Buruk dan Deflasi itu Baik
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Surat Terbuka untuk Yang Mulia Para Petinggi Negeri
- Buruh Bisa Saya Ganti Pake Robot & Mesin!
- Saya Anti Microsoft?
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)

Pak Setiabudi, tulisannya buagus tapi saya merasa agak kurang nyaman karena lagi ayik mbaca disuruh ngeklik kalo ingin melanjutkan. Usul saya sih tiap tulisan diselesaikan saja di halaman tsb.
Oya, usul lagi nih, pakai shoutbox dong pak biar lebih gampang kalo pingin kasih komentar. Matur nuwun…
Pak Abduh,
Sengaja dibuat terpotong supaya tidak berat waktu loadingnya.
Mengingat masih mahalnya bandwidth berkualitas di negeri ini
Shoutbox juga sengaja tidak saya pasang karena alasan keamanan dan memperingan waktu loading page-nya.
Sebaiknya kepada para tamu blog ini menyampaikan pesannya via fasilitas per posting-nya.
Supaya bisa dipilah dulu pesan-pesannya.
Mungkin ada yang bersifat pribadi atau dikhawatirkan menyinggung pihak lain jadi tidak perlu ditampilkan di public-page.
Terima kasih.
ya ***** ***** emang bajingan