Teriak Jang Tia kepada kerumunan warga yang sedang asyik ngumpul-ngumpul menikmati suasana sore yang menentramkan.
“Ah, jangan begitu Jang.. Menghina itu tidak baik,” sergah Mang Iyus sambil menyeruput kopi panasnya.
“Emang kunaon (kenapa) kamu teriak-teriak begitu,” tambah Aki Hari sambil mencomot sepotong pisang goreng yang baru disediakan Uwak Ami.
“Itu dasar pada nggak punya perikemanusiaan. Masa orang Indonesia dipukuli sama polisi-polisi Malaysia cuma gara-gara nggak bisa nunjukin passport,” jawab Jang Tia sambil ikut-ikutan mencomot sepotong pisang goreng juga.
“Tapi kan itu sudah ditangani sama pemerintah masing-masing. Sampai-sampai Menlu Malaysia wae datang kesini,” kata Mang Budi sambil membalik halaman korannya.
“Gimana juga itu sudah menghina harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang berdaulat!” tegas Jang Tia dengan semangat juang yang tinggi.
“Terus kita mau ngapain? Ngajak perang? Embargo ekonomi? Memutuskan hubungan diplomatik? Balas mukulin orang-orang Malaysia di Indonesia dengan aksi sweeping? Repot amat sih,” tanya Mang Iyus.
“Harusnya begitu Mang. Masa kita dihina dan diinjak-injak martabatnya diam saja. Pemerintah macam apa itu,” jawab Jang Tia masih dengan semangat empat-limanya.
“Emang kalau terus Pemerintah ngajak perang sama Malaysia kamu siap dikirim kesana? Terus kemampuan ekonomi negara kita apa sudah siap ngasih duit buat perang? Emang perang nggak perlu duit?” tanya Aki Hari.
“Terus kalau TKI distop kirim ke Malaysia, apa Pemerintah bisa nyediakan lapangan pekerjaan yang memadai?” tambah Mang Iyus.
“Kalau hubungan diplomatik diputusin emang kita udah kaya raya sampai nggak perlu punya teman baik kayak Amerika gitu?” imbuh Aki Hari lagi.
“Terus kalau kita balas mukulin bukannya kita jadi sama saja biadabnya sama mereka?” tanya Uwak Ami sambil duduk bersimpuh di samping Aki Hari.
“Emmh… yaaa gitu deh..” jawab Jang Tia kebingungan, “Tapi kan harusnya mereka menghormati kita!”
Sambil tersenyum simpul Aki Hari menjawab, “Iya haruslah… tapi kita kan bisa menang tanpa harus menjatuhkan dan pakai cara yang lebih berkelas. Kalau mereka nggak mau minta maaf kan sebenarnya bikin mereka dilecehkan diam-diam sama bangsa lain.”
“Yang pasti kita dan Malaysia itu saling membutuhkan. Di sana pembangunan-pembangunan fisik sangat bergantung sama tenaga buruh dari Indonesia,” tambah Mang Iyus.
“Malah Menteri Pariwisatanya pernah datang ke Padang dan Pekanbaru waktu masalah Ambalat dulu. Gara-gara kasus itu pariwisata di Malaka ambruk. Kan wisatawan terbanyak masih orang-orang Indonesia, terutama dari daerah Sumatera bagian timur sana. Begitu orang-orang Indonesia pada nggak nongol disana, hotel-hotel, rumah sakit sampai ke restoran-restoran pada hancur-hancuran,” jelas Uwak Ami.
“Makanya sesuai kata pepatah, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung. Namanya masuk ke rumah orang berarti harus ngikutin aturan yang punya rumahnya dong,” tambah Aki Hari.
“Kita juga pasti marah kalau banyak orang-orang yang datang ke kampung sini terus nggak pada menghormati adat disini,” tambah Mang Iyus.
“Jadi mestinya kita dong yang harusnya berbenah diri dulu?” tanya Jang Tia.
“Ya iyalah…” jawab yang lain serempak.
Popularity: 3% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Merdeka euy.. (Kata Aki Ucup sih Enakan Jaman Belanda..)
- Ribut-Ribut Gratis ups.. Gratifikasi
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Perang Indonesia VS Malaysia
- Emang Saya Ini Luar Biasa Dahsyat.. Huahahaha..!!
- Hebatnya Pak Harto!
- Luar Biasa.. Majalah Playboy dijual di Kaki5!!
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Pria Tangguhkah Kamu?
- Pilih Durinya atau Dagingnya?
- Apa Resolusi Saya di 2008?
- Profit Oriented VS Berkah Oriented
- Borong Aja Sendiri.. Pasti Orang Penasaran!!
- Makan Bersama Orang Nonmuslim Haram?
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru

10 Komentar Terakhir