Sejarah ibadah qurban yang pertama kali diabadikan oleh Alloh SWT di dalam al-Qur’an yang mencatat mengenai pengorbanan Ibrahim dan Ismail alaihissalaam.
Kisah yang selalu membuat saya merinding.
Bagaimana tidak, sebagai seorang ayah saya tidak dapat membayangkan harus dalam posisi seperti Nabi Ibrahim.
Plus, sebagai seorang anak, saya juga tidak dapat membayangkan harus dalam posisi seperti Nabi Ismail.
Entah apa yang harus saya lakukan jika tiba-tiba harus mengorbankan seorang anak yang (tentu saja) sangat saya cintai hanya karena perintah dari Tuhan yang harus saya junjung tinggi segala perintah-Nya.
Demikian pula sebaliknya, sebagai seorang anak kemungkinan besar saya akan melawan perkataan ayah saya yang akan “mengorbankan” saya demi melaksanakan perintah Alloh SWT.
Tapi kedua manusia luar biasa itu tidak melakukan hal-hal yang pasti saya lakukan sebagai manusia biasa ini.
Tanpa banyak bertanya atas perintah Alloh SWT itu beliau-beliau melaksanakannya dengan ikhlas.
Walaupun akhirnya Alloh SWT menarik perintah tersebut dan menggantinya dengan hewan yang dijadikan kurban dan momen tersebut menjadi awal pelaksanaan ibadah haji hingga saat ini.
Selama ini kita sering salah-kaprah mengenai ibadah qurban ini.
Hanya karena hukumnya sunnah maka seolah-olah ibadah ini bisa dilewatkan begitu saja dengan berbagai alasan.
Dari mulai harus melunasi hutang, banyak keperluan yang mendesak, menabung dan alasan-alasan yang sebenarnya seringkali dijadikan semacam “pembenaran” dari ketidakpedulian kita atas ibadah “sunnah” tersebut.
Memang hal tersebut tidak dapat disalahkan begitu saja.
Pemahaman atas esensi dari ibadah qurban ini hampir tidak pernah dibahas sejak kita mengenyam pendidikan Islam dari usia dini.
Bahkan dari segi kebahasaan, qurban ditranslasikan sebagai korban alias yang dirugikan atau dibuang karena dianggap tidak penting.
Padahal terminologi qurban berangkat dari istilah qorib yang berarti dekat/intim.
Sehingga sebenarnya qurban adalah sebuah prosesi untuk semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
“Bukan daging dan bukan pula darah hewan kurban yang diterima Allah, tetapi takwa dari kamu.”(Al-Hajj: 37).
Jelas sekali bukan?
Alloh SWT sendiri yang menegaskan bahwa hewan qurban hanyalah sebuah simbol dari ketakwaan kita kepada-Nya.
Dimana ketundukpatuhan kita tanpa syarat apapun kepada Alloh SWT adalah sebuah perwujudan ketakwaan kepada Alloh SWT.
Jika seorang Nabi Ibrahim ikhlas mengurbankan puteranya dan Nabi Ismail ikhlas mengurbankan dirinya sebagai wujud ketakwaan mereka kepada Alloh SWT maka masih pantaskah kita mengaku bertakwa kepada-Nya saat membuat segala alasan untuk tidak berqurban?
Berqurban dengan sedikit harta yang dititipkan oleh Alloh SWT kepada kita?
Berqurban demi semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT?
Atau masih layakkah kita menganggap diri ini beradab saat saudara-saudara kita di Palestina dengan ikhlas tetap berkurban di tengah segala kesulitan harta di bawah penindasan ekonomi Israel?
Sedangkan kita disini masih bisa tidur nyenyak dan bersenang-senang dalam kedamaian yang diberikan oleh Alloh SWT.. dengan gratis..
Topik yang mungkin Terkait:
- Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)
- Qurban, Perayaan Multi-Dimensional
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Haahhh.. Kamu Nggak Bisa Bayar Qurban?
- Konsepsi Ikhlas (Menurut Santri Ngawur)
- Romadhon… Sekedar Ajang Menabung Pahala? (Demi Menebus Dosa Sepanjang Tahun)
- Alloh SWT Tidak Adil Kepada Iblis?
- Kemuliaan Beliau TIDAK Akan Pernah Berkurang!
- Siap Menghadapi Sesuatu yang Tidak Siap Kita Hadapi
- Seandainya Saya yang Isro Mi’roj (pasti nggak mau balik lagi ke dunia..)
- Thoharoh – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (1)
- Masihkah Pembeli adalah Raja?
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Surat Terbuka untuk Yang Mulia Para Petinggi Negeri
- Main Game Tidak Produktif?




Saya juga terkadang menitikkan air mata membayangkan Nabi Ibrahim memegang pisau dan di hadapannya adalah seorang anak yang ia dambakan.
tfs, Mas
astagfirullah….seharusnya kita bs menyisihkan uang sedikit demi sedikit setiap bln,,dianiatkan utk berkurban. tp sy blm melakukan itu.
trimakasih sudah diingatkan, insyaAllah setelah ini sy akan menyisihkan uang utk berkurban..smoga msh ada kesempatan. amin.