Arsip Postingan

Blog yang Setiap Hari Saya Kunjungi

    Berikut ini adalah daftar blog yang ditangkap oleh feed agregator blog ini dari sekitar 500 blog yang menarik saya.

    Daftar ini hanya menampilkan blog yang memiliki posting sesuai dengan tanggal hari ini dan dimutakhirkan setiap 30 menit.

    Selamat menikmati tulisan-tulisan menarik dari daftar berikut:

Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)

Beberapa teman mempertanyakan alasan saya tidak suka mengikuti seminar. Padahal saya sudah beberapa kali menjadi pembicara di beberapa seminar :grin:

Saya pun menjelaskan bahwa jika yang dimaksud dengan seminar adalah mengumpulkan orang-orang untuk kemudian didoktrin mengenai hal-hal tertentu oleh pemakalahnya tentu saja saya tidak setuju.

Dalam sebuah seminar seharusnya terjadi diskusi dalam dialog yang aktif diantara para partisipannya.

Kata seminar merupakan derivatif dari kata Bahasa Latin seminarium yang padanan kata dalam Bahasa Indonesia kira-kira adalah jalur penaburan benih atau dalam Bahasa Inggris adalah seed plot.

Dalam sejarahnya seminar merupakan adaptasi dari Socrates Dialogue yang menjadi panduan dalam etika penyampaian pendapat secara filosofis.

Kegiatan seminar sendiri dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi sebagai bagian dari aktivitas studi yang dilaksanakan dalam kelompok diskusi beranggotakan sedikit orang dengan kualifikasi memadai (bukan pemula) dalam topik yang akan didiskusikan.

Jadi kalau kegiatan seminar yang ada sekarang tentunya sedikit banyak mengalami pergeseran obyektif dari asalnya.

Seminar-seminar sekarang lebih cenderung sebagai ajang penyampaian wacana oleh para pembicara yang kemudian dimintai penjelasannya lebih lanjut melalui beberapa sesi diskusi/tanya jawab dengan para penyimak.

Semacam bentuk baru indoktrinisasi?

Kalau menurut pendapat saya sih YA dan saya adalah penentang indoktrinisasi dalam bentuk apapun.

Sang Maha Pencipta yang menciptakan dan memelihara kita saja tidak pernah memaksa kita untuk menjalankan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan dari-Nya.

Tapi kita dituntut bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Bertanggung jawab secara internal dengan diri kita sendiri, lingkungan sekitar dan Dia Yang Maha Esa.

Kerusakan lingkungan yang disebabkan buruknya pilihan kita hingga merugikan banyak pihak harus kita pertanggungjawabkan.

Pengingkaran kita atas-Nya akan dibalas oleh siksaan di hari pembalasan nanti.

Jadi sungguh sangat menggelikan jika kita sampai harus membayar demi memperoleh sebuah proses indoktrinisasi.

Bahkan lebih menggelikan lagi jika kemudian ada yang berdalih demi mendapatkan ilmu dan wawasan. Ilmu dan wawasan memang bisa didapatkan melalui proses indoktrinisasi tapi harus diimbangi dengan kemampuan menyeimbangkannya dengan eksplorasi berfikir yang lebih menyeluruh.

Sebuah informasi dari proses indoktrinisasi memang bisa mengguncang keseluruhan nalar dan mental kita. Tugas kita jugalah secara nalar dan mental melakukan pengadaptasian atas hal tersebut.

Proses adaptasi akan menjadi etis jika melibatkan diskusi intensif melibatkan banyak sumber sebagai masukan bagi kita.

Ironisnya pernah saya alami waktu mencoba mengubah format seminar pada saat menjadi pembicaranya.

Dengan santainya saya meminta hadirin memberikan pertanyaan, masukan dan pendapat apapun mengenai topik yang dibahas tanpa harus melibatkan makalah yang disusun sebelumnya.

Alhamdulillah seminar berjalan dengan dinamis dan seluruh peserta terlibat aktif sehingga pada akhirnya saya sebagai pembicara jadi satu tingkat diskusi dengan mereka. Bukan sebagai pendoktrin yang memberikan materi kemudian memberikan penjelasan atas hal tersebut.

Ironi terjadi ketika panitia menegur saya atas perubahan format tersebut dan pada akhirnya sampai sekarang saya tidak pernah lagi diundang oleh mereka (padahal setiap tahun selalu diundang :lol: )

Jadi cukup jelas kan mengapa saya tidak suka seminar?

Tapi kalau diskusi dan riset yang dinamis dan eksploratif plus dilakukan dalam kesetaraan posisi adalah kegiatan favorit saya.

Popularity: 3% [?]

Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed

Topik yang mungkin Terkait:

  1. Masihkah Ada Alasan untuk TIDAK Berkurban?
  2. Mengapa Saya Lebih Memilih Menjadi Wirausahawan
  3. Saya Jadi Mentor Wirausaha? Aya-Aya Wae..
  4. Mengapa Saya dan Teman-Teman Berbisnis di Bidang Teknologi Informasi
  5. Mengapa Tidak Ada Harga Standar Pembangunan Software Komputer?
  6. Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
  7. Saya TIDAK Terima Bangsa Ini Dihina oleh Yth. Bapak Jusuf Kalla
  8. Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)
  9. Tinjauan Beberapa Pemimpin Produk ERP (Enterprise Resources Planning)
  10. Mengapa Sejarah Itu Penting?
  11. Main Game Tidak Produktif?
  12. Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
  13. Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
  14. Syukurlah.. Saya (Sekarang) Bosan Nonton TV
  15. Alhamdulillah.. Mulai Belajar Jadi Social Entrepreneur

4 comments to Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)

  • mia

    Salam kenal, Mas Aries.. Saya cukup kagum membaca pemikiran Anda mengenai diskusi yang setara dalam seminar. Saya pun cukup sependapat. Saya pernah membawakan pelatihan untuk anak-anak OSIS, dan memang terasa bahwa materi yang saya berikan jadi seperti mendoktrin. Mungkin, apabila lebih banyak fasilitator dan pembicara yang mengajak pesertanya berpendapat, proses belajar akan lebih optimal karena banyaknya wawasan baru dalam sebuah seminar. Pertanyaan saya, seminar apakah yang pernah Anda bawakan? Lalu, bagaimana mengatasi situasi ketika peserta tidak ingin menuangkan pikiran2nya ? terima kasih

  • @ mia:

    Halo Ibu Mia,

    Selama ini seminar yang pernah saya bawakan terkait dengan IT, pengembangan diri dan kewirausahaan untuk pemula.

    Biasanya saya meminta peserta menuliskan pikirannya bersama-sama.

    Kemudian saya akan memilih secara acak jika waktu tidak memungkinkan dari sekian banyak tulisan tersebut.

    Nah, kondisi tersebut biasanya yang mendorong para peserta kemudian menjadi aktif untuk berdiskusi.

    Semoga bermanfaat.

  • Kami sedang bergiat dalam kegiatan pelatihan, karena itu wahananya kami beri nama LPK Indomapan. Nama itu kependekan dari Lembaga Pelatihan Kerja Idonesia Masa Depan. Pemilihan nama itu adalah dengan harapan bahwa setiap insan yang berkesempatan mengenyam pelatihan disitu Insya Allah akan diperciki dengan sedikit pesan agar menjadi warga Indonesia masa depan. Warga Indonesia masa depan itu salah satu cirinya adalah anti terhadap penyelewengan. Hal itu tercermin dalam tujuan LPK Indomapan yang berbunyi antara lain: ” ….untuk mendidik, melatih dan membina tenaga terampil serta tenaga profesional yang spesialis dibidangnya, yang selalu bekerja dengan penuh tanggung jawab, semangat tinggi, pro-aktif, jujur dan anti terhadap perbuatan yang mengarah kepada penyelewengan”.

    Mas Setiabudi dan kolega yang lain apabila masih punya waktu luang, melalui kesempatan ini kami undang untuk ikut berkontribusi dalam memberikan sentuhan agar warga Indonesia masa depan benar-benar terwujud secara signifikan melalui pelatihan-pelatihan kerja di LPK Indomapan.

    Salam,
    erisman s

  • @ Erisman Syarifoeddin:

    Salam Pak Erisman,

    Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami.

    Insya Alloh jika memang dibutuhkan kami siap membantu.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>