Industri kreatif saat ini sedang menjadi primadona para pelaku usaha di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Banyak bukti suksesnya industri kreatif yang relatif hanya bermodalkan “otak” dengan sumber daya seminimal mungkin tetapi mampu mengumpulkan kapitalisasi yang luar biasa dibandingkan jenis industri yang padat modal dan sumber daya.
Sebagai contoh, Microsoft Corp mampu menjadi perusahaan terbesar dan terkaya di dunia dengan aset dan jumlah sumber daya yang relatif kecil dibandingkan dengan sebuah perusahaan eksplorasi minyak sekelas Exxon.
Belum lagi contoh-contoh sukses lainnya seperti Google, Oracle atau di skala nasional ada Sudarpo Informatika, Zahir Accounting, Andal Software, dsb.
Dari sekian banyak industri kreatif yang ada, seluruhnya mencirikan satu hal yang sama “otak adalah aset utama”.
Maksudnya?
Ya.. aset utama dari industri kreatif adalah “brainware” dari para pelaku di dalam perusahaan tersebut.
Brainware alias perangkat benak ini lah yang menjadi kunci sukses sebuah industri kreatif.
Tentu saja dukungan modal dan manajemen yang memadai merupakan elemen yang sangat penting tetapi sering dilupakan para pelaku industri kreatif.
Namun kekuatan utama untuk bertahan di dalam sebuah industri kreatif adalah aset berupa para konseptor, kreator dan inovator dari mulai lini top manajemen hingga pegawai yunior.
Maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika sampai terjadi eksodus para pegawai di bidang industri kreatif dari sebuah perusahaan.
Eksodus mereka tentunya sangat merugikan perusahaan yang ditinggalkan karena “aset utama” yang ada di dalam otak masing-masing pegawai juga ikut dibawa.
Karena itu upaya untuk menjaga loyalitas para pegawai maupun manajemen puncak adalah sebuah hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi bagi perusahaan di bidang industri kreatif.
Berbagai cara digunakan untuk “mengikat” para personil strategis tersebut.
Mulai dari gaji yang tinggi, fasilitas yang melimpah, bonus yang menggiurkan hingga memperoleh porsi saham perusahaan.
Tapi seringkali yang dilupakan oleh para pemilik perusahaan itu adalah “kebutuhan dasar” mereka sebagai manusia kreatif dan inovatif.
Bagi mereka kebutuhan diapresiasi dengan layak atas karya-karyanya hingga kebebasan mengeksplorasi segala sumber daya serta suasana kerja yang kondusif adalah lebih penting daripada hal-hal tersebut di atas.
Popularity: 8% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Tips Metode Selalu Menjadi Kreatif
- Sebenarnya Apa Sih ERP Itu? Plus Apa Manfaatnya?
- 5 Elemen Kunci Internal Control
- Posisi Penting Seorang CIO
- Belajar dari Model Bisnis Nokia
- Perbandingan Fokus Internal Control antara CoBIT, eSAC dan COSO
- Anggaran TI (Information Technology Budgeting) Bagian II
- Dagang Ayam Goreng Aja Pake IT!
- Perbedaan CIO dan CTO
- Pentingnya Menetapkan Visi dan Misi Bisnis Anda
- Penerapan IT Management Tools di Indonesia
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- Apakah Manfaat Sistem Informasi Bagi Bisnis Anda?
- Lima Tips dalam Penyusunan Anggaran TI yang Baik
- Kuasai Informasi untuk Kuasai Dunia!

Bagi mereka “kebutuhan diapresiasi dengan layak atas karya-karyanya hingga kebebasan mengeksplorasi segala sumber daya serta suasana kerja yang kondusif” adalah lebih penting daripada hal-hal tersebut di atas
apaan tuh bos ? : gak begitu jelas nih,… bisa lebih terbuka berikut contoh contoh nya, agar lebih brmanfaat ilmunya,..thanx
1. diapresiasi tuh gimana ? apakah dengan dipuji, dibuat seminarnya, dicantumkan pembuatnya or bgmn ?
2.kebebasan ekplorasi tuh bgmn ? apakah boleh seenaknya jam kerja, atau bgmn ?
3. suasana kerja yg kondusif tuh bgmn ?
ada angelina sondakh ? ada es kelapa muda tiap hari ? or bgmn ?
trims bos atas sharing nya
@ sutatosa:
Halo Pak,
Pada dasarnya, setiap manusia apapun latar belakangnya ingin sebuah “pengakuan”.
“Pengakuan” ini tentu saja terkait dengan penghargaan atas karya dan keberadaan mereka.
Contoh apresiasi yang mungkin terlihat sepele tapi sangat berharga adalah ucapan terima kasih atas dedikasi mereka hingga menghasilkan prestasi kerja yang baik.
Atau seperti mengakui karya mereka di publik.
Hal yang sangat jarang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di kita.
Padahal jika melihat salah satu contohnya Adobe, kita akan melihat saat loading produk aplikasi softwarenya selalu muncul daftar anggota tim yang terlibat mengembangkannya.
Inti dari eksplorasi adalah mengembangkan ide-ide yang ada dalam benaknya.
Selama ini dalam banyak kasus, demi alasan standardisasi, banyak perusahaan mengekang hal tersebut.
Hingga akhirnya karyawan diperlakukan hanya sebagai “mesin” dari kebijakan perusahaan.
Angelina Sondakh mungkin saja bisa menjadi “penyegar” suasana di kantor hingga menginspirasi banyaknya ide
Suasana kerja yang kondusif tentu saja bermula dari kebersamaan di lingkungan internal anggota tim itu sendiri.
Tanpa “spirit” yang sama maka tentu saja agak sulit menyatukan langkah dan menciptakan suasana kondusif di lingkungan kerja.
Spirit kebersamaan dalam visi dan misi itulah yang harus dikembangkan secara bersama-sama sehingga akhirnya masing-masing anggota tim merasa menjadi bagian di dalamnya.
Sama-sama Pak, semoga bermanfaat.