Setiap saya memperingati Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW, lamunan langsung membayangkan kejadian spektakuler itu.
Pikiran saya langsung membayangkan dahsyatnya dampak dari perjalanan tersebut pada mentalitas pribadi.
Coba bayangkan, mengimami sholat para nabi di Masjid al-Aqsho, melihat langsung surga dan neraka plus bonus yang tidak pernah dialami manusia lain: “bertemu langsung dengan Alloh SWT di singgasana-Nya”!
Benar apa yang disampaikan oleh pujangga Iqbal bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia luar biasa. Sudah melihat syurga tapi masih lebih memilih kembali ke dunia demi sekedar menyampaikan dan menegakkan kebenaran. Subhanalloh..
Sikap jiwa yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri itulah yang selalu menjadi pendorong bagi saya untuk terus-menerus meningkatkan kapasitas diri.
Harapan saya dengan meningkatkan kapasitas diri tiada henti maka kedua tangan ini selalu berada di atas tangan orang lain.
Untuk selalu bisa memberi pada orang lain tentunya kita harus memiliki kapasitas diri yang memadai dan selalu ditingkatkan terus-menerus. Meningkatkan kapasitas diri tersebut tentunya memerlukan aktivitas belajar yang terus-menerus tiada henti.
Sehingga sangatlah wajar jika ayat pertama yang diwahyukan oleh Alloh SWT adalah perintah “Bacalah” bukan “Sembahlah” atau perintah-perintah lainnya.
Hal tersebut memiliki arti yang mendalam bahwa kita hanya dapat beribadah jika kita memiliki ilmunya. Dimana makna ibadah dalam konteks Islam memiliki arti dan dimensi yang sangat luas serta beragam.
Sehingga sangatlah wajar jika perintah sholat fardhu dititahkan langsung oleh Alloh SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada saat mi’roj. Hal tersebut sebagai penekanan atas tingginya kepentingan dan manfaat sholat bagi muslimin wal muslimat sampai-sampai Alloh SWT mengundang langsung Nabi Muhammad SAW ke singgasana-Nya.
Melihat beban tanggung jawab yang harus disampaikannya kepada umat manusia tersebut maka Nabi Muhammad SAW lebih memilih kembali ke dunia dan menyampaikan kabar gembira tersebut.
Untung saja bukan saya yang menerima hidayah luar biasa itu. Jangankan saya yang manusia setengah sadar ini, manusia sekelas Nabi Idris AS saja saat menengok syurga lebih memilih untuk bertahan dan menetap disana
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu..”
Popularity: 5% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Isro Mi’roj: “Sebuah Ujian Besar Keimanan”
- Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)
- Bolehkah Saya Beristri Lagi?
- Pola Tidur Sehat dan Fenomena di Balik Kedasyatan Sholat Malam
- Hikmah di Balik Humor
- Bisakah Kita Ubah Dunia?
- Haahhh.. Kamu Nggak Bisa Bayar Qurban?
- Tasyahhud Akhir – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (10)
- Thoharoh – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (1)
- Kok AKKBB Nggak Membela Bupati Simon Hayon?
- Ingin Sukses? Sholatlah!
- Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
- Lagi-Lagi Bus Transjakarta Terbakar!!!
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Di Atas Langit Masih Ada Langit..

So pasti aq g mo balik lagi ke Dunia, kan enak di san cz semua serba ada.
Nabi itu kan sayang pada umatnya ya pulang lagi tdk mau tetap di sana
samma’