Arsip Postingan

Blog yang Setiap Hari Saya Kunjungi

Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)

Banyak teman dan orang bertanya pada saya tentang bagaimana dan siapa saja para mentor plus panutan dalam menjalankan bisnis yang dijalankan sekarang.

Dengan penuh rasa hormat saya pun menyebutkan nama-nama berikut:

  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Abdurrahman bin Auf
  3. Abu Bakar ash-Sidiq
  4. Pak Triman
  5. Mas Trisno
  6. Kang Darto
  7. Pak Nugraha
  8. Almarhumah Mbah Siyem

Wah, kok nggak ada nama-nama semacam Rhenald Kasali, Robert T. Kiyosaki, Brad Sugar, dsb (maaf kalau ada salah penulisan nama.. habisnya saya nggak begitu ngeh sih sama mereka-mereka).

Apalagi kan bisnis inti saya sekarang di PT. AWAKAMI adalah di bidang teknologi informasi, harusnya ada nama-nama semacam Linus Torvald, Bill Gates, Steven Jobs, dsb..

Maka saya pun menjelaskan dengan suka cita mengenai para mentor dan panutan bisnis saya itu..

  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Dari beliau saya belajar bahwa modal utama dalam berbisnis adalah JUJUR bukan kapital. Komoditas apapun yang kita tawarkan pada pelanggan (baik jasa maupun barang) selalu yang dibeli oleh mereka adalah KEJUJURAN.
    Salah satu hal yang sangat fenomenal dari cara beliau berbisnis adalah transparansi dalam harga dasar dan laba. Beliau dalam menawarkan barang dagangannya selalu menyebutkan harga dasar dan menyerahkan selisih kelebihan nilai sebagai laba kepada keikhlasan pembelinya.
    Hebatnya ternyata dengan cara seperti itu beliau malah mendapatkan laba yang lebih besar daripada cara konvensional (menyembunyikan harga dasar dan selisih nilai sebagai laba)!

  3. Abdurrahman bin Auf
  4. Hal penting dari beliau yang saya teladani adalah saat dipersaudarakan dengan kaum anshor di Madinah.
    Beliau menjadi teladan saya tentang pentingnya menjaga diri dari meminta-minta dan hidup dari belas kasihan orang lain (dalam arti yang seluas-luasnya).
    Pada saat saudara anshor-nya berniat membagi rata kekayaannya dengan beliau, sahabat tersebut malah minta ditunjukkan pasar supaya bisa segera memulai ikhtiar menafkahi diri dan keluarganya secara mandiri.

  5. Abu Bakar ash-Sidiq
  6. Sekalipun seluruh sahabat Rosululloh SAW terkenal sebagai filantropis hebat, beliau adalah contoh yang paling menonjol dalam hal tersebut.
    Dari beliau lah saya mengambil hikmah bahwa kebahagiaan bukan didapatkan dari berapa besar yang bisa kita terima tapi berapa besar yang bisa kita berikan.

  7. Pak Triman
  8. Beliau adalah penjual sayur keliling yang biasa beroperasi di lingkungan rumah saya. Tapi setiap hari Jumat beliau selalu libur berdagang.
    Pada saat saya tanya alasan beliau tidak berdagang pada hari Jumat, jawaban Pak Triman sederhana sekali, “Saya ingin setidaknya seminggu sekali benar-benar mendekatkan diri pada Alloh SWT. Rizki manusia sudah ditentukan kadar dan haknya masing-masing oleh Alloh SWT sejak ditiupkannya ruh dalam dirinya. Tapi ketakwaan dan kedekatan kita dengan Alloh SWT kan tergantung pada kita sendiri mas..”

  9. Mas Trisno
  10. Kalau beliau ini adalah penjual bakso langganan saya waktu SD dulu. Hampir tiap sore saya nongkrong di tendanya sekalipun tidak punya uang atau tidak ingin makan bakso sekalipun.
    Saya senang nongkrong di sana karena tertarik dengan cara Mas Trisno melayani para pelanggannya.
    Bahkan banyak pelanggannya yang datang dari kecamatan-kecamatan lain untuk sekedar makan semangkok bakso disana! (tentunya jangan bayangkan mereka datang dengan mobil seperti di Bandung/Jakarta.. mereka ada yang bela-belain datang jalan kaki :shock: )
    Ternyata kunci utama kesuksesan bisnisnya adalah semangat kekeluargaan yang beliau sebarkan pada para pelanggannya.
    Pada saat ada pelanggan setianya yang sakit, Mas Trisno pasti segera menjenguknya dan membawakan satu rantang bakso produksinya.
    Bayangkan, seorang penjual bakso yang tidak lulus SD sudah memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga loyalitas pelanggan dengan sentuhan pribadi sekaligus mempromosikan produk unggulannya!

  11. Kang Darto
  12. Beliau adalah pedagang swike (katak hijau) di Pasar Baru Bandung. Setiap pagi selepas sholat subuh beliau berangkat dari rumahnya di sekitar Pasirkaliki ke kiosnya dan selalu sudah pulang sebelum waktu sholat zhuhur.
    Saya pernah bertanya kenapa tidak menambah kuantitas penjualannya (yang berarti menambah waktu berjualan) kepada beliau.
    Beliau dengan tegas menjawab, “Setiap bagian dari diri kita sudah ada yang memiliki haknya. Sudah menjadi hak keluarga saya untuk diurus oleh saya sejak ba’da zhuhur sampai ba’da subuh. Yaa.. kalau mengikuti nafsu sih bisa saja seharian saya berdagang di pasar. Tapi apakah dengan begitu saya jadi lebih kaya? Jangan-jangan jadi kaya nggak, keluarga saya jadi berantakan. Setidaknya kalau seperti ini kan saya masih bisa yakin kalau keluarga saya masih terurus dengan baik dan rizki yang menjadi hak kami dari Alloh SWT masih bisa terambil.”

  13. Pak Nugraha
  14. Beliau adalah pengusaha service radiator mobil langganan saya yang biasa mangkal di depan SMK Pembangunan di daerah Leuwigajah – Cimahi.
    Pak Nugraha ini sudah delapan tahun menjalankan bisnisnya dan memiliki banyak pelanggan setia.
    Dari beliau saya banyak mendapatkan tips bagaimana memelihara loyalitas pelanggan dan menjaga kualitas layanan.
    Tidak pernah sedikitpun saya mendengar dari beliau ucapan yang menjelek-jelekkan kompetitornya. Jika kebetulan ada pelanggan baru yang radiatornya rusak karena buruknya pelayanan dari tempat service radiator lainnya, Pak Nugraha hanya menyampaikan kalimat singkat seperti ini, “Pak, kayanya di tempat service yang sebelumnya ada bagian yang terlewat diperbaiki. Insya Alloh nanti saya bantu perbaiki dan saya usahakan tidak ada yang terlewat.”

  15. Almarhumah Mbah Siyem
  16. Beliau adalah penjual nasi pecel langganan saya sejak SD. Hampir setiap pagi saya selalu sarapan nasi pecel buatan beliau. Bahkan jika kebetulan sedang mudik ke Sukomoro, saya selalu menyempatkan sarapan nasi pecel Mbah Siyem.
    Mbah Siyem adalah sosok yang saya kagumi karena sifatnya yang sangat peduli sosial termasuk kepada para kompetitornya.
    Banyak para kompetitornya belajar membuat ramuan sambal pecel kepada beliau.
    “Saya ini orang nggak punya mas.. mbah cuma bisa ngasih ilmu buat orang-orang yang membutuhkan saja.. semoga saja dengan ilmu dari mbah, orang-orang bisa nyari makan dan menafkahi keluarganya,” demikian penjelasan Mbah Siyem kepada saya waktu ditanya apakah beliau tidak akan rugi dengan tindakannya itu.

Wah, panjang juga ya ceritanya.

Jujur saja, saya tidak tertarik mengikuti seminar-seminar tentang bagaimana meningkatkan bisnis saya.

Buku-buku tentang bisnis, manajemen dan pengembangan diri yang saya baca lebih menjadi lawan diskusi bagi saya daripada bahan indoktrinisasi.

Bagi saya, bisnis adalah menolong dan memberikan kebermanfaatan pada orang banyak dan bukan ditujukan untuk mencari untung sebesar-besarnya.

Setidaknya orang-orang yang bekerja bareng-bareng dengan saya bisa disejahterakan dan dikembangkan potensi dirinya menjadi semakin baik.

Namun sebagai seorang Muslim yang diwajibkan untuk memiliki visi dan misi yang jelas dalam hidupnya tentunya dalam menjalankan roda usaha bisnis saya tetap memiliki strategi serta eksekusi yang jelas dong..

Nah, kalau yang ini sebagian jadi rahasia dagang saya tentunya.. :roll:

Popularity: 3% [?]

Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed

Topik yang mungkin Terkait:

  1. Saya Jadi Mentor Wirausaha? Aya-Aya Wae..
  2. Ulasan Buku: Rahasia Bisnis Orang Jepang
  3. Seandainya Saya yang Isro Mi’roj (pasti nggak mau balik lagi ke dunia..)
  4. Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
  5. Surat Terbuka untuk Yang Mulia Para Petinggi Negeri
  6. Kenapa Nggak Pakai Nama Domain Indonesia?
  7. Makan Bersama Orang Nonmuslim Haram?
  8. Bisnis Online Memiliki Prospek Bagus?
  9. Dibuka Aib Kemana-Mana? Bersyukurlah..
  10. Borong Aja Sendiri.. Pasti Orang Penasaran!!
  11. Pentingnya Mengingat Nama Orang/Kenalan
  12. Merdeka euy.. (Kata Aki Ucup sih Enakan Jaman Belanda..)
  13. Mengapa Saya dan Teman-Teman Berbisnis di Bidang Teknologi Informasi
  14. Hal-Hal yang Ingin Saya Sampaikan (kalau) Bertemu Bill Gates di Indonesia
  15. Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?

15 comments to Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)

  • Wah luar biasa. Sayang sekali saya kok baru tahu ya blog Anda ini. Saya sebenarnya mendambakan mentor bisnis spt yang Anda tulis ini… Tks atas ilmunya.

  • alhamdulillah..
    jazakumulloh Pak Abduh,
    Terima kasih sudah datang ke blog saya yang nggak mutu ini :oops:
    Semoga kita bisa bagi-bagi ilmu dan pengalaman.

  • Subhanallah, pemaparan yang luar biasa mas, salam kenal dari member TDA juga :)

  • Salam kenal juga Pak Eko..
    Terima kasih sudah mampir dan memberi komentar.

  • Alhamdulillah ente punya fikir masuk ke ane……saya setuju mas!
    Sebagai muslim kita harus punya visi bisnis yang nggak spt para kapitalis, tapi lebih kepada mengajak manusia kepada penyadaran “tugas”nya di bumi ini. :cool:

  • Jazakumulloh Pak Omar sudah mampir ke blog ini.
    Tapi saya masih belajar pak, belum ada apa-apanya di bisnis.
    Mulainya saja baru 7 tahun.

  • Kang Darto, kok jualan swike ya? padahal dia selalu sholat. mohon pak darto dikasih masukan

  • @ Bu Hesti:
    Di al-Qur’an yang diharamkan oleh Alloh SWT hanya “babi, darah dan bangkai” saja lho bu.. :smile:

    Kalau swike, kepiting, binatang berkuku & bergigi tajam, keong dan binatang yang hidup di dua alam kan masih diperdebatkan secara ushul fiqh.

    Wallohu ‘alam..

  • syahrul

    Wah ga mutu ? kok bisa emang ada yang mutunya lebih dari Nabi Muhammad?yang lebih minus banyak….?? tentang nama2 yang lainnya jelas bermutu lah…kan sama-sam pengusaha….emang ada yang lebih baik dari orang2 yang bermanfaat ke orang lain?( kan jadi pengusaha adalah salah -satunya)!!!he3….

  • @ syahrul:

    Kan nggak mutu itu kata orang pak :smile:

    Kalau kata saya sih mereka mentor2 terhebat yang pernah saya dapat.

  • daryono

    Alhamdulillah ampe menetes airmata saya.

    Pingin niru euy…

    Wong Klaten ugi. ning isih employee

  • @ Pak Daryono:

    Alhamdulillah Pak Daryono.

    Semoga keberkahan dari Alloh SWT bisa menjadi milik kita semua.

  • Bagus tulisannya pak…
    jadi pencerahan, ketika saya jadi bingung memilih mentor bisnis (karena kebanjiran informasi jd membingungkan untuk level pemula seperti saya). Salam dr TDA Semarang pak..

  • @ Listy:

    Halo Ibu Listy,

    Alhamdulillah.. semua kebaikan asalnya dari-Nya.

    Saya sih cuma penyambung saja.

    Salam.

  • Hero

    Jadi inget waktu dulu ikut pelatihan di Disnakertrans untuk jadi wirausahawan.
    Waktu itu saya tanya, kenapa pihak Disnakertrans tidak memberikan pelatihan bagi para pegawai (yang notabene punya duit untuk modal), tapi malah kasih pelatihan sama orang2 yang pengangguran, yang dikasih modal pun malah ga serius garap uangnya.. eh ternyata orang yang saya maksud (pegawai kreatif) itu ada di blog ini… Salam kenal.. tulisannya inspiratif

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>