Seorang staf di kantor meneruskan sebuah diskusi dengan temannya di perusahaan lain yang isinya seperti berikut:
(1:34:25 PM) xxx: Mengapa THR menjadi hak karyawan?
Misalkan Gaji per-bulan : Rp. 3 Juta
Maka Gaji per-minggu : Rp.750 Ribu.
(Sebulan ada 4 Minggu, sehingga 3 Juta dibagi 4 = 750 ribu)Dalam setahun ada 52 minggu.
Gaji 1 tahun = 12 bulan x 3 Juta = 36.000.000
Gaji 1 tahun = Gaji 52 minggu = 52 x 750 Ribu = 39.000.000
———— ——-
Selisih = Rp 3.000.000
*) Rp. 3.000.000,- Inilah yang disebut THR atau gaji ke-13.Makanya, jangan ge-er dulu bila memperoleh THR…, itu memang uang kita sendiri
Wah.. beneran nih hitungannya seperti itu?
Coba kita hitung lagi yaa..
Misalkan Gaji per-bulan : Rp. 3 Juta
Maka Gaji per-minggu : Rp.750 Ribu.
Nah, sekarang kita hitung dalam konteks waktu “hari kerja” dalam satu bulan
Mengapa?
Karena pada faktanya karyawan bekerja (tanpa menghitung hari libur nasional) hanya selama 22 hari.
Gaji 1 hari kerja = 3.000.000 / 22 = Rp 136.364,-
Total gaji yang diterima menurut hari kerja = 22 x 12 x 136.364 = Rp 36.000.096
Jadi total gaji setahun yang “berhak diterima” oleh karyawan = Total gaji yang diterima menurut hari kerja = Rp 36.000.096,-
Nah, THR sebagai gaji tambahan sebenarnya adalah betul-betul tambahan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan
Sekarang kita coba hitung dengan mengurangi jumlah libur di luar hari Sabtu dan Minggu:
- 2 hari libur Idul Fitri
- 1 hari libur Idul Adha
- 1 hari libur tahun baru Masehi
- 2 hari libur tahun baru Hijriyah
- 2 hari libur Imlek
- 1 hari libur Hari Saka
- 1 hari libur Maulid Nabi
- 1 hari libur Jumat Agung
- 1 hari libur Paskah
- 2 hari libur Jesus Christ Ascension Day
- 2 hari libur Waisak
- 1 hari libur Isro Mi’roj
- 1 hari libur Hari Kemerdekaan
- 5 hari libur Idul Fitri
- 2 hari libur Natal
Jadi ada 25 hari libur nasional dan 12 hari libur cuti
Jadi sebenarnya dalam satu tahun sebenarnya karyawan hanya bekerja selama = (22 hari kerja X 12 bulan) – (25 hari libur nasional + 12 hari cuti nasional) = 227 hari
Artinya dalam setahun karyawan hanya berhak atas gaji sebesar = 227 X 136.364 = Rp 30.954.628,-
Nah.. lho, kalau begitu berarti perusahaan sudah memberikan tambahan penghasilan kepada karyawan sebesar = Rp 36.000.096 + Rp 3.000.000 – Rp 30.954.628 = Rp 8.045.468,-
Jika dihitung secara prosentase maka perusahaan harus menanggung sebesar = 8.045.468 / (36.000.096 + 3.000.000) = 20,6% per tahun
Topik yang mungkin Terkait:
- Maulid Nabi.. Kok Cuma Jadi Libur Nasional?
- Prosedur PHK yang (Diharapkan) Obyektif
- Buruh Bisa Saya Ganti Pake Robot & Mesin!
- Siapa Bilang Zakat Cuma Buang Sial?
- Jangan Batasi Akses Internet di Kantor!
- Anggaran TI (Information Technology Budgeting) Bagian III
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- Tips Wawancara Kerja Versi Pengusaha
- Mengapa Saya Lebih Memilih Menjadi Wirausahawan
- Catatan Kecil Milad II TDA
- Mengapa Saya dan Teman-Teman Berbisnis di Bidang Teknologi Informasi
- Borong Aja Sendiri.. Pasti Orang Penasaran!!
- MetaCare: Road to INAICTA 2010 Open Source Category Winner
- Kesempatan Sekali Seumur Hidup: “Diterima Gabung di TDA”
- Selamat Tahun Baru 1429H (Heran, kok nggak ada sidang isbat yaa??)




Pingback: Mas Si-iPul Yang Ganteng | Waduh… THR Kok Diributin… :D
pengen THR tiap bulan nie… ada gak ya perusahaan seperti itu???
Kerja 11 Bulan Gajian Pengen 13 Bulan..
Tunjangan dan fasilitas harus ada..
Cuti minta ditambah, kerja ngga sesuai hak dan kewajibannya..
Belom Libur Nasional pake di Panjang2in..dan ditambah2in..
Pengennya Gajinya besar resiko perkerjaan kecil..
KAPAN PRODUKTIF-nya..
Pantes aja Investor pada kabur.. ke Luar Negeri…
Salam,
Yang lagi mikirin Bayar THR karyawannya
klo THR nya sampai ditangan saya, maka ga perlu sampe di ributin ? klo ga nyampe2x di tangan saia ? utang donk perusahaanya ?
Masalahnya, Mas.. Kalo kita di-hire di suatu perusahaan, perjanjiannya kan gaji per BULAN, bukan per HOUR, atau per DAY (kecuali Anda tukang bangunan, lain halnya ya).
1 Bulan diciptakan Tuhan ada 4 atau 5 minggu, biarpun 5 minggu pun, tetep 1 bulan kan? Ga pernah tuh dibilang sama Tuhan, “1 bulan + 1 minggu”.. Kalau Anda itung 1 taon ada 52 minggu, tapi minggu ke-5 ga dianggep di dalam 1 bulan, so dari mana dapet 52 minggu? Lah, minggu ke-5 itu diitung apa? Minggu bonus dari surga?
Kesimpulan saya, gaji 1 bulan itu ga peduli 4/5 minggu, emang dari sononya diciptakan, kadang ada 4 minggu kadang ada 5 minggu, Mas!
@ caroline:
Halo Ibu Caroline,
Memang digaji itu per “Bulan” tapi menurut UU Ketenagakerjaan para pekerja itu bekerja dalam hitungan jam kerja.
Dengan batasan 40 jam kerja per minggu untuk waktu kerja 5 hari.
Kelebihan dari waktu tersebut maka perusahaan harus membayar upah lembur sesuai kelebihan jam kerjanya.
Sekalipun sistem pembayaran upahnya dapat dilakukan menurut kesepakatan antara pekerja dan perusahaan, apakah akan per hari, per minggu atau per bulan.
Jadi sangat jelas bukan kalau para pekerja itu dibayar menurut jam kerja?
Terima kasih atas masukannya
@caroline, anda bodoh sekali sih, sejak kapan Tuhan menciptakan penanggalan?aturan penanggalan itu diciptakan oleh manusia.
Tuhan menciptakan sistem universal.Bumi mengitari matahari,bulan mengitari bumi.Dan semua sistem itu belum sepenuhnya dimengerti manusia,sehingga terciptalah sistem penanggalan seperti masehi ini yg belum sempurna.
Kalo bicara Tuhan,harusnya sudah tidak lagi hanya bicara penanggalan,tapi sudah ke Dimensi,ruang, dan waktu.
Pantesan situ tetap jadi karyawan.