Buku karangan Arthur G. Gish ini merupakan catatan seorang aktivis perdamaian dari Amerika yang melawan kekejaman Israel di Palestina dengan jalan cinta dan anti-kekerasan.
Sebenarnya buku ini adalah terbitan yang sudah sangat lama karena diterbitkan aslinya pada tahun 2001 oleh Herald Press, Scottdale – Canada dan baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Mizan pada Juli 2008 dengan ISBN 978-979-433-515-4.
Awalnya saya tertarik saat sekilas sedang melihat-lihat koleksi buku di MP Book Point dan terpana melihat gambar sampulnya.
Gambar sampul dari buku ini memperlihatkan saat Arthur G. Gish sedang menghadang moncong tank tentara Israel dengan merentangkan kedua tangannya.
Sebuah buku yang sangat menarik karena bukan berisikan analisa-analisa tapi lebih merupakan catatan harian seorang pasifis Kristen yang tergabung dalam CPT yang memiliki semangat anti-kekerasan dan cinta kasih bahkan terhadap orang-orang Muslim di Palestina yang awalnya sama sekali tidak dia kenal.
Membaca jurnal ini membuat saya merinding membayangkan kekejaman para penguasa politik dan ekonomi Yahudi yang memanfaatkan fanatisme buta orang-orang Israel di tanah pendudukannya.
Bagaimana sebuah trauma sejarah akhirnya menciptakan kultur kekerasan dan dominasi ala apartheid terhadap rakyat Palestina oleh para Yahudi disana.
Padahal selama berabad-abad, hubungan yang harmonis antara Yahudi, Kristen dan Islam terjalin disana.
Namun ternyata keserakahan dengan berkedok agama menyebabkan keharmonisan tersebut runtuh tergantikan oleh kebencian yang diwariskan secara turun-temurun dan sistematis.
Dalam buku ini terdapat informasi yang menggugah saya bahwa ternyata banyak orang-orang Yahudi Israel yang mendambakan kedamaian dalam hidup berdampingan bersama bangsa Arab di tanah Palestina.
Bahkan terdapat organisasi-organisasi berbasis Yahudi-Israel seperti Rabbis for Human Rights yang secara terang-terangan membangun lobi mendukung ditegakkannya keadilan atas hak-hak tetangga Arab Palestina mereka.
Di beberapa bagian buku ini diceritakan bagaimana para aktivis Yahudi-Israel menginap di rumah-rumah Muslim Palestina yang akan dihancurkan dan lahannya dikuasai oleh imigran Israel demi mencegah hal tersebut.
Selain juga pendapat dari Arthur G. Gish yang berpendapat bahwa perjuangan rakyat Palestina akan sulit mencapai hasil yang membahagiakan semua pihak karena lemahnya struktur dan organisasi pemerintahannya.
PLO dan Fatah yang selama ini dikenal sebagai pembela rakyat Palestina ternyata tidak terlalu memperoleh dukungan dari rakyatnya karena gaya kepemimpinannya yang otokratis sehingga tidak pernah mampu menyerap aspirasi dari bawah.
Sehingga sangat wajar jika kemudian Hamas lebih memperoleh tempat di hati masyarakat Palestina karena bergerak dari tatanan akar rumput dan berbasiskan gerakan sosial.
Walaupun pada akhirnya Hamas sendiri kemudian berubah menjadi sebuah faksi militer dan mengubah haluan gerakannya menjadi aksi perang terbuka secara gerilya melawan tentara Israel.
Terlepas dari semua itu, buku ini banyak memberikan informasi yang disampaikan langsung secara obyektif oleh pihak ketiga yang tidak memiliki kepentingan apapun kecuali ditegakkannya keadilan dan kedamaian di tanah Palestina.
Arthur G. Gish memberikan sebuah pendapat menarik bahwa perlawanan kekerasan ataupun militer apapun kepada Israel hanya akan memakan korban sia-sia dari kedua pihak.
Bahkan mungkin akan mendorong terjadinya perang nuklir yang berdampak secara global.
Bagaimanapun, dukungan kepada bangsa Palestina harus diwujudkan dalam aksi damai, sistematis dan terorganisir dengan baik.
Para petinggi militer Israel pasti sudah memiliki banyak strategi untuk mengantisipasi serangan militer terbuka terhadap klaim kedaulatan negerinya.
Tapi sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan mungkin mampu melawan aksi-aksi damai yang terbuka, sistematis dan terorganisir.
Membuka ruang dialog dan diplomasi damai adalah pilihan terbaik.
Bukankah kita sendiri di negeri ini sudah mengalaminya?
Perjuangan melalui jalur perdamaian dan diplomasi pada akhirnya mengantarkan kedaulatan dan kedamaian di negeri ini dari cengkraman para penjajah.
Kecerdasan dan kematangan berfikirlah yang mengantarkan kita menuju gerbang kemerdekaan sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.
Sebagaimana saudara-saudara kita di Aceh yang akhirnya mau kembali melebur sebagai sebuah keluarga dalam perdamaian setelah melalui jalur dialog yang relatif lebih murah dan singkat dibandingkan operasi-operasi militer disana.
Popularity: 7% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Review Buku: Sukses Tanpa Batas
- Review Buku “Rencana Bisnis Lengkap”
- Review Buku “Blue Ocean Strategy”
- Review Buku “Kantongi Sang Gajah”
- Review Buku “Don’t be Sad” atau “Laa Tahzaan”
- Review Buku “Latih Ulang Otak Bisnis Anda”
- Review Buku: “Rich Game – Cara Kaya dengan Investasi”
- Review Buku “The Art of Innovation”
- Review Buku: The Alchemist
- Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
- Behind the Process… Buku “Buktikan..! Anda Pasti Kaya-Raya”
- Resensi Buku “10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas”
- Ulasan Buku: “Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami”
- Resensi Buku: “Home Schooling Keluarga Kak Seto”
- Resensi Buku “Hypnotic Writing”

kang, penulis pernah dateng ke bandung da
buka http://irfanamalee.multiply.com/
@ agah suragah:
Halo Kang Agah,
Trims berat informasinya
Sori saya nggak termutakhirkan datanya, hehehehe..