Ribut-ribut Menristek dan lima orang anggota DPR ke Korea Selatan dan Jepang untuk studi banding pengembangan teknologi nuklir sebagai dasar pembangunan PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) di Indonesia semakin bergema.
Saya sendiri merasa aneh kenapa yang diributkan itu jalan-jalan studi bandingnya, kenapa bukan dampak dan analisis dari penerapan pembangunan PLTN itu di Indonesia.
Isu mengenai pembangunan PLTN ini sudah mulai diwacanakan sejak era pemerintahan Presiden Soeharto terutama pada saat Dr. Ing. BJ. Habibie menjabat sebagai Menristek.
Teknologi nuklir ini memang relatif lebih murah dan tidak tergantung pada sumber daya alam yang tidak diperbarui sehingga sangat diidam-idamkan oleh banyak negara sebagai sumber energi alternatif.
Tragedi Chernobyl tidak menyurutkan banyak negara untuk tetap mengeksplorasi teknologi nuklir sebagai sumber energi mereka.
Tapi yang menjadi pertanyaan saya adalah: “Sudah siapkah pemerintah kita mengelola sumber daya yang dasyat itu?”
Seperti kita ketahui, tragedi Chernobyl terjadi karena didominasi oleh faktor kesalahan manusianya. Hal ini pun terkait juga kelemahan sisi manajemen dan birokrasi yang lumayan korup di lingkungan pemerintahan di sana.
Nah, melihat kondisi tersebut tentunya cukup mengkhawatirkan kita.
Jika menangani semburan lumpur panas Lapindo saja pemerintah kita kelabakan, bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa PLTN akan bisa dikelola lebih baik?
Baiklah, jika kemudian dalih bahwa semburan lumpur panas Lapindo bersifat bencana alam yang sulit untuk dikendalikan, bagaimana dengan penanganan tragedi sampah di Bandung Raya?
Kalau urusan sampah yang sudah seharusnya bisa diprediksikan dan dimanajemen dengan baik oleh manajemen pemerintahan dan birokrasi kita saja sudah tidak mampu menanganinya bagaimana dengan pengelolaan PLTN yang jika sampai terjadi bencana?
Secara pribadi saya sangat mendukung diterapkannya energi nuklir di negara kita. Hanya saja jika paradigma para birokrat dan teknokrat negeri ini masih tetap sama seperti sekarang, lebih baik ditunda saja dulu.
Selain itu yang saya heran, kok nggak studi banding ke Iran juga ya beliau-beliau itu?
Popularity: 2% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- Akankah Terjadi Revolusi Indonesia?
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Perdana Menteri Turki Bikin Malu Saja..
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Bersyukurlah Kita Jadi Warga Negara dan Tinggal di Indonesia!
- Penerapan IT Management Tools di Indonesia
- SSL dan CA, Aspek Penting yang Sering Dilupakan Saat Membangun e-Commerce
- Tips Membangun On-line Transaction Portal untuk Mendukung Sales & Marketing Bisnis Anda
- Perang Indonesia VS Malaysia
- Harga BBM Melangit? Buka Toko On-line Saja!
- Coretan Kangen
- Indonesia Punya Posisi Tawar yang Kuat Terhadap Amerika Lhoo..
- Memanusiawikan Pendidikan di Indonesia (Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2007)
- The Government of Indonesia Republic will Giving some Free Certification Land for Poor Families

ke Iran? ntar yg ada juga belajar tentang membuat bom nuklir bukan listrik nuklir
Atau takut kena bom nyasar jadinya korea aja XD
Mungkin yg kelolah PLTN swasta aja, jadi ga terlalu ribet di birokrasi. Tapi itu melanggar UUD42 Pasal 33 ya? wah, gimana dong? kasih swasta melanggar, dikelolah pemerintah takut ga becus, kapan kita punya listrik murah
eh salah ketik 45 jadi 42, maap2