Entahlah, tiba-tiba saja saya teringat Ramadhan yang saya jalani kurang lebih 20 tahun yang lalu.
20 tahun yang lalu saat menikmati kegembiraan bersama keluarga dan teman-teman sebaya di sebuah desa bernama Sukomoro di daerah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Ritual yang dijalani tentu saja dimulai saat sholat Tarawih di malam 1 Romadhon.
Jamaah penuh hingga ke halaman masjid.
Bayangkan, 23 rokaat sholat Tarawih di luar 4 rokaat sholat Isya’..
Tentu saja lebih banyak bolongnya karena kebanyakan berbuat iseng, bercanda atau bahkan sampai tertidur pulas, hahahaha..
Belum lagi ternyata seringkali kami pulang dari masjid dengan bertelanjang kaki karena sandalnya hilang atau lupa disembunyikan teman
Cerita masih berlanjut dengan prosesi membangunkan sahur keliling kampung.
Biasanya kami mengarak bedug dengan becak dan ditimpali dengan benda apapun yang bisa dipukul dari mulai kentongan, ember sampai kepala saya yang gundul, hehehehe..
Tentu saja tidak lupa segala jenis petasan dari mulai mercon sumbu, tarik sampai banting yang “menurut kami” sangat membantu orang-orang sekampung segera bangun sahur
Akhirnya satu-persatu kami membubarkan diri dan pulang ke rumah untuk makan sahur bersama-sama keluarga.
Selesai sahur kami pun berangkat ke masjid untuk sholat subuh.
Tapi khusus waktu sholat yang ini keadaannya lumayan khidmat, hehehe..
Selesai sholat subuh jangan bayangkan saya dan teman-teman sebagai sekelompok anak alim dengan penuh kesadaran menyimak ceramah
Segera setelah salam kedua, kami pun berhamburan ke lapangan untuk bermain bola!
Setelah capek dan tentu saja kehausan saya pun pulang ke rumah dan langsung terkapar di tempat tidur sampai waktu zhuhur, hihihi..
Boleh dong tidur seharian, tidurnya orang yang berpuasa kan juga ibadah, hahahaha…
Bangun tidur di siang bolong yang panas di tengah kemarau berangin iklim Sukomoro tentu saja sangat nikmat mandi air dingin.
Kadang-kadang saya sengaja berlama-lama berendam di bak mandi, hihihi..
Padahal bak mandi yang ukurannya kira-kira 3×2x1 meter itu harus diisi dengan sumur pompa
Puas berendam dan tentu saja mandi, selesai sholat zhuhur biasanya saya…. ngerjain adik-adik saya atau kalau lagi insyaf bantu-bantu ibunda tercinta sampai waktu ashar.
Selepas sholat ashar, tantangan baru pun harus siap dihadapi.. apalagi kalau bukan bermain di sungai menunggu adzan maghrib tiba.
Kalau dipikir-pikir, kayanya puasanya banyak batal gara-gara sering “terminum” air sungai, hihihi..
Menjelang maghrib, kami pun bubar ke rumah masing-masing.
Tentu saja, saat yang paling ditunggu-tunggu itu pun tiba.. berbuka dengan menu favorit sepanjang masa “es kelapa muda” atau kalau orang Sukomoro bilang “es degan”.
Puas kekenyangan berbuka, ritual sholat tarawih pun dimulai.
Hanya saja kali ini ritual sepulang tarawih di malam liburan bertambah.
Yaitu main keteng atau ketapel petasan!
Nggak tahu yang namanya keteng?
Itu lho.. permainan olah fisik dan mental (halah..) yang kemenangannya ditentukan oleh yang paling dulu mengenai bagian kepala atau kaki lawan dengan tangan.
Kalau ketapel petasan kayanya warisan jaman perjoangan empatlima dulu
Jika biasanya main ketapel menggunakan peluru dari bola-bola tanah liat, kali ini kesadisannya ditambah dengan menancapkan sebatang mercon sumbu yang dinyalakan sesaat sebelum diluncurkan!
Biasanya untuk menambah seru (padahal keributan) ditambah dengan mercon bledug dan mercon pendhem.
Nggak tau mercon bledug?
Ah.. dasar masa kecil kurang bahagia
Itu lho.. mercon yang dibuat dari bambu besar yang diisi air dan campuran karbit terus diledakkan di bagian lubang kecil di bagian ujung mampatnya.
Oke.. terus kalau mercon pendhem?
Nah, kalau yang ini dibuat dari “konstruksi bangunan kecil” (halah..) dari tanah liat.
Campuran bahan peledaknya sama, air dan pecahan karbit.
Jadi kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya dan teman-teman sudah dilatih buat jadi “milisi cadangan” sejak masih kecil, hihihi..
Akhirnya, setelah pertempuran yang melelahkan kami pun pulang ke rumah dengan tongkrongan yang nggak karu-karuan
Biasanya ibunda tercinta sudah menyiapkan seember air hangat buat saya mandi… oooohhhh… (ah, jadi kangen sama si Mamah nih..)
Benar-benar salah satu masa terindah dalam hidup saya.
Bagaimana dengan Ramadhan Anda dulu? Tentu saja tidak kalah indah bukan?
Popularity: 6% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Nostalgia Memasarkan Open Source 8 Tahun Lalu..
- Bedanya Pemuda 80 Tahun yang Lalu
- Ngapain Kamu Sholat?
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- 5 Tips Berhenti Merokok (Buat yang Niat) dan Faktor Pendorong Berhenti Merokok (Buat yang Belum Niat)
- Anda Kurang Usaha Demi Mencapai Kebebasan Finansial dan Pensiun di Usia Muda
- Get Your Soulmate
- Selamat Tahun Baru 1429H (Heran, kok nggak ada sidang isbat yaa??)
- Apa Resolusi Saya di 2008?
- Surat Terbuka untuk Yang Mulia Para Petinggi Negeri
- Kritikan terhadap UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
- Romadhon… Sekedar Ajang Menabung Pahala? (Demi Menebus Dosa Sepanjang Tahun)
- Pesta Tahu Sumedang di Perjalanan Pulang Mudik
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”

adilkah seorang ayah lupa sama anaknya 10 tahun tak bertemu entah dimana?…ayah aku sudah besar 15 tahun kenapa lupa sama diriku….aku dengan ibu selalu berdua …aku rindu sebentar lagi lebaran…nila