Sebagai WNI yang tunduk terhadap UUD 1945 maka saya diwajibkan untuk memiliki agama dan hidup berdasarkan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa.
Namun benarkah Tuhan saya adalah apapun yang saya sebut sebagai Alloh SWT?
Atau jangan-jangan saya baru sekedar mengklaim diri sebagai seorang deis karena atheis dilarang hidup di Indonesia?
Maka saya pun mencoba renungkan hal-hal berikut ini dengan setidaknya mengambil empat batasan mengenai pengertian Tuhan yang bisa diterima bersama sebagai berikut:
- Sesuatu yang saya sembah.
- Sesuatu yang saya jadikan prioritas teratas.
- Sesuatu yang saya takuti.
- Sesuatu yang mampu memaksa saya menaati aturan-aturannya tanpa kecuali.
Tentu saja masih ada banyak batasan-batasan lainnya.
Tapi dari keempat hal tersebut saya mencoba merenung dan melakukan diskusi yang jujur dengan nurani ini.
Sesuatu yang saya sembah
Ya, tentu saja Tuhan adalah sesuatu yang saya sembah.
Disembah karena saya ingin mengabdikan diri seutuhnya kepada-Nya.
Disembah karena saya menjadikannya segala pusat tujuan dari hidup ini.
Jika memang saya sebagai seorang Muslim mengaku menyembah Alloh SWT maka apa bedanya Dia dengan katakanlah gelar akademik, status ekonomi, status sosial, dsb yang selalu saya jadikan segala pusat tujuan dalam hidup ini?
Bukankah saya dengan segala daya upaya dan mengorbankan segala-galanya demi meraih hal-hal tersebut?
Membeli ijazah demi status gelar akademik, bekerja keras bahkan mencuri dan menipu demi harta dan penghargaan sosial atas status saya tersebut?
Maka apakah memang betul Tuhan saya adalah apa yang selalu disebut dalam setiap doa saya?
Apakah layak Tuhan saya hanya jadi pelayan yang harus melayani setiap keinginan yang saya bungkus dalam sederet kalimat yang disebut doa?
Padahal bagi seorang Muslim pada saat sholat pun tidak pernah memusatkan pikiran dan hati saya hanya kepada Alloh SWT?
Sesuatu yang saya jadikan prioritas teratas
Kita semua tentu sepakat bahwa Tuhan haruslah berada dalam prioritas teratas dalam hidup ini.
Tuhan adalah segala-galanya bagi kita.
Tuhan adalah prioritas tertinggi tanpa ada satupun yang mengatasinya.
Maka sebagai prioritas tertinggi dalam hidup ini, bukankah seharusnya Dia selalu hadir dalam ingatan, tarikan nafas dan denyut nadi saya?
Tapi mengapa yang selalu hadir dalam ingatan saya adalah wajah manusia kekasih dan buah hati saya?
Atau saya lebih memenuhi pikiran saya dengan harta dunia yang selalu berusaha saya kumpulkan dan jaga?
Sesuatu yang saya takuti
Tuhan adalah Yang Maha Ditakuti oleh saya.
Tidak ada satupun yang mampu membuat saya takut melebihi ketakutan kepada-Nya.
Hingga saya selalu merasa bahwa Dia selalu memantau saya setiap saat tanpa jeda.
Membuat saya selalu berusaha mengikuti segala titah-Nya karena ketakutan atas kuasa-Nya.
Jika demikian adanya, sebagai seorang Muslim, layakkah saya mengaku bertuhankan Alloh SWT sedangkan masih sering berlaku tidak jujur dan mengabaikan murka-Nya atas tindakan saya tersebut?
Atau saya masih merasa takut kehilangan harta, isteri, anak dan apapun yang saya miliki saat ini padahal seharusnya saya lebih takut kehilangan Alloh SWT?
Bahkan sebenarnya ternyata diri saya sendiri ini pun hakikatnya bukanlah milik saya?
Padahal para setiap rosul yang diutus Alloh SWT tidak pernah merasa takut kehilangan apapun termasuk nyawanya sendiri saat menyampaikan ajaran-Nya?
Sesuatu yang mampu memaksa saya menaati aturan-aturannya tanpa kecuali
Tuhan adalah Dia yang mampu memaksa saya untuk tunduk patuh terhadap seluruh aturan yang ditetapkan-Nya.
Sebagai seseorang yang mengaku sebagai Muslim, layakkah saya mengaku bertuhankan Alloh SWT jika masih berani melawan dan menganggap angin lalu titah-Nya untuk menaati setiap aturan agama-Nya?
Lantas apa bedanya Alloh SWT dengan petugas POLRI jika dia mampu memaksa saya untuk mematuhi hukum negeri ini?
Saya pun hanya bisa termenung, menangis bercampur tawa karena menyesali kebodohan serta menertawakan kemunafikan saya.
Ah, ternyata saya masih belum layak menyandang diri sebagai seorang hamba Tuhan yang disebut Alloh SWT.
Saya ternyata hanya seorang budak dari tuhan yang sedemikan rapuh dan nista.
Jika tuhan saya sedemikan rapuh dan nista maka disebut apakah saya sebagai hambanya?
NB:
Tulisan ini saya dedikasikan kepada seluruh guru-guru spiritual yang telah mengajari dan menjadi teladan selama ini.
Marhaban ya Romadhon.. mohon maaf kepada segenap sahabat yang berkunjung di blog ini..
Popularity: 6% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Benarkah Alloh adalah Tuhan Kita?
- Berperang Demi Tuhan atau Demi Kekuasaan?
- Mencari Tuhan
- Ternyata Alloh SWT Melarang Kita Memberi karena Ingin Menerima Lebih Banyak..
- Alloh SWT Tidak Adil Kepada Iblis?
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Apa Resolusi Saya di 2008?
- Sujud – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (8)
- Masihkah Pembeli adalah Raja?
- Siap Menghadapi Sesuatu yang Tidak Siap Kita Hadapi
- Seandainya Saya yang Isro Mi’roj (pasti nggak mau balik lagi ke dunia..)
- Mengapa Saya Lebih Memilih Menjadi Wirausahawan
- Saya Jadi Mentor Wirausaha? Aya-Aya Wae..
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Bolehkah Saya Beristri Lagi?

10 Komentar Terakhir