Pada saat pembagian laporan pendidikan milik keponakan dan adik saya kemarin, ada hal yang cukup mengejutkan bagi saya.
Ternyata untuk wilayah Provinsi Jawa Barat (terutama di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis) mata pelajaran Bahasa dan Sastera Daerah (Sunda) sudah tidak ada lagi.
Hal tersebut tentunya menjadi semacam ironi di tengahnya maraknya seruan untuk kembali kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sedangkan bagaimana mungkin kita mempelajari suatu budaya jika bahasanya saja tidak kita mengerti dengan baik.
Saya betul-betul tidak mengerti jalan pikiran para doktor lulusan dari berbagai perguruan tinggi dari luar dan dalam negeri yang sekarang mengurus masalah kurikulum pendidikan di Departemen Pendidikan Nasional.
Saat krisis multidimensi yang terjadi sekarang yang terkait juga dengan krisis identitas, kita malah semakin menjauh dari akar budaya setempat kita.
Coba kita perhatikan sejenak. Anak-anak dan remaja sekarang lebih akrab dengan budaya-budaya impor ala hip-hop dan punk daripada kesenian semacam tari seudati dan jaipongan.
Bahkan saat Malaysia mengklaim angklung sebagai salah satu kekayaan asli budaya mereka tidak ada satupun pejabat apalagi Menteri Pariwisata Seni Budaya yang berkomentar.
Saya pernah berdiskusi mengenai masalah dihapusnya mata pelajaran bahasa daerah dengan seorang perumus kurikulum di Departemen Pendidikan Nasional.
Beliau dengan santainya mengatakan bahwa untuk urusan pelajaran bahasa daerah kan bisa lewat kegiatan ekstra kurikuler. Lebih penting ngajarin mereka ilmu-ilmu yang bisa dipakai untuk kerja nanti tambahnya.
Sejenak saya tercenung. Sejak kapan ilmu-ilmu eksakta menjadi lebih penting daripada ilmu-ilmu budaya?
Bukankah hancur dan majunya suatu bangsa berawal dari semakin terkikisnya nilai-nilai budaya yang otentik darinya?
Romawi dan Yunani hancur karena hancurnya nilai-nilai budaya mereka yang semakin terpolusi oleh tekanan budaya bangsa lain. Bangsa Indonesia pun sudah mulai menunjukkan gejala tersebut.
Bangsa kita semakin terkikis identitasnya oleh serbuan budaya-budaya asing yang semakin deras. Apa yang menjadi sampah di negeri lain oleh kita dijadikan tren yang disembah-sembah sebagai tuhan.
Padahal dari apa yang sering saya lihat di berbagai media, semakin banyak jumlah orang dari negara lain yang mempelajari seni dan budaya kita. Bahkan ada seorang wanita warga negara Amerika Serikat yang fasih berbahasa, memakai kebaya, melantunkan tembang dan menari Jawa sedangkan anak-anak muda kita merasa lebih hebat kalau berpakaian ala Ja Rule, berdandan ala Paris Hilton, bernyanyi ala Eminem dan menari ala Usher.
Seorang kolega saya yang juga dosen di Jurusan Sastera Sunda Fakultas Sastera Universitas Padjajaran pernah mengeluh tentang minimnya literatur tentang Kesundaan di negeri ini. Untuk memperoleh literatur yang cukup komprehensif harus ke Universitas Leiden Belanda, termasuk mengambil gelar doktor pun yang representatif harus ke tempat tersebut.
Contoh lainnya misalnya tren mempelajari bela diri. Secara pribadi saya belum pernah menjumpai kursus latihan pencak silat di tempat-tempat yang mewah semisal gym dengan bayaran bulanan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Tapi kursus latihan aikido menjamur di berbagai tempat dengan biaya keikutsertaan yang lumayan mahal, hanya karena bela diri tersebut adalah impor dari Jepang.
Padahal silat aliran Cimande memiliki teknik-teknik yang hampir sama dengan bela diri tersebut dan menjadi olah raga favorit kaum manula di pedesaan.
Jadi bisa kita bayangkan betapa terasingnya kita di negeri sendiri. Pernahkah kita tanyakan pada diri sendiri, wajarkah mencintai suatu negeri tanpa mencintai budayanya?
Popularity: 3% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Berbasa Daerah = Kampungan?
- Budaya Indonesia = Budaya Kampungan?
- Minimnya Pendidikan Politik Etis Formal dan Dampaknya pada Krisis Demokrasi
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Maulid Nabi.. Kok Cuma Jadi Libur Nasional?
- Apa yang Terjadi Setelah Seabad Kebangkitan Nasional?
- Membosankan: Ribut-Ribut RUU Pornografi
- Kenapa Nggak Pakai Nama Domain Indonesia?
- Kenapa Sih Nggak Pasang Link Adsense?
- Sebuah Pelajaran Bisnis Berharga dari Seorang Diyan Marandi
- Akankah Terjadi Revolusi Indonesia?
- Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
- Dilema dan Fenomena Snouck Hurgonje
- KEDEWASAAN: Deret Angka atau Deret Kematangan EIS (Emosi, Intelektual, Spiritual)?
- Apa Resolusi Saya di 2008?

10 Komentar Terakhir