“Pembeli adalah Raja” sudah menjadi slogan yang digaungkan sejak lama di ranah bisnis negeri ini.
Walaupun pada kenyataannya banyak juga pelaku usaha yang memperlakukan konsumen produknya secara tidak proporsional apalagi “menghambakan” diri kepada mereka.
Padahal suka ataupun tidak, keberadaan konsumen produk yang kita tawarkan merupakan pengalir darah bagi keberlangsungan hidup usaha yang dijalankan setiap produsen.
Tentunya dengan beragam karakter dari setiap konsumen yang bisa terasa menyenangkan ataupun tidak bagi kita maupun setiap orang yang bekerja bersama-sama dalam satu tim.
Suka atau tidak, minimalnya selalu ada satu pelanggan kita yang dapat cap negatif dari kita seperti “menyebalkan”, “kampungan”, “ngerepotin”, “rese”, “nggak tau aturan”, dsb.
Bagi saya kelompok pelanggan dengan kategori ini adalah “pelanggan emas” malahan mungkin dapat dikategorikan “pelanggan platinum”.
Lho.. kok bisa?
Ya.. tentu saja BISA dan memang SEHARUSNYA mereka disebut demikian.
Apa alasan saya menyebutnya demikian?
Di dalam kondisi persaingan yang semakin ketat bahkan mungkin seringkali diluar batas kewajaran maka setiap konsumen kita adalah salah satu aset tak ternilai yang harus dikelola dengan baik dan benar.
Nah, sebagai manusia tentu saja sangat wajar jika diliputi oleh ego yang memang diciptakan oleh-Nya sebagai pelengkap diri kita.
Namun tentu saja sebagai manusia yang dituntut untuk terus-menerus mengembangkan diri dan layak dikategorikan sebagai “manusia dewasa” maka dorongan ego tersebut harus ditekan dengan baik.
Bagaimanapun juga dalam berinteraksi dengan lingkungan kita, empati adalah sebuah tolok-ukur kualitas kepribadian selain menjadi gambaran mutu keahlian berkomunikasi.
Selain itu, apakah kita bisa meramalkan masa depan?
Ya.. masa depan yang mungkin berderet mengikuti interaksi dengan para “pelanggan platinum” tersebut.
Bisa jadi merekalah yang akan membawa berjuta-juta “kesempatan platinum” yang mendorong berkembangnya bisnis kita.
Salah satu contohnya adalah dari sisi peningkatan kualitas layanan dari produk yang kita tawarkan.
Bukankah segala macam cercaan maupun ekspresi ketidakpuasan mereka adalah sebuah “kesempatan platinum” bagi perkembangan positif usaha kita?
Segala bentuk ekspresi ketidakpuasan mereka merupakan “masukan platinum” yang menjadi acuan bagi bahan evaluasi sehingga meningkatkan performa bisnis kita ke depan.
“Masukan platinum” tersebut adalah berkah yang luar biasa.
Seharusnya kita bersyukur bahwa “cacat produk” dari penawaran kita segera teridentifikasi sekalipun mungkin dirasa subyektif.
Setidaknya masukan-masukan berupa ketidakpuasan tersebut tersampaikan langsung kepada kita.
Bayangkan jika seandainya setiap yang kita terima selalu berupa pujian.
Padahal seluruh kemajuan usaha kita hanya dimungkinkan jika banyak mendapat masukan dalam bentuk apapun terutama kritikan (baik yang obyektif maupun subyektif).
Seringkali kita dimabukkan dengan pujian-pujian yang cenderung malah menjadi beban dan tidak menghasilkan apapun selain kebanggaan semu dan puas diri.
Kebanggaan semu yang secara perlahan menjadi kanker yang menggerogoti kemajuan kita ke depan.
Rasa puas diri yang dilenakan oleh ego selalu menuntut pengakuan berlebihan.
Sehingga sebuah sikap dimana seharusnya “turunkan ego dan maklumi orang lain” menjadi sebuah kemustahilan.
Popularity: 10% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Benarkah Alloh adalah Tuhan Kita?
- Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
- Masihkah Ada Alasan untuk TIDAK Berkurban?
- Business is Just a Game!
- Haruskah Menjadi Wirausahawan?
- Review Buku “The Art of Innovation”
- Ditindas atau Bangkit Melawan!!
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Mendengar: Modal Berkomunikasi Kelas Tinggi
- Ulasan Buku: “Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami”
- Dukun Kode Buntut dan Konsultan Akselerasi Kekayaan
- Terima kasih Om Bill!
- Tangkap Mimpimu! (Inspired by GOAL! The Dream Begins)

waduh….
@ ario saja:
Halo Pak Ario,
Ini kenyataan di lapangan lho..
Kalo pembeli yang harusnya bayar malah tidak bayar? Kalo pembeli yang mengubah ubah perjanjian jual beli dengan se-enaknya sendiri? Kalo pembeli yang sudah melakukan itu semua, eh malah bersikap kasar dan tidak menunjukkan niat baik atau fairplay? Apa kita masih harus menganggap pembeli kayak begini… raja?
Pembeli dan penjual seharusnya adalah mitra yang setara. Kedua belah pihak berhak mendapat apa yang menjadi haknya. Kedua belah pihak juga berhak dihormati dengan sama. Itu yang menurut saya lebih benar.
@ Lonelyloner:
Orang yang mengambil produk komoditas yang kita tawarkan tanpa membayar bukanlah pembeli tetapi “maling”.
Sesuai kata dasarnya, pembeli adalah orang yang membeli apa yang kita jual dengan pembayaran yang sudah disepakati bersama.