Buying trance, frasa itu yang terlintas dalam otak saya.
Lintasan pikiran saat saya mencermati ulasan di media massa yang membahas tentang prosesi memilih para pemimpin dan wakil rakyat.
Prosesi pemilihan yang dibalut dengan sebutan demokrasi.
Mengapa saya terpikirkan frasa buying trance tersebut?
Alasan sebenarnya sederhana sekali.
Mayoritas narasumber yang mengulas mengenai proses demokrasi tersebut cenderung menggunakan cap yang seragam, yaitu “setiap calon terpilih adalah produk dari personal branding”.
Sehingga setiap orang yang mencalonkan diri sebagai “calon pemimpin” adalah sebuah produk dari sebuah proses demokrasi.
Maka sebagaimana lazimnya produk, sudah seharusnya dibuat proses komunikasi pemasaran yang efektif dan layak jual hingga menciptakan proses “pembelian” dari para pemilihnya.
Sebuah ironi?
Mungkin bisa dikatakan demikian.
Bagaimana akhirnya kita memilih para “pemimpin” kita karena kehebatan tim marketing mereka dibandingkan dengan kondisi nyata terkait dengan kualitasnya.
Sebagaimana kecenderungan budaya konsumtif yang saat ini sedang melanda masyarakat, proses pembelian pun cenderung bukan didorong oleh kebutuhan apalagi akal sehat.
Dorongan tersebut muncul dari kondisi buying trance, sebuah istilah pemasaran dengan mengupas kondisi psikologis personal maupun massa yang dipopulerkan oleh Joe Vitale.
Bagaimanapun, meminjam istilah para pesohor mengenai psikologi terkait kondisi kejiwaan manusia kondisi trance ini sebenarnya adalah sesuatu yang alami.
Alami karena setiap diri manusia cenderung mengalaminya.
Bahkan beberapa kajian psikologi membentuk postulat bahwa sebenarnya manusia hidup dari suatu trance ke sebuah trance yang lain sepanjang hidupnya.
Baiklah, sekarang kita kembali lagi ke topik mengenai kesimpulan saya bahwa proses demokrasi modern adalah sebuah proses buying trance.
Dengan kondisi seperti itu, bukankah hal tersebut cenderung menjadi sesuatu yang berbahaya?
Kita cenderung memilih pemimpin yang akan diberi amanah karena kehebatan metode marketing dari pembentukan citra kandidat terpilih.
Kita sudah tidak lagi melakukan proses analisis mengenai “produk demokrasi”.
Dorongan yang muncul lebih didominasi oleh “apa yang diinginkan” dibandingkan dengan “apa yang diperlukan”.
Akhirnya mungkin alternatif yang bisa kita lakukan adalah tips belanja ala Safir Senduk.
“Tahan keinginan kita untuk membeli. Biarkan selama beberapa hari. Jika ternyata keinginan kita menurun untuk membeli produk tersebut apalagi menghilang maka dapat dipastikan bahwa kita lebih didominasi dorongan konsumtif pada saat sebelumnya.”
Lantas bagaimana seandainya setelah “menahan diri” membeli “produk demokrasi” tersebut kita tidak segera memperoleh dorongan untuk “membeli salah satunya”?
Tidak masalah.. jadi golput nggak dilarang oleh hukum kok
Kalau saya sih daripada memaksakan diri memakan buah terbaik dari sekumpulan yang busuk lebih baik menolaknya daripada akhirnya nanti jadi sakit perut.
Popularity: 14% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Minimnya Pendidikan Politik Etis Formal dan Dampaknya pada Krisis Demokrasi
- Open Source Software Hanya Tren (alias nanti bakalan hilang)?
- Romadhon… Sekedar Ajang Menabung Pahala? (Demi Menebus Dosa Sepanjang Tahun)
- Sistem Informasi “Bukan” Sekedar Software Engineering!
- Hidup Jawa Barat!
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru
- Hasta la victoria siempre! Sampai kemenangan abadi nanti!
- Gank Motor Bandung: “Dekati Bukan Tembak Mereka”
- Megalomania: Penyakit yang Mewabah di Negeri Ini..
- Hebatnya Pak Harto!
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Bisnis Online Memiliki Prospek Bagus?
- Berita Basi: Ribut-Ribut IPDN (Kok Akabri Nggak Pernah Ribut yaa??)
- Kemampuan Kita Ternyata Tak Terbatas
- Wirausahawan Banyakan Nongkrong di Kantor? BAHAYA!

10 Komentar Terakhir