Pernahkah Anda merenungkan para raja sejati yang sedemikan luas, dalam dan lama pengaruhnya sebenarnya tidak pernah bercita-cita apalagi bermimpi menjadi raja?
Musa, Isa al-Masih, Muhammad SAW, Daud, Sulaiman dan raja-raja sejati lainnya sedikitpun tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi raja sejati seperti itu.
Padahal pengaruh mereka hingga ribuan tahun setelah wafatnya masih sedemikian mendalam dan luasnya di muka bumi ini.
Mereka adalah manusia-manusia yang layak disebut sebagai raja sejati.
Tetapi jika kita renungkan, mereka tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi seorang raja.
Cita-cita mereka sangat sederhana, mereka hanya ingin membuat kehidupan ini menjadi lebih baik.
Tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekelilingnya.
Sesuatu hal yang sungguh kontras dengan kondisi saat ini.
Saat ini kebanyakan orang bermimpi dan bercita-cita hanya demi memuaskan dorongan ego dan nafsunya saja.
Setiap potensi dan sumber daya yang melekat pada dirinya didedikasikan demi pemuasan ego dan nafsu tiada henti.
Bayangkan seorang Muhammad yang lebih sering menyendiri untuk merenung dan melakukan dialog intensif dengan dirinya.
Bayangkan seorang Daud yang sekedar didorong oleh keinginan berkorban demi masyarakatnya hingga berani menantang jagoan paling ditakuti di dunia, Goliath.
Bayangkan seorang Sulaiman yang sekedar ingin menjadi hakim yang adil bagi masyarakatnya.
Bayangkan seorang Musa yang sekedar ingin membebaskan kaumnya dari penindasan.
Bayangkan seorang Isa yang sekedar ingin mengajak kaumnya dari dekadensi moral yang sedemikian parahnya saat itu.
Bayangkan betapa mereka tidak pernah sedikitpun ingin menjadi seorang raja!
Mereka hanya ingin menjadikan hidup mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan keikhlasan yang sedemikian mendalam.
Mereka mencintai kehidupan tanpa takut menghadapi kematian.
Bagi mereka hidup haruslah diisi dengan perjuangan demi kesejahteraan bersama. Bukan sekedar mengejar mimpi-mimpi karena dorongan keserakahan jiwa dan nafsu.
Hidup adalah pengabdian bukan untuk diabdi!
Popularity: 19% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Surat Terbuka untuk Yang Mulia Para Petinggi Negeri
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)
- Haruskah Menjadi Wirausahawan?
- Siap Menghadapi Sesuatu yang Tidak Siap Kita Hadapi
- Kemuliaan Beliau TIDAK Akan Pernah Berkurang!
- Masihkah Pembeli adalah Raja?
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Hidup Ini Memang Tidak Adil
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”
- Para Remaja: Ayo Kita Lawan Bullying!!
- Masihkah Ada Alasan untuk TIDAK Berkurban?
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)

kang, dalam sebuah buku yang ditulis seorang tokoh pergerakan islam katanya
salah satu cara membuat konsep diri adalah menanyakan pada diri sendiri “engkau hendak dikenang sebagai apa”
ieu riya/ujub teu?
@ agah@flower city:
Halo Kang Agah..
Kalau pendapat saya sih masalah ujub (bangga diri) dan riya’ (ingin dipuji) ini berpulang kembali ke hati kita masing2.
Pergi hajji pun jadi kurang baik jika kemudian niat kita hanya sekedar ingin disapa “Pak Haji” atau dapat gelar Haji di depan nama kita.
Jadi untuk masalah ini dikembalikan kepada hati kita masing2.
Salam..