Pengalaman pribadi saya sejak dulu belajar melaksanakan ritual ibadah, selalu dikenalkan pada bagaimana kita harus memenuhi segala kewajiban berdasarkan hukum agama.
Sebagai seorang Muslim, saya dikenalkan kepada kewajiban-kewajiban minimal yang harus dipenuhi di dalam Rukum Islam. Plus tentu saja berbagai aturan dan himbauan lainnya yang seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri ini, apalagi nih kewajibannya..
Sehingga sangat wajar jika kemudian banyak orang kehilangan minatnya kepada agama yang melembaga dan memilih jalan spiritualnya sendiri dengan berbagai macam arah.
Bagi kelompok orang-orang seperti ini, selama mereka dapat merasakan adanya Sang Maha Disembah tidaklah menjadi masalah dengan harus mengikatkan diri dalam agama apapun.
Secara pribadi saya sendiri pernah mengalami kegelisahan spiritual yang kira-kira tergambarkan seperti itu.
Terlalu banyak aturan.. terlalu banyak kewajiban.. padahal toh kita masih mungkin bisa hidup berbahagia tanpa hal-hal itu. Lepas dari subyektifnya definisi bahagia.
Bayangkan saja.. sejak belajar beribadah yang selalu ditekankan dan diulang-ulang adalah ritual penghambaan tanpa esensi.
Segala sesuatu diukur dengan punish and reward.
Kalau kamu berlaku salah dan berdosa maka akan disiksa dan dimasukkan ke dalam neraka.
Tetapi jika kamu berlaku saleh dan beribadah maka akan diberi pahala plus diberi bonus masuk syurga.
Sesederhana itu.
Tanpa ada pengembangan kecerdasan menyeluruh atas diri kita. Seolah-olah Tuhan akan jadi lemah dan ditinggalkan jika kita tidak menghambakan diri kepada-Nya.
Kegelisahan saya mulai menurun sejak mulai belajar agama yang lebih menggali multi-kecerdasan sekitar 16 tahun yang lalu.
Saya mulai dibimbing untuk lebih “menikmati” ibadah yang dilakukan. Tidak hanya yang bersifat ritual tetapi ibadah-ibadah jasmaniah dan kejiwaan nyata yang diterapkan dalam praktik sehari-hari.
Ya.. menikmati ibadah hingga menjadi candu bagi diri kita.
Tidak sekedar menggerakkan fisik tapi juga menggerakkan mentalitas kita secara khidmat dengan terus-menerus merasakan kehadiran Sang Maha Esa dalam kehidupan ini.
Perjalanan spiritual yang ditempuh melalu serangkaian pelatihan yang memadukan aspek jasmani, ruhani dan kejiwaan kita.
Bayangkan saja jika sejak dulu belajar sholat atau bahkan melafalkan kalimat syahadat sudah dibimbing untuk merasakan kehadiran Sang Khalik dalam pusat kesadaran dan bawah sadar kita.
Menikmati setiap saat dalam perjalanan spiritual menggapai-Nya dan direngkuh oleh kasih sayang-Nya.
Bukan sekedar diperintahkan untuk menjalankan serangkaian kewajiban dan aturan.
Hingga akhirnya setiap kewajiban, aturan dan ajakan kebaikan itu menjadi sebuah candu yang memabukkan kita dalam cinta kasih-Nya.
Popularity: 7% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Ribut-Ribut Blokir Situs Porno
- Ayo kita belajar ihsan..
- Nggak Malu Ribut Melulu Ngomongin Hak?
- Romadhon… Sekedar Ajang Menabung Pahala? (Demi Menebus Dosa Sepanjang Tahun)
- Para Remaja: Ayo Kita Lawan Bullying!!
- Thuma’ninah – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (7)
- I’tidal – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (6)
- Benarkah Alloh adalah Tuhan Kita?
- Sujud – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (8)
- Thoharoh – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (1)
- Siap Menghadapi Sesuatu yang Tidak Siap Kita Hadapi
- Kemampuan Kita Ternyata Tak Terbatas
- Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
- Masihkah Ada Alasan untuk TIDAK Berkurban?
- Ruku’ – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (5)

10 Komentar Terakhir