Dulu, saat masih usia belasan tahun (wah.. ketahuan nih umur saya sudah nggak belasan lagi, hehehehe..)
Saya ingin sekali mengubah dunia dengan seluruh daya upaya.
Akhirnya setelah berkali-kali dikecewakan oleh “dunia”, saya pun menurunkan skala target pengubahan hanya sebatas lingkungan pergaulan/sosial di sekitar saya saja.
Ternyata ini pun tidak membuat usaha saya menjadi lebih mudah.
Lagi-lagi.. setelah berkali-kali dikecewakan oleh “lingkungan di sekitar saya”, skala target gerakan revolusioner pun menurun skalabilitasnya menjadi di lingkungan keluarga saja.
Tetapi.. ternyata hal ini pun luar biasa sulit dilaksanakan oleh saya.
Yang terjadi adalah saya semakin “merasa terasing” dan mungkin juga menyakiti banyak orang-orang yang menyayangi plus disayangi oleh saya.
Dengan kesadaran setelah berkali-kali “dikecewakan lingkungan eksternal” di sekitar saya, skala target revolusi pun diturunkan “hanya” pada diri saya sendiri saja.
Ternyata.. proses revolusi diri ini menghasilkan sesuatu yang lebih membahagiakan.
Membahagiakan tidak hanya bagi diri saya sendiri tapi pun bagi banyak orang di sekitar saya.
Hal paling membahagiakan adalah revolusi dengan target “hanya pada diri sendiri saja” itu ternyata memiliki dampak yang tidak sekedar menginspirasi tapi mampu menggerakkan lingkungan di sekitar saya.
Seorang teman yang kebetulan pelaku NLP (neuro linguistic program) mengatakan bahwa itu adalah dasar dari NLP.
Saya sendiri sih tidak ambil pusing masalah itu.
Sebab yang terpenting adalah saya harus menjalani revolusi ke arah yang lebih baik setiap harinya tanpa harus memaksa lingkungan di sekitar saya dan bertoleransi dengan apa adanya.
Hingga akhirnya saya sadar, bukan dunia yang harus kita ubah tapi diri sendiri ini yang harus dituntut untuk berubah dari waktu ke waktu menjadi lebih baik.
Bagaimana pun, kita tidak bisa membuat ayam mengembik bukan?
Biarlah ayam berkokok selama dia tidak berkeliaran membuang kotoran apalagi penyakit dimana2, hehehehe..
“Turunkan ego.. maklumi orang lain..”
Popularity: 4% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Seandainya Saya yang Isro Mi’roj (pasti nggak mau balik lagi ke dunia..)
- Sudahkah Kita Nikmati Ibadah Kita?
- Kemampuan Kita Ternyata Tak Terbatas
- Ayo kita belajar ihsan..
- Siap Menghadapi Sesuatu yang Tidak Siap Kita Hadapi
- Betapa Rapuhnya Kekayaan Harta Kita
- Benarkah Alloh adalah Tuhan Kita?
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Batas Itu Ada Dalam Pikiran Kita
- Kuasai Informasi untuk Kuasai Dunia!
- Al-Fatihah – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (4)
- Thoharoh – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (1)
- Ternyata Alloh SWT Melarang Kita Memberi karena Ingin Menerima Lebih Banyak..
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Bersyukurlah Kita Jadi Warga Negara dan Tinggal di Indonesia!

10 Komentar Terakhir