Waktu kecil, saya senang sekali menonton para tukang obat keliling yang sedang memasarkan dagangannya.
Saya seringkali terkesima dengan teknik dia berdagang. Bagaimana nggak terkesima, dagangannya selalu laris manis diborong orang-orang yang berkumpul mengelilinginya.
Sampai waktu sekolah di SMA, saya menyaksikan sendiri kalau ternyata tukang obat keliling itu punya sindikat pendukung pemasarannya.
Waktu itu saya iseng lihat-lihat seorang tukang obat keliling di pelataran Station Hall Bandung.
Nah, si tukang obat ini membagi-bagikan sebatang korek api ke semua pengunjungnya.
Dia mengancam kalau ada yang berani-berani mematahkan batang korek api itu pasti langsung kesurupan. Tiba-tiba baru saja dia selesai bicara, seorang pengunjung berteriak-teriak histeris sambil memegang batang korek api yang patah.
Dengan sigap sang tukang obat kemudian menempelkan cincin batu akiknya ke kening si pengunjung yang kemudian dengan cepat sembuh dari histerianya.
“Nah.. bapak-bapak sekalian.. sudah terbukti bahwa batu akik yang saya jual ternyata mujarab menyembuhkan kesurupan.. blablablabla…”
Sebelum sang tukang obat menyelesaikan ucapannya, saya iseng-iseng mematahkan batang korek api yang dibagikan tadi.
Nah, bisa Anda bayangkan apa yang kemudian terjadi?
Hampir semua orang termasuk sang tukang obat melotot ke arah saya
Saya sendiri dengan bodohnya hanya terbengong-bengong dan menunggu reaksi kesurupan seperti apa yang akan terjadi pada diri ini.
Tahu-tahu gemuruh tawa pengunjung yang kemudian bubar meninggalkan arena dan hanya menyisakan sekitar sepuluh laki-laki plus sang tukang obat di arena.
Plus kesadaran saya baru pulih waktu saya sudah ada di tengah-tengah mereka!
“Dasar go*** siah.. wawanian ngaruksak usaha batur (dasar go*** kamu.. berani-beraninya merusak usaha orang lain)” bentak sang tukang obat and the gank yang siap melumat saya.
Untungnya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seorang bapak separuh baya mendatangi kami dan mengamankan saya sampai ke pintu angkot, hehehehe..
Ternyata, fenomena tukang obat keliling seperti yang saya ceritakan tadi mengalami metamorfosis yang luar biasa.
Para tukang obat keliling plus sindikatnya ini sekarang sudah berani berkeliling di hotel-hotel mewah dengan memasang iklan yang luar biasa pula di banyak media massa.
Dengan iming-iming mampu memberikan tips cara cepat menjadi kaya-raya seketika para tukang obat ini sering dikunjungi hingga ribuan orang di setiap pertunjukannya.
Menampilkan atraksi bak seorang rocker kelas dunia, sang tukang tipu obat ini kemudian menghanyutkan para penontonnya dengan eksplorasi psikologi massa yang menghanyutkan.
Di tengah-tengah puncak histeria, sang tukang obat pun menggebrak massa untuk segera mendatangi counter-counter yang sudah dipenuhi antrian anggota sindikatnya untuk seketika “berinvestasi” dalam produk-produk cara instan menjadi kaya.
Para korban penipuan investor yang sedang dalam kondisi trance akibat pengaruh psikologi massa pun tanpa berpikir lagi segera berinvestasi sesuai perintah sang rocker tukang tipu obat keliling itu.
Tinggal para investor pulang dengan kebingungan memikirkan investasinya yang nggak jelas juntrungannya itu.
Sungguh.. sebuah metamorfosa yang luar biasa..
Popularity: 2% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Pahami Dulu, Baru Ambil Kesimpulan..
- Emang Saya Ini Luar Biasa Dahsyat.. Huahahaha..!!
- Selamat Tahun Baru 1429H (Heran, kok nggak ada sidang isbat yaa??)
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”
- Apa Resolusi Saya di 2008?
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- I Love You Mom(s)..
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Hebatnya Pak Harto!
- Romadhon… Sekedar Ajang Menabung Pahala? (Demi Menebus Dosa Sepanjang Tahun)
- Buruh Bisa Saya Ganti Pake Robot & Mesin!
- Profit Oriented VS Berkah Oriented
- Restoran Steak Suis Butcher yang Baru
- Berperang Demi Tuhan atau Demi Kekuasaan?
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)

wanian euy
artikel nya bagus sih, tapi kok gak berani tunjuk hidung ya ?
pake bahasa isyarat & petunjuk yang susah nangkepnya,…kok mirip mirip jualan ala tung desem ya ? juga mirip mirip ala blog nya kawan tda,…cerita inspirasi, testimoni, tapi jualan juga,…
kalo yg laen (testimoni tertutup, direkayasa (dimoderator dulu) jadi yg puas dan tidak puas, secara alami ketauan,…tapi bagus untuk pembelajaran,…(loh kok jadi ngelantur,…maafs)
tapi apakah hal yang kayak gitu salah juga ? kayaknya wajar aja ya,…asal tetap jujur, tidak direkayasa,…tapi seharusnya membuka peluang juga untuk bisa memberikan komentar secara terbuka, kayak blog ini nih (two thumbs up)
@ agah suragah:
Antara pemberani dan dungu memang tipis batasnya
@ souvenir pernikahan:
Kalau tunjuk hidung nanti bisa-bisa dituntut sama pengacara mereka karena dianggap mencemarkan nama baik yang sebenarnya sudah keruh, hihihi..
Saya kan nggak punya duit banyak buat bayar pengacara
Jualan obat atau apapun nggak salah.. selama nggak ada tujuan menipu dan memanfaatkan ketidaktahuan orang lain sih nggak apa-apa..
Masing-masing orang punya tolok ukur sendiri-sendiri masalah kejujuran, hehehe..
Tinggal lihat nurani masing-masing saja deh..
Salam..