Saat nonton Java Jazz 2008 kemarin, di antara rehat acara saya sempat ngobrol-ngobrol tanpa topik dengan salah seorang kepala dinas di kabupaten terkaya di republik ini.
Ngomong-ngomong, saya nonton Java Jazz bukan karena banyak duit atau punya selera tinggi. Tapi karena terpaksa harus sok gaya menemani beliau yang memang maniak jazz.
Saya sendiri dulu sempat terheran-heran karena seumur-umur terlibat kerjaan di beberapa pemda baru dengan beliau ini ketemu yang hobinya menikmati musik jazz.
Tapi sebenarnya sih nggak mengherankan, beliau ini sebelum jadi PNS adalah salah satu asisten manajer Alcatel di Indonesia
Kembali ke topik.
Dari ngobrol kesana-kemari itu pada akhirnya kami nyangkut di topik tingginya minat tenaga kerja usia produktif di kabupaten itu menjadi PTT (pegawai tidak tetap) alias honorer daerah di lingkungan pemerintah kabupaten.
Bayangkan, sebuah kontrak selama satu tahun untuk sekedar menjadi tenaga kontrak bisa dihargai jutaan rupiah oleh para oknum perekrutan pegawai di sana!
Anda bayangkan saja deh, kalau tiap tahun ada sekitar 12ribu tenaga kontrak, berapa uang yang bisa dijaring tiap tahun oleh para oknum tersebut.
Ah, sudahlah, kok jadi ngomongin orang.
Saya dan sang kepala dinas tersebut sebenarnya membahas betapa fenomena tingginya minat masyarakat usia produktif di kabupaten terkaya di Indonesia itu merupakan sebuah ironi.
Bayangkan, sebuah kabupaten dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 500 ribu jiwa tapi total APBD per tahunnya rata-rata mencapai angka 6 trilyun rupiah!
Seharusnya dengan dana sebesar itu bisa dimanfaatkan untuk program-program yang sifatnya mendorong semangat kemandirian.
Angka sebesar itu jika digunakan untuk memberdayakan sektor wirausaha di kabupaten itu pasti sudah menciptakan pengusaha-pengusaha tangguh yang produktif dan mandiri.
Bukan sekedar pengusaha kontraktor pemda yang sibuk kasak-kusuk kolusi demi mendapatkan order proyek.
Hal luar biasa lainnya adalah fakta bahwa sejak 1999 hingga sekarang, setiap tahun masing-masing desa di kabupaten itu mendapat kucuran dana cair senilai 2 milyar rupiah yang pertanggungjawabannya seringkali tidak jelas!
Padahal jika saja dana sebesar itu dimanfaatkan untuk mendorong sentra-sentra produksi industri rumah tangga yang ada di sana maka betapa luar biasanya hasil yang bisa dicapai dalam 9 tahun ini!
Tidak akan terlihat antrian panjang 10 ribu orang lebih yang berharap bisa hidup sejahtera dari sekedar menjadi seorang tenaga kontrak di kantor-kantor pemda.
“Wah, mestinya Bapak yang jadi kepala dinas tenaga kerjanya nih..” seloroh saya menanggapi hal tersebut.
“Ya repot lah Ris.. orang ngurus infrastruktur yang jelas-jelas benda mati aja susahnya setengah mati disini,” balas beliau sambil tertawa singkat.
“Yang jelas ini salah satu bukti kalau lembaga-lembaga pemerintah terutama di pemda-pemda masih kekurangan SDM yang kompeten.
Semestinya orang-orang yang ngurusnya itu punya ilmu dan didukung kemauan untuk bekerja secara profesional.
Masa harus nungguin dulu seluruh sumber daya alamnya habis baru cari-cari solusi buat ngeberesin masalah sosial yang pasti terjadi dan berat nanti.”
Iya sih.. dan saya pun hanya bisa mengangguk-angguk seperti pelatuk karena cuma bisa mengutuk.
Ya.. mengutuki orang-orang serakah yang nggak bagi-bagi hasil keserakahannya sama saya, hehehehe.. nau’udzubillah..
Pada titik ini saya hanya bisa bersyukur bahwa ternyata pilihan saya tidak salah sewaktu dulu menolak mentah-mentah ditawari menjadi PNS di kabupaten itu.
Sekalipun orang-orang yang dulu seharusnya sama-sama seangkatan dengan saya jadi PNS sekarang sudah hidup mewah dan berganti-ganti mobil terbaru. Bahkan sebagian malah ada yang juga ganti istri baru, hahahaha…
Udah ah, jadi ngelantur.
Popularity: 1% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Gank Motor Bandung: “Dekati Bukan Tembak Mereka”
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Ah.. Beneran nih Artalyta bukan Bendahara PP PKB?
- Behind the Process… Buku “Buktikan..! Anda Pasti Kaya-Raya”
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- Sistem Informasi “Bukan” Sekedar Software Engineering!
- Review Buku: “Rich Game – Cara Kaya dengan Investasi”
- Hidupilah Komunitas bukan Hidup dari Komunitas!
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- Rute ke BOEMI JOGLO (bukan Rumah Joglo yaa..)
- Hebatnya Pak Harto!
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Kemana Nih LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) Cs?
- Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)

10 Komentar Terakhir