Mahapatih Gajah Mada adalah sosok yang kontroversial. Hampir di seluruh kota/kabupaten di Indonesia mengabadikan tokoh ini sebagai nama jalan utama di wilayahnya.
Namun pernahkah kita perhatikan bahwa di wilayah Provinsi Jawa Barat tidak ada satu kotapun yang menggunakan nama Gajah Mada?
Ternyata hal ini terkait dengan polemik kesejarahan sosial di masyarakat Sunda yang terkait langsung dengan kebesaran nama Kerajaan Sunda.
Bagi masyarakat Sunda, Mahapatih Gajah Mada adalah tokoh antagonis yang sangat dibenci karena mengadu domba antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Sejarah kultural kebencian ini tercatat dalam Kidung Sunda/Kidung Sundayana.
Kidung Sunda/Kidung Sundayana ditulis oleh para mpu di Majapahit atas perintah Prabu Hayam Wuruk. Secara ilmiah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana lebih tepat dikelompokkan sebagai karya sastra.
Namun sebagai informasi mengenai terjadinya skandal/tragedi Bubat yang Kidung Sunda cukup dramatis menceritakan tentang kejadian tersebut. Bahkan orang Sunda yang terkenal halus tutur bahasanya dalam Kidung Sunda tercatat dialog yang sangat kasar antara para petinggi Kerajaan Sunda dengan Mahapatih Gajah Mada.
Pada akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada dan rombongan pengiring calon pengantin Kerajaan Sunda. Dalam catatan Kidung Sunda seluruh rombongan dari Kerajaan Sunda gugur, termasuk puteri Dyah Pitaloka.
Ada banyak versi dan penafsiran mengenai skandal Bubat tersebut (saya lebih cocok menggunakan kata skandal daripada perang karena lebih bersifat perkelahian spontan dan pembantaian daripada adu strategi militer).
Salah satunya adalah upaya untuk mendiskreditkan Mahapatih Gajah Mada. Seperti diketahui bahwa Gajah Mada bukanlah keturunan bangsawan di lingkungan kerajaan di Jawa. Kariernya dimulai sebakai bekel (kira-kira setara dengan pangkat Prajurit Dua TNI).
Kariernya mulai cemerlang saat menyelamatkan Prabu Jayanegara (Raja Kahuripan) pada saat pemberontakan Ra Kuti. Sehingga dianggkat menjadi Patih Kahuripan.
Jabatan ini dapat disetarakan dengan Perdana Menteri atau Kepala Pemerintahan. Selama itu jabatan tertinggi adalah Patih yang lebih bersifat seperti Sekretaris Negara atau Menteri Koordinator.
Sehingga sangat wajar jika diangkatnya Gajah Mada sebagai Mahapatih (rakryan patih) oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi menimbulkan kecemburuan dan menciptakan intrik di lingkungan Kerajaan Majapahit.
Pada saat Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa pun banyak pihak yang menyangsikan kemampuannya mewujudkan hal tersebut. Bahkan sebagian elit Majapahit menganggapnya sebagai upaya penjilatan kepada Ratu Majapahit saat itu.
Hal tersebut dapat dipahami karena sebagai pemimpin dan kepala negara Ratu Tribhuwanatunggadewi pada saat itu sedang mengalami krisis kepemimpinan yang sangat parah sepanjang sejarah para Raja Majapahit.
Pada saat itu banyak wilayah di Majapahit yang melakukan pemberontakan separatis terutama gerakan Keta dan Sadeng. Patih Gajah Mada pun berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga diangkat menjadi Mahapatih oleh Ratu Majapahit.
Ternyata Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya dengan menguasai Bedahulu (Bali), Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra), Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.
Di jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.
Jika melihat catatan penguasaan Majapahit di atas maka dapat dilihat bahwa Sunda tidak pernah menjadi wilayah Nusantara. Sekalipun Gajah Mada menyebutkan Kerajaan Sunda sebagai salah satu target yang harus dikuasai pada saat mengikrarkan Sumpah Palapa.
Adapun terjemahan dari bunyi Sumpah Palapa adalah sebagai berikut:
Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.
Hingga sangat wajar jika kemudian Gajah Mada begitu bernafsu ingin menjadikan Puteri Dyah Pitaloka sebagai persembahan tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit. Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan pengantar calon pengantin yang dipimpin oleh Raja Sunda langsung tersebut sebagai kesempatan untuk menaklukkan Kerajaan Sunda.
Maka Gajah Mada pun kemudian melarang Prabu Hayam Wuruk untuk menjemput rombongan calon pengantinnya ke Desa Bubat. Dengan membawa pasukan yang besar dengan tujuan untuk mengintimidasi Raja Sunda berangkatlah Gajah Mada ke Bubat hingga terjadilah skandal pembantaian tersebut.
Secara pribadi saya sendiri kurang setuju dengan pengangkatan Gajah Mada menjadi Pahlawan Nasional. Bagaimanapun konsep Nusantara yang diadopsi dalam sistem kenegaraan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara kesejarahan sedikit-banyak mencederai perasaan kebanggaan identitas kesukuan beberapa saudara sebangsa kita di banyak wilayah.
NKRI bukanlah kelanjutan dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. NKRI tidak sekedar Jakarta dan Pulau Jawa saja. NKRI adalah komitmen para pendahulu kita yang menginginkan berdirinya Indonesia sebagai tanah air, bangsa dan bahasa sebagaimana terucap dalam Sumpah Pemuda.
Maka sudah selayaknya pemakaian konsep-konsep dan penamaan sistem kebangsaan dan kenegaraan di NKRI ditinjau ulang.
Pernahkah kita bertanya mengenai konsep Nusantara?
Nusantara merupakan konsep imperialisme kerajaan-kerajaan di Jawa. Pada saat itu terdapat sistem kewilayahan yang membagi tiga kategori teritorial untuk daerah di kerajaan-kerajaan Jawa.
Tiga kategori tersebut adalah sebagai berikut:
- Negara Agung
Adalah wilayah khusus ibukota tempat berdiamnya sang raja dalam menjalankan roda pemerintahan dan kenegaraan sehari-hari. Wilayah yang disebut negara agung adalah pusat pemerintahan sebuah kerajaan Jawa. - Mancanegara
Adalah wilayah-wilayah sekitar negara agung yang mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa seperti Madura, Sunda dan Bali. - Nusantara
Adalah wilayah atau kerajaan-kerajaan yang tidak mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa tetapi masih merupakan daerah kekuasaan dimana para rajanya harus memberikan upeti kepada raja Jawa.
Maka dapat kita lihat bahwa polemik mengenai status Gajah Mada sebagai pahlawan nasional mungkin harus kita kaji ulang. Mungkin lebih tepat jika Gajah Mada kita hormati sebagai tokoh yang berperan dalam sejarah panjang perjalanan suku Jawa di Indonesia.
Sedangkan posisinya sebagai pahlawan nasional dapat dipertimbangkan karena jelas sekali bahwa Gajah Mada bukanlah tokoh kemerdekaan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.
Topik yang mungkin Terkait:
- Review Buku “Kantongi Sang Gajah”
- Mohamad Toha: “Pahlawan Nasional Tanpa Tanda Jasa”
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Polemik “Jangan Percaya Semua yang Kamu Baca” & “Validitas Informasi di Wikipedia”
- Fluoride, Menyehatkan atau Meracuni?
- Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
- Punakawan: Simbol Kerendahhatian dan Penebar Hikmah
- Dilema dan Fenomena Snouck Hurgonje
- Review Buku “Don’t be Sad” atau “Laa Tahzaan”
- Pilih Durinya atau Dagingnya?
- Ditindas atau Bangkit Melawan!!
- Ditindas atau Bangkit Melawan (Jilid 2)
- Berbasa Daerah = Kampungan?
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development” Bagian 2




Sudah.. sudah…
pada ngeless nih komen2nya…
intinya adalah: Gajahmada adalah seorang agresor!! a.k.a penjajah!!
ingat,, Penjajah!!!
mo pahlawan terserah, mo enggak jg bodo amat. kalo orang itu masih hidup lewat di depan saya pasti dah saya tabok tu orang.. huhh…
Lebih baik Bung Tomo yg harusnya jadi pahlawan. Suer beliau lebih pantas.
ahh.. ini seperti tulisan-tulisan di pravda tempo dulu… cuma orang sunda konservatif yang gak mengakui kejayaan majapahit. itu udah menjadi sejarah bung. Padahal di Jawa (tengah dan timur) nama-nama seperti parahyangan, pasundan, tarumanagara banyak dipakai sebagai nama jalan, bahkan ada dua penerus sah dari tahta KERAJAAN SUNDA yang menjadi raja besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
1. Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama, raja ke 2 Kerajaan Sunda-Galuh(723 – 732M), menjadi raja di Kerajaan Mataram (Hindu) (732 – 760M). Ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno, dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.
2. Raden Wijaya, penerus sah Kerajaan Sunda ke – 26, yang lahir di Pakuan, dan dikemudian hari menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M).
kelihatan sekali polemik atau tulisan ini sangat picik, apalagi sampai mempermasalahkan gajah mada yang bukan keturunan ningrat. pejabat kita banyak yang ningrat tapi hedonis doang. mending bekas kere tapi bisa memimpin negeri… ahh maaf saya buang-buang waktu baca polemik ini.
Let bygones be bygones … Makhluk yang diciptakan oleh ALLAH dan berjenis manusia ini diciptakan untuk saling kenal mengenal … sekedar mengingatkan saja, jangan ada benci diantara kita …
apa gajah mada menjadi pahlawan nasional ? kira-kira bagaimana reaksi masyarakat jawa barat atau orang sunda mendengar berita tsb. saya yakin orang-orang sunda umumnya masih mengingat pristiwa bubat yang menyebabkan gugurnya prabu linggabuana dan dyah pitaloka karena politik gajah mada, jadi pengangkatan gajah mada menjadi pahlawan nasional tidak tepat bahkan salah besar. pahlawan mungkin bagi orang-orang jawa tengah atau jawa timur tapi bagi urang sunda gajah mada bukan siapa-siapa yang jelas dia adalah seorang prajurit yang suka menghalalkan segala cara demi terciptanya cita-cita. setahu saya satu-satunya wilayah yang belum dijajah oleh majapahit adalah kerajaan sunda oleh karena itu moment ketika sang prabu lingga buana dan putri dyah pitaloka hadir dalam persembahan kepada raja hayam wuruk dimanfaatkan oleh patih gajah mada sebagai upeti sebagai tanda menyerahnya kerajaan sunda kepada majapahit. sungguh dari dulu yang namanya politik itu kotor sekali
Hal yang paling penting untuk diketahui tentang tokoh Gajah Mada, asal usulnya dari mana, dan dikuburkan di mana. Ketidak-jelasan hal ini memaksa kita untuk menerima dan mendengar sejumlah klaim bahwa Gajah Mada berasal dari daerah ini, dari daerah itu. Tapi tidak ada klaim, Gajah Mada dikuburkan di sini, dikuburkan di sana.
Satu paparan dari Badan Arkeologi Nasional Jakarta, menjelang akhir hidupnya, Gajah Mada melakukan perjalanan ke timur. Tiba di suatu wilayah di Lombok Timur ( Nusa Tenggara Barat ). Ingat kitab Negarakretagama pertama kali ditemukan di Lombok pada tahun 1800-an. Ada klaim masyarakat setempat , sebuah petilasan di tempat tersebut merupakan kuburan Gajah Mada. Penelitian yang dilakukan Badan Arkeologi Nasional menunjukkan , petilasan tersebut bukan kuburan Gajah Mada melainkan hanya tempat singgah beristirahat. Gajah Mada masih melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tapi ke mana ? Sayangnya Badan Arkeologi Nasional terhenti sampai di situ. Jika berbicara ” masih ke timur ” ada yang menarik yaitu di Dompu NTB ( atau ” Dompo ” salah satu wilayah yang tersebut dalam Sumpah Palapa-nya Gajah Mada ) sebuah kuburan diklaim sebagai kuburan Gajah Mada. Terletak di wilayah Hu-u. Begitu pula, kata “Mada” berasal dari kosa kata bahasa apa ? Apakah ” Modo” ? Jika demikian, mengapa tidak disebut “Gajah Modo”? Justru kata”Mada ” adalah kosa kata bahasa Bima dalam beberapa pengertian . Mungkin di beberapa daerah juga ada kata ” mada ” tetapi apakah terkait dengan sejarah Gajah MAda ? Semua klaim terhadap Gajah Mada tidak perlu disiniskan. Tradisi suatu komunitas di suatu daerah berkaitan dengan Gaja Mada tidak perlu dilecehkan dan ditertawakan karena kita sendiri tidak memiliki dasar berupa bukti-bukti arkeologi yang mendukung sanggahan kita. Biarkan klaim tersebut bersenandung dalam kegelapan sejarah Gajah Mada.
Bukannya mau mengakimi lebih jauh, tapi bukannya kerajaan2 & suku2 pra-majaphit juga terjadi karena skandal atau clash antar suku & kerajaan… karena kerajaan itu kan terjadi karena penjajahan2 kecil yang lama2 membentuk kerajaan.. di barat, arab, belahan dunia manapun itu semua terjadi dan apabila disalahkan mau disalahkan dari sisi mana? cuma mau realistis aja kok
Gajah Mada siapa itu ? Aku hanya tahu Gajah Bengkak
GAJAH MADA… seorang pahlawan… tanpa dia g ada yg namanya nusantara… g ada yg namanya indonesia… byk pulau yg dia stukan fren…. dasar g tau sejarah…. asal mangap aja lu mau main tabok…
Aku setuju sekali Mahapatih Gajah Mada Sebagai Pahlawan Nasional
—> Ferdy (anak kemarin Sore)
Gajahmada pahlawan??
Jadi apa saya harus bilang WaouWW….. gt??
Pahlawannya buat mu ya aku sih cuek2 aja toh.. (pahlawan rakus kekuasaan = sama seperti pejabat2 skrg,, WT Fuck..)
Sejarah mana yang kamu baca???
nagara kartagama??terbukti bgt wawasan historis mu dangkal bgt sih ‘nyet!!
ya,, jelas dong disitu mah gak bakalan ceritain kejahatan si gajahMD, rugi ntar prestasi majapahit ada rapot merahnya & kecewa ntar penonton. 
Baca & resapin sumber lain yang netral dong masss tolee… (pararaton, wangsakerta, kidung sunda, dll).
Nusantara mbah mu????
Orang sunda dari ujung kulon sampai batas kali cipamali (brebes) gak urusan sama propaganda Nusantara nya Majapahit.
Ente tanya deh ke orang2 di luar pulo jawa, sudi gak sama Nusantara nya majapahit. Dasar penjajah!!!
Laknatullah…
Majapahit
Indonesia (gak nyambung bgt, jauh bgt rentan waktunya) Ngayal nya ketinggian ‘nyet ah..!!
Saya hormat sama majapahit & Raja nya yang berwibawa & gak haus darah, tp saya berani bilang “TIDAK” buat penguasa yang “bezad”, contoh: GajahMD, dah gt dipropagandain jd pahlawan nagara lagih.. (lebayy bgt)
so saya tambah lagi tabok nya satu lagi buat elo, biar eling!!
blegug siah!!!
@raden_anom : Dasar bodoh..kamu itu orang sipil gak tau apa-apa tentang strategi perang,pikiran untuk masa depan,kalau tidak ada gajah mada kita sesama indonesia tidak akan saling mengenal..jadi kalau gak tau apa-apa itu diam saja………sekolah lulusan apa kamu itu
Keberadaan asal usul Mahapatih Gajah Mada di eks wilayah kerajaan buton tak perlu lagi diragukan. sayang para sejarawan asal pulau jawa belum mau iklas melepas pamor kebesaran gajah mada di wilayahnya sehingga sampai sekarangpun mereka tak mau melirik buton sebagai asal usul gajah mada untuk diteliti secara ilmiah dengan observasi, ekskavasi dan forensik. Kami akan tetap berjuang utk mengajak pihak lander utk datang ke tanah buton teliti keberadaan itu. http://kabali-indonesia.blogspot.com/2012/09/semakin-sangat-jelas-kisah-maha-patih.html
sebelumnya saya sedang tertarik kepada sejarah sri baduga prabu siliwangi, oleh karna itu saya membuka banyak artikel terkait termasuk yg satu ini, setelah membaca dengan seksama, saya pun teringat akan kejadian yg saya alami ketika saya sedang berada di bali dimana pada saat itu saya seding membahas mengenai nama2 jalan di bali dengan kenalan saya yg notabenenya orang bali asli di nama depan i gusti, dan ketika saya bertanya kenapa di bali tidak ada jalan yg dinamai jalan gajah mada yang saya lihat selama saya berada di bali, teman saya langsung memasang wajah bingung, dan dia pun langsung bertanya kepada saya ” memangya kamu ga tau kalo orang bali kebanyakan menganggap gajah mada sebagai penjahat?”
dan saat saya mebaca artikel ini beserta komen2 didalamnya, saya teringat akan kisah yg dituturkan teman saya di bali, lau saya pun mencari artikel terkait mengenai kejadian yang membuat gajahmada dibenci oleh orang bali pada zaman dahulu ataupun sekarang ini dia salah satu sumbernya : http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2010/01/kebo-iwa.html , setelah membaca artikel dari link diatas, saya yakin mungkin sebagaian dari anda2 dapat berimajinasi liar dan meraba raba bahwa apa terjadi antara gajahmada dan rombongan kerajaan sunda di pelabuhan bubat !! yang saya pelajari dari skandal gajah mada dengan kerajaan bali adalah gajah mada itu sangat pintar, tapi karna terlalu pintar otaknya jadi kotor, karna kotor jadilah yg namanya licik, ga mampu pake jalan ksatria malah pake siasat licik..berhasil sih emang, namanya harum bagi sebagain penduduk di pulau jawa emang, tapi bagi orang2 dari luar pulau jawa memandangnya sebagai orang yg ambisius, serakah, tegas dalam artian yg lebih mengarah pada kekejaman, tangan besi, sangat bertolak belakang dengan pahlawan2 negeri pajajaran jaman dahulu yang jujur dan empati terhadap saudara sebangsa ataupun bukan sebangsa sepeti sri baduga. saya berdarah bangka, 6 tahun dimalang, 5 tahun di bone, dan 20 tahun dibandung, komen2 di atas yg terlalu berbau rasis sangat tidak mengenakan bagi suku2 bangsa yg terkenal sering merantau seperti saya yg notabene dari suku melayu, terima kasih
Sunda bali atau jawa atau melayu sama saja. kebetulan dulu kerajaan majapahit lebih maju ketimbang kerajaan lainnya…armada perangnya lebih kuat, itu fakta. klo waktu itu bali atau sunda lebih maju ya sudah pasti Bali atau sunda yang mungkin berusaha menguasai daerah kerajaan2 disekitarnya. Kita sedang mengukur kualitas seseorang..bukan suku. peran majapahit dalam hal ini jelas…klo gada majapahit mungkin sunda atau bali saat ini bukan bagian dari Indonesia…ekspansi dan agresi kerajaan2 kuat di asia seperti Mongol jelas membumi hanguskan nusantara tanpa adanya kekuatan kerajaan Majapahit. Jelas peran Gajah mada dalam hal ini besar, tntunya dengan dukungan Tribuana dan gayatri….Klo sunda sih mamang gabisa perang,di jaman penjajahan belanda pun satu satunya kerajaan yang dikuasai VOC dijaman belanda tanpa konfrontasi cukup dengan Negoisasi ya hanya kerajaan Sunda…perkawinan campur pribumi dan penjajah Belanda paling banyak jga di Sunda, apa artinya?? Kerajaan sunda memang lemah untuk urusan pertahanan dan perang….jadi gausah nyalahin majapahit. hehehe. Disaat kerajan kerajaan lain mati-matian menentang kehadiran VOC raja-raja sunda malah bilang “mangga atu kang, sok wae di candak…” Gajah mada jelas Personal yang berkarakter dan Cerdas, itu harus diakui….pandangan soal perang dijaman dulu dengan sekarang jangan di samaratakan…jelas BEDA.
Sriwijaya juga tidak punya cacat sejarah seperti kepengecutan Majapahit maupun keturunannya, bukti sejarah jelas kekuasaan Sriwijaya atas wilayah Nusantara (banyak Prasasti2 berbahasa Melayu kuno ada di Pulau jawa,
tentang majapahit sendiri, hanya sebuah karya sastra Negara Kertagama doang yg jadi acuan kekuasaan Majapahit, peninggalan2 lain di Sumatera dan pulau lain tidak ada, bahkan di dalam bait2 sumpah Gajah Mada tersebut hanya tertera kalimat ; “Lamun kalah…”
yang jika diartikan, ‘seandainya kalah’ atau ‘jika kalah’…hal ini menunjukkan bahwa sumpah amukti palapa tersebut belum tercapai
sebagai informasi, bahwa menurut sejarah/hikayat wilayah Aceh dan Sumatera Utara, Pasukan Gajah Mada dikalahkan dan dibantai habis, di Kota Tulang, Pasai dan Barus…gajah Mada hanya mampu bertahan sampai di wilayah bekas Sriwijaya dan Minangkabau
ga usah jd provokatorlah, NKRI jgn coba2 di pecah belah dg hal kcl yg menimbulkan sentimentil ! BTW , pada ga ada kerjaan ya debatin yg gituan ?
udahlah, Poso Lom selesai , sampit msh terbayang kesadisannya ! semua krn provokator yg ga ada kerjaan buat nafkah klrganya !
Gajah Mada memang bersalah soal skandal di Bubat,namanya juga manusia. Tapi itu juga tidak lepas dari kekolotan orang-orang sunda sendiri yang tidak “Melek” pada sebuah cita-cita besar.
Yang mau saya katakan sebenarnya;
“Patih Gajah Mada memang bukan orang baik-baik bagi orang Sunda, makanya Presiden di negeri ini gak ada yang orang Sunda (entah saking baiknya atau saking kolotnya)
Kalian Orang2 Sunda jangan Banyak Omongan,,,,
Liat aja Kenyataan Yang Ada,,,
Derajat Orang Jawa memang Paling Tinggi diantara yang ada di Nusantara ini,,,
Bahkan Di Tanah Batak Pun,,,mereka tetap terhormat,,,,
Malahan rata2 dari mereka jadi pemimpin,,beda sama orang sunda yang rata2 jadi penghibur,,,
Bahkan di Jakarta pun dunia Perlontean di dominasi oleh kaum kalian,,,kek mana pula klen bilang klen suku terhormat,,,
macam pelacur masa kw bilang terhormat??????
Weehh….. Hancur sudah NKRI ku tercinta kalau keadaan yang seperti ini masih selalu di terus2kan.
Inget cuuyyy…… NKRI HARGA MATI….!!!
LU CABUT PATOK PERSATUAN, GW GETOK LO PAKE PALU BODEMM….!!!
Lha wong kejadian perang bubat gak sejaman dengan kita kok ya percaya aja kalo gajah mada itu pengadu domba….Yang nulis kalo gajah mada pengadu domba itu apa bisa membuktikan secara ilmiah benar-benar terjadi….??? jangan hanya percaya KATANYA/CERITA ORANG TUA TURUN TEMURUN….
Kidung sundayana ditulis tahun berapa??? sejaman nggak sama peristiwa perang bubat itu sendiri…??? Peristiwa itu (perang bubat) kalau benar terjadi udah lebih dari 650 tahun. Apa kita yang hidup tahun 2010 an ini mengalaminya…??
Setiap orang yang kerja sungguh-sungguh, jujur, benar pasti dianggap sebagai penjilat, sok bersih, sok tertib dan lainnya itu
Kalau peristiwa itu (perang bubbat)dan benar-benar kesalahan gajah mada memang benar terjadi….apa generasi sekarang mau tetap dendam??? toh udah gak ada kerabat kita yang jadi korban…yang saat ini masih hidup…
Indonesia Tanah air ku,
Insyallah Dulu memang daratan kita satu, Dan akhirnya Tuhan memisahkan daratan ini agar kita semua berfikir dari setiap kejadian yg pernah di alami oleh nenek moyang kita, Mungkin Tuhan memisahkan kita dengan alasan yg lebih baik. Dan jelas bahwa sekarang kita terpisahkan daratan ini tapi kita sudah bersatu sebagai NKRI yg bermartabat. dan janganlah kita terpecahkan lagi dengan saling mempertahankan sebagian pendapat dengan menjatuhkan sebagian pendapat lain.
cukup sudah kita berselisih dan jangan sampai kita mengulangi kesalahan nenek moyang kita dulu dan akhirnya Tuhan benar-benar menenggelamkan kita untuk selama-lamanya. cukup sudah, jgn diteruskan, cukuplah sampai disini. Jangan sampai penyesalan itu akan menghampiri kita.
Kalau kita berkutat mencari perbedaan di antara kita, pasti ada saja yang dianggap berbeda. Selaginya saudara kandung, bahkan saudara kembar identik saja, pasti ada perbedaannya. Sebetulnys suku Jawa, Sunda, Sumatera (Batak, Minang, Aceh, Lampung dll), Kalimantan (Dayak dll), Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Ambon, Papua, kita memiliki banyak persamaan. Coba dibandingkan dengan ras Aria (Eropa), Indian, Negro dll, barulah terlihat banyak perbedaannya. Soal pertikaian masa lalu yang sudah menjadi sejarah, sebaiknya kita pakai sebagai acuan pembelajaran, supaya tidak kita ulangan di masa kini maupun masa mendatang.
Semangatnya : Janganlah terus mencari-cari perbedaan, syukurilah berbagai persamaan yang ada di antara kita, untuk memupuk persatuan dan kesatuan. Tawuran dan pertikaian sudah terlalu banyak dan terlalu sering. Korban sudah banyak. Waspadalah pada para provokator, baik lokal maupun penyusupan dari luar. Jangan buang-buang enersi untuk hal yang tidak ada gunanya.