Arsip Postingan

Blog yang Setiap Hari Saya Kunjungi

Polemik Mahapatih Gajah Mada: Penjajah atau Pahlawan?

Mahapatih Gajah Mada adalah sosok yang kontroversial. Hampir di seluruh kota/kabupaten di Indonesia mengabadikan tokoh ini sebagai nama jalan utama di wilayahnya.

Namun pernahkah kita perhatikan bahwa di wilayah Provinsi Jawa Barat tidak ada satu kotapun yang menggunakan nama Gajah Mada?

Ternyata hal ini terkait dengan polemik kesejarahan sosial di masyarakat Sunda yang terkait langsung dengan kebesaran nama Kerajaan Sunda.

Bagi masyarakat Sunda, Mahapatih Gajah Mada adalah tokoh antagonis yang sangat dibenci karena mengadu domba antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Sejarah kultural kebencian ini tercatat dalam Kidung Sunda/Kidung Sundayana.

Kidung Sunda/Kidung Sundayana ditulis oleh para mpu di Majapahit atas perintah Prabu Hayam Wuruk. Secara ilmiah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana lebih tepat dikelompokkan sebagai karya sastra.

Namun sebagai informasi mengenai terjadinya skandal/tragedi Bubat yang Kidung Sunda cukup dramatis menceritakan tentang kejadian tersebut. Bahkan orang Sunda yang terkenal halus tutur bahasanya dalam Kidung Sunda tercatat dialog yang sangat kasar antara para petinggi Kerajaan Sunda dengan Mahapatih Gajah Mada.

Pada akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada dan rombongan pengiring calon pengantin Kerajaan Sunda. Dalam catatan Kidung Sunda seluruh rombongan dari Kerajaan Sunda gugur, termasuk puteri Dyah Pitaloka.

Ada banyak versi dan penafsiran mengenai skandal Bubat tersebut (saya lebih cocok menggunakan kata skandal daripada perang karena lebih bersifat perkelahian spontan dan pembantaian daripada adu strategi militer).

Salah satunya adalah upaya untuk mendiskreditkan Mahapatih Gajah Mada. Seperti diketahui bahwa Gajah Mada bukanlah keturunan bangsawan di lingkungan kerajaan di Jawa. Kariernya dimulai sebakai bekel (kira-kira setara dengan pangkat Prajurit Dua TNI).

Kariernya mulai cemerlang saat menyelamatkan Prabu Jayanegara (Raja Kahuripan) pada saat pemberontakan Ra Kuti. Sehingga dianggkat menjadi Patih Kahuripan.

Jabatan ini dapat disetarakan dengan Perdana Menteri atau Kepala Pemerintahan. Selama itu jabatan tertinggi adalah Patih yang lebih bersifat seperti Sekretaris Negara atau Menteri Koordinator.

Sehingga sangat wajar jika diangkatnya Gajah Mada sebagai Mahapatih (rakryan patih) oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi menimbulkan kecemburuan dan menciptakan intrik di lingkungan Kerajaan Majapahit.

Pada saat Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa pun banyak pihak yang menyangsikan kemampuannya mewujudkan hal tersebut. Bahkan sebagian elit Majapahit menganggapnya sebagai upaya penjilatan kepada Ratu Majapahit saat itu.

Hal tersebut dapat dipahami karena sebagai pemimpin dan kepala negara Ratu Tribhuwanatunggadewi pada saat itu sedang mengalami krisis kepemimpinan yang sangat parah sepanjang sejarah para Raja Majapahit.

Pada saat itu banyak wilayah di Majapahit yang melakukan pemberontakan separatis terutama gerakan Keta dan Sadeng. Patih Gajah Mada pun berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga diangkat menjadi Mahapatih oleh Ratu Majapahit.

Ternyata Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya dengan menguasai Bedahulu (Bali), Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra), Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Jika melihat catatan penguasaan Majapahit di atas maka dapat dilihat bahwa Sunda tidak pernah menjadi wilayah Nusantara. Sekalipun Gajah Mada menyebutkan Kerajaan Sunda sebagai salah satu target yang harus dikuasai pada saat mengikrarkan Sumpah Palapa.

Adapun terjemahan dari bunyi Sumpah Palapa adalah sebagai berikut:
Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.

Hingga sangat wajar jika kemudian Gajah Mada begitu bernafsu ingin menjadikan Puteri Dyah Pitaloka sebagai persembahan tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit. Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan pengantar calon pengantin yang dipimpin oleh Raja Sunda langsung tersebut sebagai kesempatan untuk menaklukkan Kerajaan Sunda.

Maka Gajah Mada pun kemudian melarang Prabu Hayam Wuruk untuk menjemput rombongan calon pengantinnya ke Desa Bubat. Dengan membawa pasukan yang besar dengan tujuan untuk mengintimidasi Raja Sunda berangkatlah Gajah Mada ke Bubat hingga terjadilah skandal pembantaian tersebut.

Secara pribadi saya sendiri kurang setuju dengan pengangkatan Gajah Mada menjadi Pahlawan Nasional. Bagaimanapun konsep Nusantara yang diadopsi dalam sistem kenegaraan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara kesejarahan sedikit-banyak mencederai perasaan kebanggaan identitas kesukuan beberapa saudara sebangsa kita di banyak wilayah.

NKRI bukanlah kelanjutan dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. NKRI tidak sekedar Jakarta dan Pulau Jawa saja. NKRI adalah komitmen para pendahulu kita yang menginginkan berdirinya Indonesia sebagai tanah air, bangsa dan bahasa sebagaimana terucap dalam Sumpah Pemuda.

Maka sudah selayaknya pemakaian konsep-konsep dan penamaan sistem kebangsaan dan kenegaraan di NKRI ditinjau ulang.

Pernahkah kita bertanya mengenai konsep Nusantara?

Nusantara merupakan konsep imperialisme kerajaan-kerajaan di Jawa. Pada saat itu terdapat sistem kewilayahan yang membagi tiga kategori teritorial untuk daerah di kerajaan-kerajaan Jawa.

Tiga kategori tersebut adalah sebagai berikut:

  • Negara Agung
    Adalah wilayah khusus ibukota tempat berdiamnya sang raja dalam menjalankan roda pemerintahan dan kenegaraan sehari-hari. Wilayah yang disebut negara agung adalah pusat pemerintahan sebuah kerajaan Jawa.
  • Mancanegara
    Adalah wilayah-wilayah sekitar negara agung yang mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa seperti Madura, Sunda dan Bali.
  • Nusantara
    Adalah wilayah atau kerajaan-kerajaan yang tidak mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa tetapi masih merupakan daerah kekuasaan dimana para rajanya harus memberikan upeti kepada raja Jawa.

Maka dapat kita lihat bahwa polemik mengenai status Gajah Mada sebagai pahlawan nasional mungkin harus kita kaji ulang. Mungkin lebih tepat jika Gajah Mada kita hormati sebagai tokoh yang berperan dalam sejarah panjang perjalanan suku Jawa di Indonesia.

Sedangkan posisinya sebagai pahlawan nasional dapat dipertimbangkan karena jelas sekali bahwa Gajah Mada bukanlah tokoh kemerdekaan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.

Popularity: 15% [?]

Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Polemik Mahapatih Gajah Mada: Penjajah atau Pahlawan?
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed

Topik yang mungkin Terkait:

  1. Review Buku “Kantongi Sang Gajah”
  2. Mohamad Toha: “Pahlawan Nasional Tanpa Tanda Jasa”
  3. Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
  4. Polemik “Jangan Percaya Semua yang Kamu Baca” & “Validitas Informasi di Wikipedia”
  5. Fluoride, Menyehatkan atau Meracuni?
  6. Punakawan: Simbol Kerendahhatian dan Penebar Hikmah
  7. Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
  8. Dilema dan Fenomena Snouck Hurgonje
  9. Review Buku “Don’t be Sad” atau “Laa Tahzaan”
  10. Pilih Durinya atau Dagingnya?
  11. Ditindas atau Bangkit Melawan!!
  12. Berbasa Daerah = Kampungan?
  13. Ditindas atau Bangkit Melawan (Jilid 2)
  14. Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
  15. Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development” Bagian 2

154 comments to Polemik Mahapatih Gajah Mada: Penjajah atau Pahlawan?

  • Viecho

    Gajah mada seorang tokoh yang kontroversial dalam sejarah di Indonesia. Kita ambil saja hikmahnya, bagaimana dengan tekad yang kuat menyatukan nusantara. Kita orang Indonesia sukanya hanya mendebat, tapi tidak bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa sejarah. Mengenai benar tidaknya sepak terjang seorang Gajah Mada yang dipaparkan, kita bisa menilai masing-masing. Paling tidak kita bisa meihat bagaimana seorang pemimpin yang yang benar-benar ingin menyatukan keanekaragaman dalam satu kesatuan nusantara. Persatuan itu jangan diobral tapi dilaksanakan dengan cara kita menghormati keanekaragaman itu.

  • the truth

    Bagi siapa saja yang masih ngotot percaya gajah mada sebagai penakluk nusantara berdasar kitab negarakertagama tanpa pernah membaca kitab didaerah lain yang dikatakan penaklukan, maka siapkah anda jika anda membaca sisi lain yang sama sekali berlawanan dengan anggapan anda selama ini?? dan berdasar penelitian arkeolog? darimana keris berkelok kelok di Jawa itu berasal?

    silahkan anda masuk forum detik > politik & peristiwa > pendidikan > sejarah > mahapatih gajah mada
    langsung saja halaman 6 topik MACCAPAI = MAJAPAHIT? PART 1 SAMPAI 4

    Jika anda menyangkal, saya tunggu comment anda disana.

  • Roelly

    Bagaimanapun kejadian masa lalu sebelum republik ini terbentuk anggaplah sebagai pelajaran demi kedewasaan bangsa. Semangat sentimen kesukuan / etnosentrisme jangan lagi berkobar dalam konsep berkebangsaan yang satu.

    Sedikit menyoroti tentang etnosentrisme jawa – sunda hingga polemik tentang kepahlawanan Gajah Mada, perlu saya sampaikan khusunya mengenai Perang Bubat: Kuat dugaan saya bahwa peristiwa Perang Bubat tidak pernah terjadi alias fiksi belaka. Sumber asli (tertua) tentang perang ini adalah hanya sebuah karya sastra (syair) berjudul “Kidung Sunda”. Dari bahasa jawa kuno yang digunakan syair ini diperkirakan ditulis paling tidak pada abad ke-16. Hal ini menunjukkan bahwa tidak benar Kidung Sunda ditulis atas perintah raja Hayam Wuruk (beda jarak waktu sekitar dua abad). Banyak hal yang disebut dalam syair ini bertentangan atau tidak sesuai dengan sumber-sumber sejarah lain, terutama dengan kitab Negarakretagama.

    Kita perlu mencurigai pihak penjajah (Belanda)-lah yang sengaja mempropagandakan syair ini (tahun 1928) seolah sebagai catatan sejarah, dengan tujuan memecahbelah suku-suku bangsa di pulau Jawa.

    Jika memang demikian, tidak ada alasan bagi etnis jawa dan sunda untuk saling sentimen kesukuan. Sedangkan pandangan miring / kontroversi thd kepahlawanan Gajah Mada sedapat mungkin bisa diluruskan.

  • the truth is out there

    BAGI ANDA YANG MASIH NGOTOT PERCAYA GM SEBAGAI PENAKLUK KONON KATANYA NUSANTARA HANYA BERDASAR KITAB MAJAPAHIT,SIAPKAH MENTAL ANDA?
    Jika anda ingin melihat sisi lain Majapahit dari kitab Kerajaan lain, maka saya ingin anda semua melihat dari sisi kitab Bugis dan Luwu’ di Sulawesi Selatan, dan hasil dari penelitian arkeolog Indonesia dan Australia disana.. dan bagi anda yang tinggal di Pulau Jawa, bukti bukti itu sampai sekarang sudah lama ada didepan hidung anda!!

    silahkan anda masuk di forum detik > politik & peristiwa > pendidikan > sejarah > mahapatih gajah mada

    langsung saja ke halaman 6, MACCAPAI = MAJAPAHIT? PART 1 sampai 4.

    silahkan baca sepuasnya. dijamin puassss..!

  • boyoh

    Apa pentingnya & apa maknanya Gajah Mada bagi Parahyangan / Tatar Sunda (bukan Jawa Barat). Nonsens lah.

    Lagian malu, di Tatar Sunda pake jalan Gajah Mada. Nggak pantes bagi wilayah yg orang2nya lemah lembut & penuh sopan santun (Tatar Sunda) menggunakan nama jalan Gajah Mada yg terkesan Kasar, Serakah, Nubruk sana, nubruk sini & Licik.

  • Rhino Sondaicus

    Aku masih ingat ketika kul di ITB dulu (tahun 83), sebagai orang Sunda, aku mencoba untuk menjalin persaudaraan sebangsa dengan suku manapun. Namun sayang, ketika aku berdialog dengan Saudara yg. bersuku Jawa, aku menangkap aroma superiorotas dari rekan suku Jawa. Silakan ditafsirkan sendiri makna yg. terkandung pada pembicaraan di bawah ini:

    - Suku Jawa lebih “Tua” dari suku Sunda
    - ITB kan di Bandung, tapi kenapa ya mahasiswanya kok malah kebanyakan orang Jawa (suku Jawa; red)
    - Kenapa ya orang Sunda nggak mau disebut orang Jawa?
    - Kenapa ya di Jawa Barat tidak ada jalan Gajah Mada & Hayam Wuruk? (tanpa menyadari di Jawa Timur pun tdk ada jalan Siliwangi & Pajajaran)
    - Adanya NKRI kan berkat jasa Gajah Mada

    Silakan ditafsirkan, mengapa selalu muncul kalimat-kalimat seperti itu & sejenisnya?

  • truth

    rhino, betul yang anda katakan.
    saya bukan orang sunda tetapi pernah 3 tahun sekolah dibandung. saya tinggal dulu dekat karawitan. saya kaget ada kawan saya orang jawa bercerita tentang gajah madanya dan tentang sukunya. terkesan memang bodoh dan menjengkelkan bagi kita yang berada diluar suku mereka. ternyata mereka rata rata dididik kurang ajar seperti itu.

    padahal dalam kitab suku lain, yang namanya majapahit tidak seperti itu. malah secara kasar bisa dianggap sebelah mata dan tidak ada apa apanya. kalau tak percaya, baca saja link pada comment saya diatas sebelumnya. tentang majapahit (maccapai) dari kitab bugis kuno, Luwu, i la ga ligo.

    bahkan kita bisa baca komentar bodoh yang pakai nik randu diatas. mempertanyakana claim majapahit seperti itu, dia bilang seperti ini, “Dan jg sadar ato tidak negara kita hanya jalan di tempat sementara negara2 lain udah jauh meninggalkan kita.. Kita hanya berkutat dgn mslh sara chauvanis,” bukan kah ini maling teriak maling? membanggakan kelebihan majapahit menurut versi sastrawan dia, suatu yang tidak ada dasarnya hanya karena keinginan menggebu gebu rasa cinta sukunya, chauvinis didepan hidungnya tapi teriak teriak.

    gara gara sifat seperti itu malahan negara ini sudah tertinggal jauh dari negara tetangga. bodoh sekali.

  • truth

    sudah jadi pelajaran juga jika mereka ingin merenung, mengapa karena ketertinggalan negara ini dibanding negara tetangga akibat salah urus, sukunyalah yang paling banyak menjadi babu dan pembantu rumah tangga di negara orang.

    jelas itu teguran Tuhan jika saja mereka mau merenung.

  • indra

    a***** semua orang luar jawa.jawa paling tinggi derajat ya.

  • rani

    gua orang jogja.dan gua cinta jogja dan raja dan kebudayaan saya.suku saya di takdirkan untk jd pemimpin dan saya berharap orang luar pulau jawa angkat kaki dr jawa karna cuma mengotori jawa aja.dr mulai dinasti sailendra sanjaya medang mataram kuno singosari.majapahit dan sekarang kasunanan surakarta dan kasultanan jogjakarta adalah penguasa tanah asia tenggara.orang luar jawa thu kayak y cm manusia2 pelengkap aja di jawa.kalau orang jawa emang bener2 mempunyai derajat yg tinggi.jgn salah raja jawa it adalah keturunan dari dewa.soeharto it anak dari hamengkubuwono yg di titipkan.jawa tetap jawa.g ada yg akan jd penguasa selain jawa.karna dah di ramal kan oleh joyoboyo.dan kekuatan di dunia ini ada di mataram(jogja solo)maafin yah.

  • bijak

    Perkara Gajah Mada pahlawan nasional atau bukan itu tidak penting dan bukan urusan kita. Yang jelas Gajah Mada telah berjasa bagi negara Majapahit.
    Semua suku bangsa sama derajatnya menurut Allah SWT, yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
    Manusia tidak boleh membanggakan suku bangsa nya karena itu termasuk perbuatan jahiliyah. Nabi Muhammad SAW telah melarang kita bersikap bangga terhadap keturunan/suku/bangsa juga melarang merendahkan suku bangsa yang lainnya. Semoga indonesia bisa merdeka dari penjajahan yang sekarang ini masih saja belum selesai. semoga bangsa kita dan bangsa lainnya juga menjadi bangsa yang taat kepada Allah SWT dan memperoleh kehidupan yang berkah.

  • dede

    buat rani, anda rasis !

  • Sang Prabu

    gajah mada memang tokoh fenomenal, tak diketahui asal usul serta pusaranya, datang dan pergi bagai angin, tak ada yang tahu :?:

  • Firman

    hehehe… udah dong!!! kok pada jadi pada show up sih, yg jawa ngerasa paling jawa, yg sunda ngerasa paling sunda, udah cukup ah… please…

  • Dadali

    Orang *** itu licik,pengiri,sentimen dan rakus.

    Maaf.. ada bagian komentar yang saya edit karena sudah menyinggung SARA. Mohon hal-hal yang sifatnya penghinaan tidak dikirim. Terima kasih.

  • buat kamerad klu nggk merasa jd orng indonesia pergi aja lo dr indonesia,…sembah tuh luar negeri

  • ikutan ah….

    setuju sama igrig…

    buat kamerad, emang luar negri udah paling bener sendiri?

    mau-maunya kamerad diboongin luar negri…

  • ridho

    kalau g ada gajah mada dulu persatukan NKRI apa mungkin pak karno berupaya mempersatukan lagi…bisa2 jawa aja yang merdeka””logika aja….
    dan soal orang jawa meremehkan suku lain itu karna dia tau sejarah dan dia merasa nenek moyang dia dulu penguasa….ada suku jawa tapi suku sunda di daerah barat pulau jawa…ada bahasa jawa tapi ada bhs sunda,,,,butinya jawa berkuasa ne (di jakarta ada pasar rebo,pasar senen.)it semua dari bahasa jawa…sunda it cenderung penakut dan hanya berani dari belakang…di otak nya cuma njilat n banyak duit,

  • KI Jiwo Roso

    Perjalanan Majapahit dan Perjalanan mahapatih Gajah Mada adalah sebuah lakon hidup yang harus di jalani pada masa itu untuk sebuah takdir terbentuknya indonesia pada saat ini, ndak perlu di permasalahkan kontroversi yang ada sebab kita bukan penentu dalam suatu sejarah hidup tapi sebagai yang ngelakoni.

  • Awan

    NKRI dan Pancasila HARGA MATI!!!!!!

  • MaX

    wew, dah dua tahun nih, masih asyik diperbincangkan.

  • Paniki

    Saya tidak begitu “ngeh” dengan sejarah. Tapi dalam topik ini (GM), saya pernah membaca buku (novel) karya Langit Kresna Haryadi (jilid I sampai IV kalau ndak salah).
    Intinya bahwa, terjadinya “perang” Bubat bukan karena kesalahan GM pribadi, namun oknum bawahannya. Kesalahan GM hanyalah : menginginkan sesuatu, tapi kemudian tidak bisa mengendalikannya (out of control).

  • saya rasa kekuasaan majapahit itu benar ada, sepanjang sumpah palapa itu terbukti adanya.

  • soal maha patih Gajah Mada dan kontroversinya saya g mau bicara,yang mau saya bicarakan adalah kemampuanya untuk menyatukan nusantara jaya,Nusantara adalah obor dunia, mari kita bangun nusantara seperti masa gajah Mada,mari dibangun bersama sama,kita lupakan kontroversi,yang ada adalah senasib sepenanggungan sebagai “jiwa yang nusantarais” yang g merasa sebagai bangsa di nusantara silahkan menjadi/mencari bangsa lain,bangsa bule,bangsa kuning,bangsa merah,bangsa biru,bangsa putih dll,keberagaman suku adalah kelebihan kita dibanding bangsa lain,keberagaman adalah rahmad jangan dijadikan sebagai alasan untuk berdebat…hidup bangsaku, negeriku,nusantaraku,Indonesiaku,pancasilaku….

  • aku turunan jowo tapi ora rasis koyok wong jowo liyane. Wong jowo sing asli kuwi tepa selira, pasrah lan bekti karo keluwargo. Wong jowo (sing krosone) ningrat sing mekhitik, kroso paling hebat, agomo yo ora jelas (mbuh Muslim, mbuh Kejawen dianggep ae podo), jaman londho yo podo ngathok kabeh karo penguoso. Pangeran Diponegoro diapusi pamane dewe, Sentot Prowirodirjo dikirim perang lawan Imam Bonjol.. wes koyo kirik diadu karo suku liyane.

    (aku keturunan jawa tapi tidak rasis seperti orang jawa lainnya. orang jawa yang asli itu saling bertenggang rasa, pasrah dan berbakti pada keluarga. Orang jawa (yg merasa) ningrat itu yang sok hebat, merasa paling hebat, agama jg ga jelas – entah Muslim atau kejadwen semua dianggap sama), jaman belanda juga ramai-ramai menjilat. Pangeran Diponegoro dibohongi paman sendiri, Sentot Prowirodirjo dikirim perang lawan Imam Bonjol.. sudah habis diadu domba suku lain.

  • rossie

    tulisan yang menarik, komen2nya juga menarik dan menggelitik..
    tapi saya kok jadi miris dengan komen2 yang masih mengagung2kan suku tertentu… (udah nggak jamannya kali yah menganggap suku tertentu lebih baik dari suku yang lain :sad: ). Berasal dari suku manapun kalau kepribadian dan mentalnya rusak yah jadilah dia seorang penjahat dan pengacau, begitu juga sebaliknya.

    mengenai Gajah Mada, suka tidak suka tetap ada hal yang bisa dipelajari dan ditiru dari perilaku dan kepribadiannya. Salah satunya adalah kegigihan dia dalam mencapai cita-citanya… (untuk hal-hal lain yang berbau kelicikan dan intrik untuk menguasai nusantara… yah ini yang bisa kita pelajari untuk tidak ditiru).

    kalau kita semua punya semangat dan kegigihan yang sama dengan gajah mada, pastinya indonesia jadi bangsa dan negara yang paling maju….

    :smile:

  • wong pantura

    vote 4 “Wong Jowo”

  • antoni

    Kang (bukan Mas) Buya, Gajah Mada matinya di mana ya? Maklum saya masih goblog tentang sejarah. Mohon yang lain tidak menjawab mendahului pemilik blog.

  • hamdan

    Berdasarkan pengalaman saya, semua diskusi tentang ras dan suku memang selalu mengarah kepada peningkatan iman dan taqwa. Malahan selalu berhasil memupuk ukhuwah, persatuan, persepsi positif, dan saling menghargai sesama saudara. Tidak percaya? Silahkan baca seluruh thread diskusi ini. Saya berdoa semoga amal usaha dari penulis blog yang sudah terindex google dan dapat diakses internationally ini menjadi amal jariah alias wakaf ilmu yang pahalanya mengalir sampai hari akhir nanti karena jasa2 beliau penulis blog ini dalam memfasilitasi bersatupadunya semua yang terlibat dalam diskusi ini sehingga semua orang mempunyai mimpi yang indah tentang nenekmoyangnya, tentang indonesianya, tentang pemimpinnya dan terinspirasi mencintai saudaranya yang berasal dari suku lain. Amin… Selain itu saya juga yakin 1000% bahwa penulis adalah orang yang sangat amat cerdas dan memenuhi perpustakaan pribadi di rumahnya dengan buku2 sejarah dalam dan luar negeri karena untuk menulis artikel yang luar biasa ini, menurut saya, diperlukan minimal 50 buku referensi dan diskusi intensif dengan minimal tokoh sejarah selevel Prof. Ahmad Mansur Suryanegara (UNPAD). Tolong sampaikan salam saya ya Kang Buya. Terimakasih sebelumnya.

  • yunita

    Kalo emang jantan dan fair dan pinter, hapus semua komen yang rasis. Bukan cuma komen rasis dari suku jawa yang sudah terprovokasi yang dipajang.

  • @yunita:

    Sudah menjadi kebijakan saya mengedit kata-kata yang mengandung makian, trolling dan kasar di seluruh komentar.

    Tidak ada satupun komentar yang saya hapus, termasuk yang dari Anda.

    :smile:

  • makassar

    Mafff ya kami orang sulawesii terutama sulawesi selatan ngak kenall tuhhh Gajahh Mada,,,siapa bilang kami di jajah Majapahittt,,,,soryy ya kami tuhh ditakutii orang belanda aja menjuluki kami ayam jantan dari timur ha,,ha,,ha,,, kalo Gajah Mada mau serang kami pasti mikir panjanggggggggg

  • Irawan

    Data: Gajah Mada Penjajah atau Pahlawan yang diangkat menjadi tema tulisan ini lemah. Data ini hanya mendasarkan pada satu sisi (Pararaton dan Babad Tanah Jawi) dimana data tersebut berisi penuh akan perlambang sehingga untuk memasukkan data tersebut sebagai sumber sejarah harus mengungkap kabut perlambang tersebut.

    Gajah Mada pemersatu Nusantara adalah Gajah Mada patih Ranawijaya dan bukan patih Rajasanagara. Harus dipahami tokoh Gajah Mada ada 2.

    Konsep nusantara menjadi negara gung dsb memakai data Mataram (Babad Tanah Jawi). Prapanca tidak pernah menyebut istilah menjajah dalam hubungannya dengan nusantara. Hubungan Majapahit dengan nusantara dilukiskan Prapanca seperti hubungan mancapat atau mancalima desa. Sebuah konsep desa yang asli Indonesia. Lihat: Meluruskan Penyimpangan Sistematis Sejarah Majapahit.

  • @ Irawan:

    Wah.. saya baru tahu ada 2 personifikasi Gajah Mada.

    Lantas, jika Pararaton tidak pantas menjadi dokumen sejarah, landasan apa yang digunakan Pemerintah menetapkan Gajah Mada sebagai Pahlawan Nasional?

  • Menggelitik bahwa penulis mempertanyakan status Gadjah Mada sebagai “pahlawan nasional”, padahal Gadjah Mada sendiri belum pernah ditahbiskan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah :)

    http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pahlawan_nasional_Indonesia

  • Irawan

    Pengangkatan Gajah Mada sebagai Pemersatu Nusantara ala Pararaton dilakukan oleh Kern dan Krom. Bukan sebagai pahlawan nasional. Sekalipun mereka para penulis sejarah awal Majapahit itu menolak data Pararaton, namun dalam akhir kesimpulannya, data tersebut digunakan. Ini menjadi sangat rancu.

    Tujuan akhir tulisan Kern dan Krom sebenarnya jelas yaitu Majapahit pernah besar namun sementara. Kebesaran Majapahit diperoleh dengan kekerasan, dengan kata lain Jawa menjajah luar Jawa. Endingnya agar kesatuan Nusantara tidak ada. Semacam devide et imperalah.

    Informasi Prapanca yang jelas menyebut tidak ada kata jajah menjajah dalam kesatuan nusantara saat itu dikesampingkan. Menurut Prapanca, model kesatuan Nusantara itu bila dikondisikan dengan keadaan saat ini, mirip-mirip kesatuan negara-negara federasi di Amerika Serikat. Kedaulatan keluar dipegang oleh kerajaan Jawa (Majapahit) dan kedaulatan kedalam dipegang oleh masing-masing negara.

    Ini bisa dilihat seperti misalnya Raja Malaka dan Hang Tuah meminta pulau di luar wilayahnya namun dekat dengan teritorinya. Mereka harus ijin kepada Majapahit. Namun demikian admin pemerintahan Malaka dipegang mereka sendiri. Saat mereka diserang oleh musuh dari Siam, Majapahit datang membantu mereka.

  • @ Amir Karimuddin:
    Wah.. terima kasih atas informasinya Pak.
    Lantas buat apa ya Pemerintah pasang nama ini di beberapa jalan di hampir semua kota di Indonesia?

  • dencitro

    Pertanyaan yg menggelitik saya sampai sekarang, adalah apakah benar patih Gajah Mada dan para Raja-raja Jawa adalah orang suku jawa?

    Penerawangan saya (yg tidak ada rujukan ilmiahnya), mereka itu adalah bangsa pendatang (PENJAJAH)dengan membawa tehnologi (perang, pertanian, arsitektur, perkakas dsb), budaya dan agama mereka ke tanah jawa.

    Indikasinya:
    - Mereka mrpkan kelompok tersendiri sebagai darah biru (kasta yg lebih tinggi dari pribumi jawa?)
    - Membawa dan mengajarkan agama baru (Hindu) yang sebelumnya masyarakat suku jawa masih menganut animisme dan dinamisme
    - Membangun kerajaan dan candi dengan arsitektur “khusus”
    - Armada perang dan tata kenegaraan
    - Tata niaga, tapi mereka tidak pernah masuk ke area PERTANIAN dan PERKEBUNAN
    - Kesenian, sendratari dan wayang
    - Mereka mengembangkan kekuasaan dengan menyebarkan anak keturunan ke seantero jawa dengan membuka wilayah baru (membabat hutan)
    - Yang menjadi (bangsa sahaja) adalah pribumi suku jawa, dari mulai kuli bangunan sampai jadi serdadu
    - dsb

    Seringkali (atau banyak?) pribumi suku jawa bermimpi (atau berkeinginan) hidup mulia seperti raja-raja dan keluarganya menempuh berbagai cara untuk mendapatkannya, dari mulai “ngenger” di kerajaan lahir batin, kawin dengan keturunan “darah biru” atau berkonspirasi mencoba kudeta dsb.

    Pada zaman penjajahan Belanda, suasana kebatinan tsb dimanfaatkan. Pribumi suku jawa yang ingin berstatus “darah biru” (trah kerajaan) dapat diberikan asal berpendidikan tertentu, punya jabatan tertentu dalam pemerintahan penjajah, berjasa kepada penjajah dan atau membayar.

    Demikianlah sekelumit penerawangan saya. Tidak perlu diperdebatkan apalagi didiskusikan…sekedar penerawangan saja.

    Salam

  • dencitro

    Perang Bubat

    Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 masehi.

    Pertempuran yang sangat tidak seimbang tsb dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi – yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

    Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

    Sumber Sejarah yang Meragukan

    Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat ternyata hanya sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali, berjudul Kidung Sunda. Pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920an menemukan beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya.

    Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tsb. ditulis di Jawa atau di Bali.
    Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.

    Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, ratu/permaisuri, dan putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya.

    Perlu di perhatikan pula bahwa catatan peristiwa Perang Bubat tidak terdapat di dalam kitab utama peninggalan Majapahit, Negarakretagama, yang notabene ditulis oleh empu Prapanca sekitar tahun 1365 (satu tahun sepeninggal Gajah Mada). Adalah hampir tidak mungkin jika peristiwa besar sekaliber Perang Bubat dan belum lama terjadi tidak tercatat dalam kitab itu. Hanya disebutkan bahwa desa Bubat adalah suatu tempat yang memiliki lapangan yang luas, dan raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan.

    Rekayasa oleh Penjajah ?

    Perlu dikemukakan bahwa sang penulis Kidung Sunda (yang belum diketahui orangnya) lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

    Sepertinya kita perlu curiga bahwa cerita tentang Perang Bubat dalam Kidung Sunda adalah fiksi belaka dan merupakan rekayasa dari pihak penjajah (Belanda ?) untuk tujuan perpecahan antar suku di pulau Jawa. Bisa jadi syair tersebut diciptakan sendiri oleh ilmuwan Prof. Dr. C.C.Berg atas perintah penguasa kolonial. Hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam.

    Akibat yang fatal yang telah dirasakan oleh bangsa kita atas rekayasa tersebut (kalau memang benar) adalah adanya sikap etnosentrisme orang Sunda terhadap orang Jawa, dan juga pandangan yang sangat negatif orang Sunda terhadap tokoh/figur Gajah Mada (di Jawa Barat hingga saat ini mungkin tidak ditemukan nama jalan; Gajah Mada).

    Semoga bangsa kita tetap bersatu dan tidak ada lagi rasa sentimen kesukuan. Karena sikap etnosentrisme tidak lain adalah hasil dari rekayasa politik pemecah belah si penjajah.

    Sumber-sumber:
    - Perang Bubat, Wikipedia
    - Kidung Sunda, Wikipedia
    - Kitab Negarakretagama (Terjemahan), Maulanusantara, 2008
    - Sejarah Mentalitas Masyarakat Sunda, Vika Chorianti, Unair, Surabaya,2006

    dource : http://www.indonesiaindonesia.com/f/47880-perang-bubat-sekedar-fiksi/

  • @ all:

    terima kasih atas seluruh responnya, diskusinya semakin menarik & berbobot

  • Irawan

    Penulis Pararaton meyebut kisah Pasundan Bubat sebagai sebuah kelicikan yang diselimuti nafsu angkara Gajah Mada untuk menundukkan Sunda setelah usahanya dalam peperangan gagal. Kisah itu kemudian mendapat tanggapan beragam bergantung suku mana ia berasal.

    Sebenarnya bila kita melihat lebih jauh Kidung Sunda atau Kidung Sundayana, kasus tersebut sama sekali bukan merupakan bagian taktik (kelicikan) Gajah Mada. Gajah Mada tidak pernah berniat menundukkan Sunda dengan kekerasan. Perang itu terjadi karena perbedaan tanggapan atas protokoler istana Majapahit pada saat itu.

    Pada Hikayat Banjar dikisahkan begitu datang kapal asing tiba di Canggu, Mantri Bandar mengutus stafnya menanyakan maksud kedatangan kapal itu. Setelah diketahui, Mantri Bandar mengutus staf lain ke Wiratarmas untuk meyambut kedatangan delegasi itu naik ke darat di Canggu. Ia kemudian pergi ke Majapahit menemui Patih Majapahit. Patih Majapahit kemudian menemui Raja Majapahit untuk meminta persetujuan Raja untuk diterima atau tidak. Bila Raja Majapahit berkenan menerima, Patih Majapahit menyuruh Mantri Bandar mempersilahkan delegasi asing tiba di Majapahit.

    Di Majapahit yang kekuasaan ada di tangan patih, dan raja bertindak semata-mata sebagai kepala negara, perintah raja menerima duta tidak serta merta diartikan secara harfiah menerima seluruh delegasi. Disinilah peran patih Majapahit menjalankan fungsinya sebagai pengaman simbol negara dengan menolak perubahan aturan protokoler istana.

    Protokoler istana Majapahit adalah tetap. Delegasi dari Banjar dan dari Cina (Cheng Ho) dll, juga diperlakukan sama. Mereka boleh bertemu dengan raja bila mereka tidak bersenjata perang selain senjata untuk melindungi diri dalam perjalanan. Kedatangan mereka yang banyak juga ditempatkan di luar Majapahit. Seperti saat ini kiranya, bila menghadap presiden semua senjata harus tidak boleh dibawa.

    Kidung Sunda mengisahkan, begitu delegasi Sunda datang tiba di Canggu, sesuai protokoler istana Majapahit, rombongan raja Sunda ditempatkan diluar Majapahit, dalam kasus ini di Lapangan Bubat. Penempatan ini karena rombongan raja Sunda dilukiskan sangat banyak. Bila ditempatkan di sebuah kota oleh Gajah Mada tentu akan menimbulkan banyak gesekan. Karena itu Gajah Mada kemudian menempatkan raja Sunda di tempat itu.

    Sesuai protokoler istana pula, delegasi yang boleh diterima raja harus tidak bersenjata perang. Dan tentu dalam jumlah terbatas. Dari banyaknya Utusan Cina, yang diterima oleh raja hanyalah para pendetanya. Bahkan Cheng Ho pun tidak diterima. Dari sinilah kemudian timbul perselisihan. Raja Sunda mulanya menyetujui aturan protokoler istana Majapahit tersebut. Sebagai raja ia dapat memaklumi protokoler istana kerajaan lain.

    Bila diperbandingkan dengan kondisi sekarang, presiden Indonesia SBY misalnya, saat berkunjung ke Amerika dalam acara kenegaraan dan disambut oleh presiden Obama, tidak boleh membawa senjata baik genggam maupun serbu. Dan saat bertamu di Gedung Putih, tidak boleh membawa pasukan khusus Indonesia siap tempur dalam jumlah sedikit maupun banyak.

    Akan tetapi para pengiringnya sangat keberatan dengan aturan protokoler tersebut. Mereka merasa datang dengan damai dengan membawa putri yang dipinang Raja Majapahit. Dari sinilah timbul masalah bermula. Gajah Mada tidak mau merubah aturan protokoler tersebut, dan pengiring raja Sunda merasa terhina dengan ketatnya aturan protokoler istana yang dianggap merendahkan rajanya dan niat baik mereka.

    Sebenarnya ketatnya aturan yang diterapkan Patih Gajah Mada adalah baik. Dengan banyaknya delegasi asing masuk istana Majapahit, terlebih lagi diatas jumlah ribuan dan dengan persenjataan lengkap, dikawatirkan hal-hal tidak diinginkan terjadi. Barangkali Gajah Mada berharap tidak timbul peristiwa Kuda Troya Yunani terjadi di Majapahit. Namun niat baik itu dikisahkan menjadi malapetaka.

    Bila diperbandingkan dengan sekarang, apa yang akan dilakukan Menteri Pertahanan dan Keamanan serta Panglima ABRI bila presiden Obama datang ke Indonesia dengan senjata perang dan membawa pasukan khusus Amerika Serikat dalam jumlah banyak dengan senjata lengkap menemui presiden Indonesia? Sekalipun dengan alasan misi kenegaraan.

    Seperti Gajah Mada dengan menolak kedatangan seperti itu atau menerima menurut keinginan pihak Raja Sunda. Bagaimana dengan anda?

  • andri

    kalo lihat kenyataan,, orang tua jawa tidak boleh menikahkan anaknya dengan orang sunda,, dan begitupun sebaliknya,, apakah ini mungkin terjadi setelah perang bubat tersebut,, pertanyaan saya,, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan kenyataan seperti ini??? bagaimana caranya sentimen kedua belah pihak agar mereda???

  • andri

    ada ralat sedikit..
    mungkin tidak semuanya,, tp saya sering menjumpai hal tersebut..

  • Irawan

    Beberapa orang tua suku Jawa melarang putranya menikah dengan gadis dari suku Jawa bukan didasarkan pada hal itu. Bukan juga karena cerita Pasundan Bubat.

    Ini didasarkan karena perbedaan adat saja. Di suku Sunda, pada masa lalu kaum lelakinya bekerja sangat keras sedangkan kaum wanitanya dirumah dan tidak membantu suami dalam menafkahi keluarga. Itu pada masa lalu. Sehingga pada masa itu pun di pasar-pasar di daerah Sunda yang berjualan adalah kaum laki-laki.

    Kontras dengan adat di Jawa. Di Jawa pada masa lalu kaum wanita dan laki-laki bahu-membahu mencari nafkah untuk keluarga. Bila dilihat di pasar-pasar kaum ibu-ibu juga terlihat banyak yang berdagang.

    Selain itu juga perbedaan adat mas kawin. Di Sunda, pada masa lalu mungkin masih ada beberapa sisanya di sebagian desa di wilayah Karawang, untuk meminang seorang wanita untuk dijadikan istrinya, pihak laki-laki harus telah menyiapkan perangkat rumah lengkap, dll. Berbeda dengan adat Jawa, maskawin di Jawa pada masa lalu murah mungkin sekarang juga dibandingkan di wilayah Sunda.

    Sebab-sebab itu tidak ada hubungannya dengan Pasundan Bubat.

  • KaDe

    :razz: hihihi….
    gni aj kok pada ngamuk2 toh???
    G da suku yg lbih hebat..smuanya sama.
    Smua ada kurang lebihnya.
    Kl ada yg g tau ttg Gajah Mada, y wajar..kan ada jg yg g tau ttg stokoh lainnya.
    Banyak2in pengetahuan aj,krn Indonesia ini negara besaar.

    Smua org bebas berpendapat,
    cm ya mbok pake sopan santun. Kita orang beradab n berpendidikan kan??

  • KRESNA WIJAYA

    GAJAH MADA tak ubahnya nama GUS DUR , SBY .. dll yg sejenisnya. Hikmah peranan Mahapatih Gajah Mada itu adalah tulus. Coba renungkan nama Nabi Muhammad S.A.W. Itu nama orang atau gelar , atau lain2. (back to topic).
    si GAJAH MADA jelas punya Visi yang Mulia. Beliau tidak membawa kepentingan ras .. atau kerajaan manapun. Perjuangannya sangat tulus. Sampai – sampai … baginya, nama , latarbelakang , dll yg sejatinya dahulu sangat imperialistik bukanlah hal yg penting baginya. Yg terpenting adalah visi beliau di balik Sumpahnya. Yaitu lahirnya persepsi persatuan dan kesatuan di Pulau Jawa khususnya … dan pulau-pulau terdekatnya hingga tercakup dalam simbolisasi Nusantara.
    -Salam Generasi Muda-
    “Semoga inspirasi Persatuan dan Kesatuan Bangsa tetap terjaga dan berkembang melalui karya-karya anak bangsa hingga akhir Zaman.

  • poniman

    nah..harus dibedakan saderek sadaya, konsep pahlawan atau pemberontak atsu penghianat itu tipis banget dan sangat sumir..

    jangan terlampau jauh…Ingat P. Diponegoro kan…beliau dipandang sebagai pahlawan oleh NKRI, tapi oleh Nagarai Ngayogyakarta Hadiningrat (??..mangke rumiyin..!!).
    Atau napoleon “kerdil” bonaparte..
    apa pendapat kita sekalia…

    Gadjah Mada jga begitu..ia pahlawan Nagari Majapahit.. Pembunuh brutal dinasti Sunda dan “wiayah jajahan” lainnya iya juga…

    Itu tdk penting… sejarah kemanusiaan masa lalu tidak selalu menang bagi kita atau kalah bagi kita.

    ya..memang jalan ceritera meski begitu..

    pertanyaan yang timbul adalah:
    untuk apa mengorek sentimen kerajaan sunda-jabar dan majapahit-jatim? mau mencipatakan tawuran baru yang lebih besar gitu, atau mau mengadu etnis, atau mau merubah stigma baru kepahlawanan? wagu mas….

    yang penting itu sudah berjalan dan berlaku dan menyejarah (?)..
    kearifan sejarah disini muncul..bagaimana menciptakan kehidupan di masa mendatang dg lebih bagus…

    begitulah kurang lebih peristiwa apapun dimanapun…
    sebagai catatan: makanya kalau berbuat atau memutuskan segala sesuatu pakai otak, niat baik, supaya tidak menyesal di kemudian abad..

    regards
    brm

  • Reza Daffi

    “Tidak ada negara yang diselamatkan orang baik,” kata ahli sejarah.

    Kasus Gajah Mada yang menjadi pahlawan bagi Majapahit tapi penjajah bagi kerajaan lainnya juga terjadi di Amerika Selatan di mana para Komandan pasukan Spanyol dianggap pahlawan di Eropa tapi penjajah di Kolombia, Peru, Venezuela, dll. Seorang pahlawan hampir pasti juga bandit (jika bukan penjajah). Jadi, saya pikir figur Gajah Mada mencakup penjajah sekaligus pahlawan. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

    Soal persatuan dan kesatuan NKRI, saya pikir perlu dipikirkan lagi juga apakah sebagai NKRI sebagai komunitas sudah berfungsi baik bagi semua anggotanya. Saudara-saudari di Papua mungkin tidak sependapat dengan Anda yang dari Jawa. Dan menurut saya, Gajah Mada bukan tanpa tujuan saat berusaha menyatukan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Ia ingin menyatukannya di bawah Majapahit.

    Saya membaca beberapa komentar yang Jawasentris di sini. Di lain pihak, beberapa juga Sundasentris. Mungkin kita semua harus berpikir bahwa suku, kerajaan, negara hanyalah subkategori dari Bumi, dari Manusia.

    Chauvinisme hanya akan membuat kita saling memangsa. Saya yakin ini benar. Saya ingin mengatakan seorang ahli sejarah itu keliru ketika ia bilang “satu-satunya hal yang aku pelajari dari sejarah adalah bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.”

  • budi setyono

    aku sbg orang jawa secara obyektif menyadari akan keserakahan orang jawa. Dari presiden, pns, kuli, tukang becak, pengemis, rampok, dikuasai mayoritas oleh orang jawa (kebanyakan orangnya kali ye, pada gak ikut KB).
    Di Bali, kalau ada kejadian kriminal, orang bali langsung bilang,”kerjaan orang jawa tuh”. Gue terima aja dah.

  • Sebagai orang yang terlahir dari keturunan Jawa, saya cukup ngiri dan sempat berharap saya terlahir dari luar suku jawa
    Budaya jawa banyakan bikin orang yang secara lahir bukan dari keluarga berada, minder untuk maju. Hal ini beda banget dengan budaya suku lain yang mensupport membernya buat ekspansi, dsb
    Tapi dari sisi sejarah, lepas dari Gajahmada itu penjajah atau pahlawan, saya mengagumi keberadaannya. Orang-orang idealis yang siap mewujudkan mimpinya adalah pendobrak fenomena dan hanya akan berakhir sebagai orang besar.

    Kenapa kita gak coba mengenakan semangat sang gajahmada, mencoba meraih sebaik apapun mimpi yang kita punya, dan mengesampingkan bayangan tentang bagaimana orang-orang secara kontradiktif memandang kita nantinya.

    Hayuk ah… Gajahmada bisa kita perbincangkan sekarang karena gerakannya yang fantastis. Let’s do our best today, so tomorrow people will talk about it.
    Semoga langkah kita hari ini membawa keberkahan. Aminnn :)

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>