Mahapatih Gajah Mada adalah sosok yang kontroversial. Hampir di seluruh kota/kabupaten di Indonesia mengabadikan tokoh ini sebagai nama jalan utama di wilayahnya.
Namun pernahkah kita perhatikan bahwa di wilayah Provinsi Jawa Barat tidak ada satu kotapun yang menggunakan nama Gajah Mada?
Ternyata hal ini terkait dengan polemik kesejarahan sosial di masyarakat Sunda yang terkait langsung dengan kebesaran nama Kerajaan Sunda.
Bagi masyarakat Sunda, Mahapatih Gajah Mada adalah tokoh antagonis yang sangat dibenci karena mengadu domba antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Sejarah kultural kebencian ini tercatat dalam Kidung Sunda/Kidung Sundayana.
Kidung Sunda/Kidung Sundayana ditulis oleh para mpu di Majapahit atas perintah Prabu Hayam Wuruk. Secara ilmiah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana lebih tepat dikelompokkan sebagai karya sastra.
Namun sebagai informasi mengenai terjadinya skandal/tragedi Bubat yang Kidung Sunda cukup dramatis menceritakan tentang kejadian tersebut. Bahkan orang Sunda yang terkenal halus tutur bahasanya dalam Kidung Sunda tercatat dialog yang sangat kasar antara para petinggi Kerajaan Sunda dengan Mahapatih Gajah Mada.
Pada akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada dan rombongan pengiring calon pengantin Kerajaan Sunda. Dalam catatan Kidung Sunda seluruh rombongan dari Kerajaan Sunda gugur, termasuk puteri Dyah Pitaloka.
Ada banyak versi dan penafsiran mengenai skandal Bubat tersebut (saya lebih cocok menggunakan kata skandal daripada perang karena lebih bersifat perkelahian spontan dan pembantaian daripada adu strategi militer).
Salah satunya adalah upaya untuk mendiskreditkan Mahapatih Gajah Mada. Seperti diketahui bahwa Gajah Mada bukanlah keturunan bangsawan di lingkungan kerajaan di Jawa. Kariernya dimulai sebakai bekel (kira-kira setara dengan pangkat Prajurit Dua TNI).
Kariernya mulai cemerlang saat menyelamatkan Prabu Jayanegara (Raja Kahuripan) pada saat pemberontakan Ra Kuti. Sehingga dianggkat menjadi Patih Kahuripan.
Jabatan ini dapat disetarakan dengan Perdana Menteri atau Kepala Pemerintahan. Selama itu jabatan tertinggi adalah Patih yang lebih bersifat seperti Sekretaris Negara atau Menteri Koordinator.
Sehingga sangat wajar jika diangkatnya Gajah Mada sebagai Mahapatih (rakryan patih) oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi menimbulkan kecemburuan dan menciptakan intrik di lingkungan Kerajaan Majapahit.
Pada saat Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa pun banyak pihak yang menyangsikan kemampuannya mewujudkan hal tersebut. Bahkan sebagian elit Majapahit menganggapnya sebagai upaya penjilatan kepada Ratu Majapahit saat itu.
Hal tersebut dapat dipahami karena sebagai pemimpin dan kepala negara Ratu Tribhuwanatunggadewi pada saat itu sedang mengalami krisis kepemimpinan yang sangat parah sepanjang sejarah para Raja Majapahit.
Pada saat itu banyak wilayah di Majapahit yang melakukan pemberontakan separatis terutama gerakan Keta dan Sadeng. Patih Gajah Mada pun berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga diangkat menjadi Mahapatih oleh Ratu Majapahit.
Ternyata Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya dengan menguasai Bedahulu (Bali), Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra), Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.
Di jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.
Jika melihat catatan penguasaan Majapahit di atas maka dapat dilihat bahwa Sunda tidak pernah menjadi wilayah Nusantara. Sekalipun Gajah Mada menyebutkan Kerajaan Sunda sebagai salah satu target yang harus dikuasai pada saat mengikrarkan Sumpah Palapa.
Adapun terjemahan dari bunyi Sumpah Palapa adalah sebagai berikut:
Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.
Hingga sangat wajar jika kemudian Gajah Mada begitu bernafsu ingin menjadikan Puteri Dyah Pitaloka sebagai persembahan tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit. Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan pengantar calon pengantin yang dipimpin oleh Raja Sunda langsung tersebut sebagai kesempatan untuk menaklukkan Kerajaan Sunda.
Maka Gajah Mada pun kemudian melarang Prabu Hayam Wuruk untuk menjemput rombongan calon pengantinnya ke Desa Bubat. Dengan membawa pasukan yang besar dengan tujuan untuk mengintimidasi Raja Sunda berangkatlah Gajah Mada ke Bubat hingga terjadilah skandal pembantaian tersebut.
Secara pribadi saya sendiri kurang setuju dengan pengangkatan Gajah Mada menjadi Pahlawan Nasional. Bagaimanapun konsep Nusantara yang diadopsi dalam sistem kenegaraan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara kesejarahan sedikit-banyak mencederai perasaan kebanggaan identitas kesukuan beberapa saudara sebangsa kita di banyak wilayah.
NKRI bukanlah kelanjutan dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. NKRI tidak sekedar Jakarta dan Pulau Jawa saja. NKRI adalah komitmen para pendahulu kita yang menginginkan berdirinya Indonesia sebagai tanah air, bangsa dan bahasa sebagaimana terucap dalam Sumpah Pemuda.
Maka sudah selayaknya pemakaian konsep-konsep dan penamaan sistem kebangsaan dan kenegaraan di NKRI ditinjau ulang.
Pernahkah kita bertanya mengenai konsep Nusantara?
Nusantara merupakan konsep imperialisme kerajaan-kerajaan di Jawa. Pada saat itu terdapat sistem kewilayahan yang membagi tiga kategori teritorial untuk daerah di kerajaan-kerajaan Jawa.
Tiga kategori tersebut adalah sebagai berikut:
- Negara Agung
Adalah wilayah khusus ibukota tempat berdiamnya sang raja dalam menjalankan roda pemerintahan dan kenegaraan sehari-hari. Wilayah yang disebut negara agung adalah pusat pemerintahan sebuah kerajaan Jawa. - Mancanegara
Adalah wilayah-wilayah sekitar negara agung yang mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa seperti Madura, Sunda dan Bali. - Nusantara
Adalah wilayah atau kerajaan-kerajaan yang tidak mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa tetapi masih merupakan daerah kekuasaan dimana para rajanya harus memberikan upeti kepada raja Jawa.
Maka dapat kita lihat bahwa polemik mengenai status Gajah Mada sebagai pahlawan nasional mungkin harus kita kaji ulang. Mungkin lebih tepat jika Gajah Mada kita hormati sebagai tokoh yang berperan dalam sejarah panjang perjalanan suku Jawa di Indonesia.
Sedangkan posisinya sebagai pahlawan nasional dapat dipertimbangkan karena jelas sekali bahwa Gajah Mada bukanlah tokoh kemerdekaan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.
Popularity: 15% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Review Buku “Kantongi Sang Gajah”
- Mohamad Toha: “Pahlawan Nasional Tanpa Tanda Jasa”
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Polemik “Jangan Percaya Semua yang Kamu Baca” & “Validitas Informasi di Wikipedia”
- Fluoride, Menyehatkan atau Meracuni?
- Punakawan: Simbol Kerendahhatian dan Penebar Hikmah
- Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
- Dilema dan Fenomena Snouck Hurgonje
- Review Buku “Don’t be Sad” atau “Laa Tahzaan”
- Pilih Durinya atau Dagingnya?
- Ditindas atau Bangkit Melawan!!
- Berbasa Daerah = Kampungan?
- Ditindas atau Bangkit Melawan (Jilid 2)
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development” Bagian 2

Mas Gebang..
Setiap orang berhak untuk menginterpretasikan dan mengapresiasi interpretasi orang lain mengenai suatu obyek sejarah.
Memang publikasi yang ada selama ini sudah pasti benar?
Kalau Mas Gebang merasa interpretasi saya salah, tolong diteliti lagi dan kita sama-sama diskusi dengan baik.
Ok? Salam..
Sukuisme..? No Way..!!!
Cerita tersebut bukan masalah suku Jawa dan suku sunda.. tapi masalah patih Gajah Mada dan raja dari Kerajaan Sunda. Gajah Mada adalah seorang pahlawan Majapahit juga seorang penjajah Nusantara.
Saya sempat meneteskan air mata saat mengahayati kidung sunda, sungguh kasihan kisah prabu Hayam Wuruk dan putri Dyah Pitaloka. Mereka menjadi korban keegoisan patih Gajah Mada dan raja Kerajan Sunda.
@ Pak Joey Salam:
Bukan sukuisme lho pak..
Saya hanya mengkritik sistem tata kelola pemerintahan kita yang terlalu “Jawa Sentris”.
Sering disindir-sindir oleh saudara-saudara sebangsa yang kebetulan bukan dari Suku Jawa.
Saat ini mungkin jadi pahlawan…
Entah nanti kalau presiden kita orang Sunda…
Dari sejak sekolah SMP, hati saya tidak pernah setuju dia pahlawan..Akhirnya saya tau kenapa :
Obsesinya cenderung ambisius.Satu yang belum dia dapat, yaitu Diah Pitaloka yang cantik. Gajah Mada naksir beratTerpaksa dia berhianat kepada Raja Hayam Wuruk. Diah Pitaloka mau diculik Gajah Mada hingga akhirnya “moksa” seperti Prabu Siliwangi.
@ Wilistya:
Wah, kalau masalah interprestasi Gajah Mada “naksir” berat Dyah Pitaloka kemudian membawa kabur dia, itu sih bisa jadi perdebatan yang panjang lebar.
Tapi yang pasti, masalah yang harus didiskusikan adalah perbaikan sistem pengakuan atas kepahlawanan tokoh di negeri ini dan tata kelola pemerintahan yang lebih mengadopsi nilai-nilai lokal.
@ rino:
Wah.. saya senang sekali kalau “pendapat” saya di posting blog ini bisa ditunjukkan kesalahannya
Plus, sejak kapan interprestasi terhadap sebuah sejarah dilarang?
Selain itu bukankah setiap penulisan sejarah cenderung tendensius mewakili kepentingan penulisnya?
Reinkarnasi?
Wah.. sepanjang yang saya tahu arti reinkarnasi itu kelahiran kembali. Berarti mestinya kalau bereinkarnasi harus ke masa depan dong
Terima kasih atas kunjungan dan masukannya.
Aya… Aya…. Wae
Mas mAs,mas, kalo menurut saya nech . namanya juga sejarah kita gak ada yg hidup di masa lalu. kenapa kenapa dan kenapa. Majapahit adalah negara yg besar. menurut saya menaklukan sunda adalah hal yg kecil bagi Sang Patih Gajah mada, kenapa ndak pernah ada keinginan untuk menaklukan , sebenernya ada apa. Itu yg gak pernah kita tahu. coba anda liat sejarah ke belakang. siapa raja2 di jawa, mereka adalah semua saudara. juga raja sunda dan majapahit..( ??????? tanda tanya kan..). saya tidak akan bahas silakan cari referesnsi. sebenernya semua kita itu sodara. nah mengenai kidung sunda. itu hanya sebuah emosional dari hayam muruk. Dia sakit hati karena ulah Mapatih Gajah mada ato ulah Raja sunda yg menyebabkan kematian semua. Kita tidak tahu. siapa yg nyuruh buat kidung sunda adalah Hayam wuruk.Jadi Ambil ksplanya.
Kita semua sodara.kenapa dan kenapa. Gajah mada orang Hebat. Hebat sekali . Penggemar Gajah Mada. Sebelum ada orang yg berjiwa seperti Gajah Mada, Sultan Hadiwijaya( Karebet),Panembahan senopati. Pak Karno dan Pak Harto. Saya Kira INdonesiA belom akan Maju karena orang punya keingginan sendiri2. masing2 punya ide dan hanya omong kosong. Hidup Cara memerintah Model Gajah Mada, Karebet dan Panembahn Senopati. dan Pak Harto Pak KArno.
Mereka dari kaum bilik. orang kecil yag bisa jadi Orang besar. Gajah Mada Bukan dari Golongaan Bangsawan. Karebet dari desa tingkir kaum jelata, panembahan senopati anak orang biasa rumah kecil di samping pajang,( sampe sekarang masih ada kerajaan nya Yogyakarta,surakarto,) karena ulah Amangkurat jadi penjilat VOC
jadi seperti ini. Pak Harto anaknya petani. Nah ……coba coba coba…
Buat Mas yg buat ini. Tolong karena Pendapat anda seperti itu Akan Selalu terjaDI perpecahan diantara kita. bukan peace bukan maju tapi adanya saling memperdebatkan pendapta masing2. Kayak Para politikus kIta. cuma bisa ngomong sama ga da bukti. cuma terbukti golongan mereka jadi makmur & sejahtera.Seperti pejabat kita sibuk buka lapangan kerja. lapangan kerja buat sanak dan kawan mereka sibuk cari proyek dLLLLLLLL. pcing saya…….HiduP GAJAH MADA, MAs KArebet, Panembahan Senopati, Pak HArtO,sedikit deh pak karno.hahahhahahhahahHHAHhhhahaha
@ Mas Karebet:
Sejarah bukan berarti membuat kita terjebak dalam romantisme masa lalu.
Sejarah ada untuk dijadikan pelajaran bagi kita semua dalam menjalani kehidupan di masa depan.
Semua orang berhak memiliki pandangan yang berbeda namun tetap memiliki kewajiban menghormati perbedaan itu sendiri.
Apa yang saya sampaikan dalam posting ini adalah memposisikan secara obyektif bahwa Bangsa Indonesia secara definitif mulai dideklarasikan sejak tanggal 28 Oktober 1928.
Sehingga menurut saya, Gajah Mada lebih obyektif diangkat sebagai salah satu tokoh besar dalam perjalanan panjang cikal-bakal bangsa dan tanah air kita tercinta ini.
Jika perbedaan selalu dianggap sebagai sumber perpecahan maka sudah dipastikan bahwa kehancuran negeri ini tinggal menghitung waktu saja.
Tirani yang Anda puja-puja itu pada akhirnya terbukti meninggalkan kehancuran dalam masyarakat yang selama ini ditekannya.
Bangsa Indonesia hanya bisa menjadi besar jika masing-masing pribadi anak bangsa bisa mengembangkan jiwa, pemikiran dan karya besar.
Terima kasih atas perhatiannya.
Mas Buya , kenapa saya menulis seperti itu , karena mas buya di atas juga sudah menyimpang pada topik “Pantaskah Gajah mada jadi pahlawan” tapi anda membawa kidung sunda. Itu yg kurang saya setuju dan anda bisa liat komen2 dibawah. Bukan ngebahas itu tapi bahas tentang Perang BUBAT. Kalo menurut saya tentang gajah mada jadi Pahlawan NASIONAL itu ngawur dan saya juga baru liat aja di tulisan ini.Jelas2 bangsa Indonesia sama Majapahit itu hal yg sangat berbeda. dan yg aneh lage ada yg angkat topik kaya GINI. Jelas2 gak usah diangakat juga gak mungkin GajahMada Pahlawan Nasional.
Gajah Mada Pahlawan Nasional buat bangsa Majapahit Majapahit itu bukan Indonesia. Kalo Pahlwan Nasional INDONESIA itu yg berjuang ngusir penjajah demi terciptanya NKRI. Anda itu aneh. INGAT : Perbedaan yg kecil tapi dibesar2kan akan membawa bencana alias kehancuran. Seperti yg mas liat sekarang .Sekarang orang2 indonesia itu bukan BHINEKA TUNGGAL IKA. tapi BHINEKA doank, dan yg berbeda itu sekarang selalu jadi senjata. dan menurut saya bhineka yg seperti itu yg akan menghancurkan bangsa kita. Ingat Indonesia adalah bangsa kepulauan. BHINEKA TUNGGAL IKA bukan BHINEKA. “Bangsa Indonesia hanya bisa menjadi besar jika masing-masing pribadi anak bangsa bisa mengembangkan jiwa, pemikiran dan karya besar” ini yg mas tulis Mungkinkah “kalo saya liat dari pribadi orang2 indonesia justru kesombongan yg ada. Pimpinan yg punya jiwa besar pemikiran hebat /orang tua yg hebat dan jiwa besar yg akan jadikan apa yg dipimpin jadi besar. Dan menurut saya pimpinan dulu yg harus berjiwa besar untuk bisa ngayomi. Seperti para pendahulu kita.Jika Pimpinan sudah tidak punya wibawa dan tidak bisa ngayomi apa jadinya. Bisannya komentar sam nyela. Hancurlah Indoneisa. Sampe saat ini say masih menangis kalo liat bangsa ini.Saya ini wong cilik ,kecil gak tau susu,sdh gede beli susu buat anaknya mahal.Akankah kita menghasilkan anak2 bangsa yg berjiwa besar dan punya karya yg besar kalo pemimpin kita masih seperti itu.ANEH….ANEH….ANEH sekali lagi Majpahit adalah majapahit indonesia adlah indonesia. Kalo buat judul topik yg sesuai isinya jgn menyimpang. Kehancuran terjadi karena orang salah persepsi dan mementinga diri sendiri.
Terima Kasih.
@ Mas Karebet:
Terima kasih atas tanggapannya.
Hmm.. kok jadi bias begini ya??
Saya nggak bermaksud membesar-besarkan masalah perbedaan.
Saya juga nggak bermaksud tidak hormat kepada Gajah Mada.
Saya mempersoalkan perasaan saudara-saudara kita yang lain.
That’s the point.
sejujurnyalah…, andai muhamad yamin masih hidup, kita bisa tanya beliau.., siapa gajahmada itu sesungguhnya.
sosok gajahmada rekaan beliau saja masih kontroversi.
blog yang bagus…, persepsi yang ada bukan hal yang baru dan tidak menuai kontroversi, malah menambah wawasan.
yg jelas kerajaan sunda hanya takluk oleh kerajaan /kesultanan banten…
@ dewo:
Halo Pak Dewo,
Wah, saya baru tahu kalau M. Yamin adalah salah satu yang mencitrakan Gajah Mada sebagai tokoh rekaannya.
Tulisan ini sebenarnya bukan bermaksud memancing polemik.
Hanya saja, demi asas “Bhinneka Tunggal Ika” yang selama ini kita agung-agungkan, bukankah seharusnya kita hargai identitas kultural dari setiap komponen bangsa ini?
Salam..
Selama kita beranggapan bahwa indonesia merupakan kelanjutan majapahit maka bangsa ini akan bermental penjajah…gak peduli kesejahtraan rakyat yang penting NKRI show must go on
,lupa akan tujuan dari didirikannya negara ini…buktinya emas dan perak di PAPUA DAN BLITONG diangkut ke Jawa dan orang lokal disana hanya gigit jari…kalau begitu apa BEdanya Indonesia dengan BELANDA,,,kita merdeka udah 63 tahun bung…jangan terjebak sama romantisme kemerdekaan dech….
@ abah suge:
Halo Abah Suge,
Wah.. jadi serius gini, hehehe..
Buya’e Rania on June 9th, 2008
@ dewo:
Halo Pak Dewo,
Wah, saya baru tahu kalau M. Yamin adalah salah satu yang mencitrakan Gajah Mada sebagai tokoh rekaannya.
Tulisan ini sebenarnya bukan bermaksud memancing polemik.
Hanya saja, demi asas “Bhinneka Tunggal Ika” yang selama ini kita agung-agungkan, bukankah seharusnya kita hargai identitas kultural dari setiap komponen bangsa ini?
Salam..
…..
lho???… mas…
gimana nih??… SosoK GM tuh emaNG mUH YAMIN yg memperkenalkan, nih ini teh GM katanya. Banyak yg nentang tapi di bukunya beliau juga balik tanya : buktikan kalo sosok ini bukan GM?/.. nah lho. ..
GM memang ada.., tapi sosoknya seperti yg sekarang ada cuma Muh yamin yang tau, karena yang bilang itu patung GM ya Muh yamin asal muasalnya.
Banyak tulisan yg menyatakan bahwa sosok patung GM itu cuma sekedar barang keramik mongol.., dstdst.
salam.
Dalam soal penulisan sejarah, ia memang terkenal sebagai ahli sejarah yang kontroversial, terutama menyangkut soal Gadjah Mada. Wajah Gadjah Mada yang kini terpampang di mana-mana adalah gambar sampul bukunya, Gadjah Mada. Gambar wajah Gadjah Mada yang diyakininya benar itu adalah ornamen yang terdapat dalam pecahan gerabah yang ditemukan pada saat penggalian arkeologis di Mojokerto. Yamin menginterpretasikan bahwa gambar itu adalah wajah Gadjah Mada. Dalam sebuah percakapan, Daoed Joesoef menanyakan kepadanya bagaimana Yamin bisa membuktikan kalau itu wajah Gadjah Mada. Alih-alih menjawab, Yamin malah balik bertanya kepada Daoed: “bagaimana juga Anda bisa membuktikan kalau itu bukan wajah Gadjah Mada, ” katanya diplomatis. Maka, jadilah patung Gadjah Mada berdiri di markas Polri hingga sekarang. Kalau bicara soal validitasnya, tentu harus diteliti kembali. Soal Gadjah Mada itu adalah sekelumit cerita tentang Yamin yang kerapkali eksentrik.
http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Masa&rbrk=&id=19571
@ dewo:
Halo Pak Dewo..
Terima kasih atas masukannya.
Jadi memperkaya wawasan.
gajah mada tidak pelu d jadikan pahlawan indonesia, karna dia memang bukan pahlawan indonesia, mengenai “jawa sentris” mungkin terjadi karna terlalu banyaknya pahlawan yang berasal dari jawa
@ david:
Halo Pak David,
Hmm.. mungkin karena dari dulu penduduk di Jawa lebih banyak ya?
Jadi kalau diprosentasekan tentu saja jadi lebih banyak nama-nama yang muncul dari Jawa.
Lucuuuuu….. Komentar tentang gajah mada, persatuan Indonesia, pahlawan, bhineka tunggal ika dll. Mau lo apa sih? formal, informal or romantisme? Indonesia gak bakal ancur gara2 situasi kaya gini. Perkara Indonesia ngikutin majapahit or not ente2 bisa jawab sendiri. Tapi yang paling penting belajarlah dari tokoh yang bernama GM itu dalam berkomitmen untuk menyatukan wilayah hampir sebesar eropa di jantung katulistiwa ini. GM negarawan sejati, begitu juga Sukarno-Hatta-Syahrir dkk, juga negarawan sejati. Yang perlu kita cari sekarang adalah adakah orang2 yang bersedia menjadi negarwan saat ini? Kalo gak ada, sekarang anda harus menjadi negarawan itu supaya Bangsa ini gak ancur. Gimana?
jangan terlalu percaya ama sejarah,belum tentu smua benar.apakah gajah mada itu penjajah atau pahlawan itu bukan masalah yg penting……jaga persatuan dan kesatuan bangsa.pertanyaan saya apakah sejarah yg tuan baca udah benar?jangan2 tuan juga dah di bohongin…..?tuan orng sunda ya…..?
@ Adi:
Betul Pak.. negara kita perlu banyak negarawan.
Tapi seorang negarawan yang baik akan menghormati setiap aspirasi elemen negaranya.
Menghargai sebuah perjalanan bangsa melalui sejarahnya bukan romantisme.
Karena penghargaan dan penghormatan atas nilai-nilai sejarah tersebut yang akan membentuk jati diri bangsa ini sebagai bangsa yang besar.
Sebuah contoh kecil.. Anda tentu bangga jika tahu bahwa dalam adalah keturunan seorang pahlawan daripada seorang pencopet bukan?
Padahal saat ini Anda adalah seorang Presiden
@ borneo:
Kakek saya dari pihak Ibu adalah suku Jawa dan nenek saya dari pihak Ibu suku Sunda.
Dari pihak bapak, beliau keturunan suku Jawa.
Jadi sebenarnya saya orang mana ya?
Kalau mengikuti garis ayah, saya berarti suku Jawa.
Tapi saya sendiri dari dulu senang mempelajari beragam budaya.
Alhamdulillah, selama ini ternyata pekerjaan saya dapat mendukung hobi saya dengan mengunjungi seluruh ibu kota provinsi di Indonesia
Saya dibohongi mengenai hikayat Gajah Mada?
Mungkin iya.. tapi yang penting sekarang adalah penghormatan atas saudara-saudara kita yang merasa tercederai hatinya mengenai status Gajah Mada sebagai pahlawan nasional.
jika mas ada pada kehidupan saat itu dan gak suka gajah mada mungkin mas akan di piting kayak rakembar
kita harus lebih teliti mas dalam mengambil kesimpulan karena masa lampau merupakan hal terpenting masa sekarang
@ zohel:
Halo Pak Zohel..
Nah itu dia.. posting saya ini sebenarnya hanya menggali adanya “konflik terpendam” yang seringkali dibiarkan begitu saja oleh pemerintah kita.
Padahal konflik terpendam ini seringkali menjadi pemicu yang menyebabkan benturan yang keras di masyarakat.
Selama ini, pihak2 yang kontra maupun pro dengan sosok Gajah Mada selalu memberikan dalil-dalil subyektif dan selalu menolak untuk duduk bersama merumuskan kebijakan yang adil bagi semua.
beginilah kalo kita tidak pernah tau sejarah yang sebenarnya, semuanya berpikir berdasarkan pemikiran sendiri, pemerintahpun tidak bisa menentukan sejarah yang bisa dibuktikan kebenarannya, kenapa?? karena masih banyak data dari peninggalan jaman dulu yang bertolak belakang dengan data lain….
saya pun belum bisa percaya kalau majapahit bisa menguasai banyak kerajaan seperti itu, tapi tidak bisa menguasai kerajaan yang letaknya disebelah majapahit itu sendiri, kenapa?? padahal kerajaan galuh jauh lebih kecil?? kenapa harus dengan membantai pada kejadian bubat?? tidak masuk akal kan??
jangankan mengungkap sejarah jaman majapahit, supersemar sama g30s pki aja masih belum terbongkar…
yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……..
wah mas menyoal GM bukan pahlawan, kenapa kerajaan sunda tidak ditaklukan oleh majapahit terlebih dahulu padahal satu pulau jawa, kenapa pulau yang lain dahulu di taklukan, karena GM menghormati Orang sunda, karena Raja 2 di jawa semuanya adalah anak cucu orang sunda, dari kerajaan Tarumanegara. mas menilik dari kidung sunda melihat dari satu sudut pandang saja. kenapa GM setalah terjadi peristiwa BANJIR DARAH DI BUBAT beliau [GM] langsung mengudurkan diri dari jabatan Mahapati, kejadiaan ini seharusnya Mas teliti? ada konspirasi apakah GM dan Hayam Wuruk? Negara indonesia mengakat GM sebagai Pahlawan itu menurut aku adalah hal yang benar dan selayaknya. karena NKRI ini ada berdi dari sabang sampai marauke adalah bekas wilah kerajaan Majapahit. dan majapiht besar karena kucuran keringat GM mempersatukan nusantara. cuma sayang semenajung melayu tidak bisa disatukan dalam NKRI disebabakn perjanjian portugis dan inggirs dalam perjanjian saragesa. yang membagi nusantara menjadi dua.
ko bukan jasa GM dalam mempersatukan nusantara mungkin NKRI hanya ada satu pulau yaitu pulau jawa.
mas, apakah sebesar itu wilayah majapahit? GM kan cuma bersumpah untuk menaklukkan (sumpah palapa), tapi belum tentu terlaksana dan berhasil? MAKASSAR misalnya, tidak pernah ada bukti tertulis maupun sejarah yang menjelaskan bahwa makassar pernah ditaklukkan oleh majapahit atau membayar upeti ke majapahit… (kalo ada coba tunjukin deh mas!)
Sedikit Koreksi kepada Penulis Blog. Anda mengatakan pemerintahan kita jawa sentris. Bukankah malah, orang Jawa yg mayoritas banyak mengalah. Contoh: Bahasa Indonesia bukan diambil Bahasa Jawa. kalau logika Demokrasi harusnya yg dipakai adalah Bahasa Jawa.
Ketika pertama kali Indonesia Merdeka di Jakarta, coba Anda renungkan. Wilayahnya Soekarno itu Mana? Wilayahnya hanya Jakarta. Tapi pertama-tama kerajaan di Jawa dan Bali lah lah yg mendukung dan menyatakan dirinya bergabung dengan Republik yg baru di deklarasikan Soekarno. Lihat di Melayu, untuk bergabung saja perlu ada revolusi karena rajanya banyak memihak ke Belanda. Sehingga rakyat marah dan melakukan pembunuhan massal kepada kaum bangsawan antek Belanda.
Mungkin ada baiknya yang membuat Blog ini lebih mengkayakan wacana sejarah dengan membuka berbagai dokumen sejarah kita yg ada.
Salam,
Arya
@ Arya:
Halo Pak Arya,
Terima kasih atas koreksinya.
Sepanjang yang saya ketahui:
Deklarasi Tanah air, Bangsa dan Bahasa Indonesia sejarahnya dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh seluruh perwakilan wilayah di negeri ini lho Pak.
Jadi jika berdasarkan prinsip demokrasi jelas sekali kan
Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 itu pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengenai sejarah beberapa oknum bangsawan Melayu lebih memihak Belanda juga terjadi di beberapa oknum bangsawan Jawa.
Jika hanya Jawa saja wilayah NKRI saat proklamasi kemerdekaan, mengapa PDRI (Pemerintahan Darurat RI) dicanangkan oleh seorang putera dan di tanah Sumatera pada saat Agresi Militer II Belanda?
Padahal jelas2 seluruh pimpinan Negara Indonesia yang “berlindung” di Yogyakarta kecuali Panglima Besar Sudirman yang memilih ikut gerilya ditangkap oleh Belanda.
Wassalaam
Kalau aku (bukan suku jawa), sebetunya kecewa dengan keadaan Indonesia saat ini. Dulu aku sempat kagum sama soeharto (orang jawa), tapi setelah belakangan aku tahu kalau dia penipu, koruptor aku jadi jadi 100% benci sama “soeharto pribadi”. Memang image orang jawa dimataku “secara pribadi” itu kurang sreg, mungkin beda budaya kali, bukan karena aku benci semua orang jawa. Yang membuat aku sering berpikir:
1. Mengapa rata-rata yang jadi pejabat itu orang jawa dan rata-rata mereka suka korupsi, itu yang paling aku tidak suka, kalau jadi pejabat dan jujur sih aku malah seneng, tapi kenyataannya….
2. Orang jawa itu sopan didepan kita tapi hati-hati tidak semua sesuai dengan apa yang tertera dimuka, karena pengalaman pribadi aku beberapa kali dibohongi sama orang yang “kebetulan” orang jawa.
3. aku punya banyak teman orang jawa dan pengalaman bergaul dengan mereka, meskipun sudah jadi teman akrab mereka tetap perhitungan (sorry, agak “pelit”), sampai aku geleng2 kepala, beda budaya kali.
4. Tapi tidak semuanya seperti diatas tadi, cuma pandangan saya secara pribadi terhadap pengalaman selama ini, ada juga yang baik. Jadi ya… kira2 80%lah (sorry ini tidak ilmiah, cuma berdasar pengalaman pribadi).
Sejujurnya kalau Indonesia bisa maju dan rakyat bisa sejahtera lahir dan batin plus diridhoi Alloh SWT, pemerintah dari manapun sukunya, bahkan dari arab, india, china, jepang, eropa pun akan saya dukung hanya saja aku sudah bosan pemerintahan ini dipegang oleh jawa melulu yang hasilnya seperti sekarang. Aku jadi berpikiran bagaimana jika seandainya Indonesia ini jadi negara serikat saja (kan tidak bertentangan dengan pembukaan UUD?), kalau batang tubuh pasal 1 kan bisa saja diamandemen, biar setiap daerah lebih punya “freedom” untuk mengelola daerang masing2. Lagi pula setiap orangkan lebih senang tinggal dekat dengan keluarganya, Indonesia terlalu luas bung, mana ada kebahagiaan contoh: isteri dan anaknya yang orang jawa tinggal di jawa tetapi dia kerja di jayapura sedangkan isteri dan anaknya tidak bisa ikut? pastilah dia ingin selalu pulang ke jawa, jadinya kerjanya gak benar. ataw orang jawa punya isteri orang batak yang tinggal di medan dan dia kerja di manado, pastilah dia ingin selalu pulang ke medan. Coba kalau indonesia cuma jawa, kan gak repot, ataw coba kalau sumatera,banten,pasundan,bali,sulawesi,
jayapura dll berdiri sendiri, pasti gak repot ngurusi negara yang tidak terlalu luas (Soalnya antar pulau sih). Ngomong-ngomong yang membaca ambil yang baiknya saja yach, jangan aku dianggap tukang makar, aku bisa dipenjara lho, he3x. Itu cuma ide yang dijamin oleh UU kebebasan berpendapat, dari orang yang kecewa dengan pemerintahan mayoritas orang jawa masa lalu…. peace…
Masih dari aku yang penasaran, ingat ini bukan hasutan yang mendukung kemerdekaan papua, tidak sama sekali. Hanya saja berdasarkan info dan fakta yang saya dapat dari teman yang kebenarannya juga belum aku tahu (takut fitnah), bahwa sebelum adanya reformasi, bangunan2 kantor di papua itu banyak dari papan, miris kan? Setelah adanya desentralisasi barulah bangunan kantor disana jadi bagus2. Coba kita imagine, berapa banyak emas dan tembaga di jayapura yang sudah diambil oleh pihak tertentu namun bagi masyarakat lokal hanya mendapatkan “trikodon” efek dari industri dan perusahaan besar tersebut. Coba lihat australia yang kira2 serumpun dengan irian, meskipun yang pegang kendali orang-orang dari amerika, paling tidak penduduk lokal menikmati hasil bumi mereka. Fasilitas kesehatan bagus, pendidikan, air minum gak perlu beli. Di papua? or wilayah indonesia pada umumnya? mana ada PDAM yang ngaku sebagai Perusahaan Daerah Air Mandi? Ya Gak? He3x lucu yach. Pasal 33 ayat (3) UUD45 amandemen harusnya bunyinya gini “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Pertamina, PDAM, dan pejabat-pejabat korup yang terkait”, sekali lagi ini cuma penumpahan kekesalan atas pemerintah yang korup, bukan maksud untuk adu domba, peace…ok…
Ralat “trikodon” efek= “trickle down” efek. Gak tahu bahasa inggris sih, he3x.
setuju dengan caneneng, biar ada kompetisi sehat untuk maju bersama se nusantara….
@ caneneng:
Wah.. sampe separah itu sentimennya
Sepanjang pengalaman saya sih, setiap manusia (apapun suku bangsanya) selalu ada 2 kelompok.
Yang satu kelompok orang baik dan satunya orang tidak baik
Jadi masalahnya bukan di kultur atau suku bangsanya, tapi di orang2 yang terlibat di dalamnya.
salam kenal..
saya anak keturunan jawa dan sulawesi, jadi saya bisa melihat sedikit bukti yang ada dengan objektif dibandingkan dengan buku sejarah yang tanpa bukti.
yang bikin saya bingung… buku sejarah bilang sulawesi bagian dari kekuasaan majapahit…. sulawesi dimananya sebenarnya majapahit pernah kesulawesi? saya mencari2 sumber bacaan disini, sulawesi selatan.. yang ada hanya konflik terus menerus kerajaan sesama bugis makassar sendiri, dan tidak ada jejak2 yang namanya majapahit disini, atau kata majapahit saja tidak ada sama sekali.. bahkan pengaruh hindu dengan batu2 arcanya nol besar disini. nah ini yang masih saya cari2 .. dimasa sulawesi selatan sendiri rakyat bugis makassar sibuk dengan konflik turun temurun diantara mereka sendiri… tiba tiba kami sewaktu SD membaca buku sejarah anak SD, sulawesi pernah jadi bagian dari kekuasaan majapahit… gurunya saja bengong. ini kapan ya?
kalau yang dimaksud majapahit memperluas perdagangannya, mungkin hubungan saudagar sulawesi yang jualan kapal kapal layarnya atau ekspor barang yang dibutuhkan oleh kerajaan majapahit, atau melalui wilayah2 majapahit, mungkin saja.
Tapi jika ada “ahli” sejarah majapahit yang mengatakan, sulawesi sebagai daerah otonomi dari majapahit dan membayar upeti tiap tahun kepada majapahit, ini sangat aneh, saya amat memahami karakter masyarakat sulawesi selatan. bayangkan, suatu persoalan yang dianggap penghinaan martabat telah menjadi bukti sejarah konflik turun temurun diantara mereka sendiri, dan itu sangat membekas didalam ingatan mereka, seakan2 peristiwa ratusan tahun lalu itu seperti baru terjadi kemarin siang, tiba tiba ada yang mengatakan, kerajaan bugis makassar membayar upeti tahunan kepada majapahit tanpa jejak sejarah atau ingatan membekas membekas sama sekali dikepala mereka, ini aneh sekali.
kalau kitab majapahit itu baru merupakan cita cita gajah mada untuk menguasai sulawesi dan dikatakan sebagai bukti sejarah majapahit pernah menguasai dan meminta upeti kepada kerajaan bugis makassar.. ini konyol sekali dan hanya menjadi bahan tertawaan saja disini.
Sebenarnya ini kerjaan siapa yang melebih lebihkan sejarah seperti itu. dan saya sudah cape mempelajari sejarah kerajaan2 sulawesi selatan beserta konfliknya disini. sama sekali tidak ada bagian yang menyinggung hal majapahit atau upeti kepada kerajaan lain. Sekarang saya tantang, ada yang bisa memberikan bukti??
Pertama tama saya mengenalkan nama saya randu, dilahirkan dari ayah jawa ibu campuran medan sulawesi selatan,dan saya besar di jakarta.. Saya cuma mau menanggapi masalh GM ini,terlepas dia adalah pahlawan ato tidak harusnya kita bangga akan keberadaannya
Seperti org mongol sangat bangga akan genghis khannya,roma dgn julius cesarnya,amerika dgn george washintonnya terlepas diblik kehebatannya mereka jg menyimpan kekejaman yg malah2 lebih kejam dari sosok gm.. Tetapi org2 sgt menghargainya karena suka ato tidak suka mereka adalah sosok tokoh yg besar..
Terus terang menurut saya itulah kekurangan org indonesia,suka meributkan hal2 yg bersifat kesukuan.. Contoh si a gak terima kalo dulu provinsi ato daerahnya di kalahkan oleh provinsi laen.. Sadar ato tidak itulah yg membuat kita diadu domba dgn belanda dulu.. Dan jg sadar ato tidak negara kita hanya jalan di tempat sementara negara2 lain udah jauh meninggalkan kita.. Kita hanya berkutat dgn mslh sara chauvanis, harusnya kita malu.. Kita hanya meributakan hal hal seperti “majapahit tdk sebesar sejarahnya” padahal negara lain mengakui bahwa majapahit empire adalah salah satu negara terbesar di asia pd jamannya, apa teman2 tidak pernah membaca bgmn siam berperang merebutkan tumasik dngn majapahit? Ato mungkin teman2 blum pernah membaca catatan pj nehru bahwa pd jamannya majapahit memiliki armada laut terbesar dan tak tertandingi,walaupun ahirnya laksamana nala kalah dgn chengho
Lepas dari apapun sya bangga indonesia memiliki gajahmada tokoh hebat yg mengingatkan saya dgn attila the hun
GM memang sosok yang kontroversial, awal dan akhir dari GM tidak terkuak hingga kini, untuk wacana tulisan Setiabudi sangat baik… kalau saya cenderung beropini GM layak menjadi pahlawan bangsa ini, mengapa? satu sisi yang kuat adalah GM telah menginspirasi pendiri negeri ini untuk persatuan bangsa terlepas dari kontroversi menjajah vs menyatukan, saya termasuk orang yang sangat menyesali mengapa orang indonesia yang segitu banyak kalah melawan kompeni (baca belanda)karena raja-raja hanya mementingkan kepentingannya sendiri, bagi mereka mending dijajah asal kaya… makanya dalam sejarah selalu ada adipati-adipati yang pro kompeni. Kidung sunda di atas yang sangat menyayat dari sisi korban sangat sy pahami, tetapi itulah realitas politik pada masa itu… dari berbagai bahan bacaan yang sy baca, GM menganggap Sunda Galuh berpotensi mempermudah manuver tentara tartar dengan pembiaran aksi mereka di perairan sunda galuh dan itu sangat membahayakan dari sisi majapahit, ini juga dapat saya pahami… maaf kalo ngalor ngidul soalnya nggak bakat nulis he he
Nama Majapahit & GM hanya harum di Indonesia berkat jasa Mohammad Yamin. coba tanya negeri luar sana ? mereka hanya mengenal Sriwijaya dan Malaka. Malah mereka mengatakan bahwa Trowulan itu tidak lebih dari kota satelit kerajaan Mongol. Dan Gajah Mada ? dia Pedeta dari Thailand yg kemudian jadi prajurit. Jadi qt sbg orang Indonesia berpikirlah ke depan jangan bangga dengan sesuatu yang masih misteri… realistis maaaaan…..
untuk randu,
sejarah memang layak untuk dibanggakan, dahulu ada sriwijaya, dahulu ada majapahit, dahulu ada demak, namun bagaimanapun sejarah itu jika ingin dikenang maka selayaknya diklarifikasi, jangan sampai mempermalukan kita sendiri dengan kebanggaan semu, dan jangan sampai kebanggan semu itu yang dijadikan impian untuk mencita citakan indonesia yang ideal seperti itu.
anda tahu sendiri jika negara ini sudah jauh tertinggal dari negara tetangga tetangga kita. model pemerintahan sentralistik dimana hampir semua berpusat di jakarta dan tidak ratanya pembangunan dari sabang sampai merauke.
jika itu yang ingin dibangga banggakan dan masih ingin diwujudkan berdasar ide masa lalu yang toh faktanya pun tidak sebesar itu, bukan berarti kita tidak bangga dengan kejayaan masa lalu, apakah pantas?
yang patut kita ambil pelajaran, dari sekian banyak kerajaan besar masa lalu, kebanyakan penyebab keruntuhan mereka adalah perpecahan internal… itulah yang sering dimanfaatkan kerajaan lain untuk menjatuhkan kerajaan itu.
bahkan hingga sekarang, penjajah tidak akan pernah bisa menjajah jika tidak ada perpanjangan tangan dari negara yang ingin dijajah, atau tidak ada perpecahan internal.
bagaimana agar kita bisa terus bersatu? model pembangunan yang bagaimana? berjiwa besarlah, meskipun sedikit, pasti ada rasa malu dihati kita terhadap negara negara tetangga yang mampu membangun dimana sentra2 kemajuan tersebar merata dipenjuru negeri mereka. dimana semua daerah2 diwilayah negara mereka memeliki sentra kegiatan ekonomi merata yang membuat kita terkagum kagummelihat langsung hasil dari model pemerintahan mereka.
bukan model orba dengan menyerahkan kekayaan alam didaerah2 kepada pihak asing dan hanya setetes royalti saja yang diberikan oleh pihak asing kepada pemerintahan pusat untuk sebagian besar dinikmati pusat. darimanakah ide pemerintahan seperti itu? pantaskah?
cukuplah peristiwa aceh dan papua menjadi pelajaran. untuk memahami inti masalah sebenarnya.
apakah kamu pikir utusan dari daerah2 dari sabang sampai merauke akan bersedia bergabung kedalam NKRI jika ide awalnya adalah majapahit, atau sriwijaya? tentu tidak. banyak wilayah yang sekarang masuk wilayah NKRI bahkan tidak tahu menahu tentang sejarah majapahit karena mereka memang tidak pernah bergabung dengan namanya majapahit. dan bukan itu ide dasar berdirinya negara ini. atas dasar persamaan korban penjajahan. itu kan? alasan negara ini bersatu?
pertama.
Tanpa maksud mengurangi rasa penghargaan kepada pejuang kemerdekaan kita, mengapa kebanyakan negara2 dunia ketiga, diakui kemerdekaannya pada era 1940-an? karena IMF berdiri pada tahun 1944 dan itulah awal dari penjajahan sebenarnya yang baru saja dimulai. ditandai dengan kebrutalan kebijakan mereka, penggunaan emas untuk perdagangan international adalah pemberontakan terhadap IMF. dimulailah penggunaan US dollar dan mekanisme jerat hutang piutang. IMF inipun bisa berdiri setelah bank swasta the FED amerika berhasil didirikan pada tahun 1913.. meskipun dengan cara menenggelamkan titanic pada tahun 1912 untuk melenyapkan beberapa konglomerat yang tidak setuju atas pendirian FED. ini rahasia umum yang dipercaya oleh banyak investor wall street. bukan versi film percintaan yang anda tonton.
Indonesia. dizaman orba. kitalah yang paling bertekuk lutut dibawah IMF. dana pinjaman itu untuk proyek pembangunan yang membantu pihak asing, mereka sendiri, untuk mudah mengeruk kekayaan daerah daerah. dimana hanya setetes bagian atau royalti saja yang diberikan kepada pusat untuk sebagian besar dari setetes itu dinikmati oleh oknum pemerintahan pusat. sekali lagi saya tanya anda, darimanakah ide pemerintahan seperti ini?
hingga pada akhirnya pada tahun 1998, akibat dari terbelit hutang IMF, apapun keijakan IMF, maka Suharto harus tunduk. termasuk nasehat kebijakan devisa mengambang yang menjadi sinyal perampokan besar2an oleh spekulan asing. (mayoritas amerika). terang saja bukan IMF yang salah memberikan nasehat, tetapi memang kesengajaan.
Kesimpulannya, hutang itu untuk membantu pihak asing mengeruk kekayaan alam kita, dimana setetes royalti dinikmati elitist pusat, dan jauh lebih kecil lagi yang diberikan kepada daerah. dan hutang yang kita pinjam itu diambil paksa kembali oleh mereka dengan kebijakan devisa mengambang 1998 itu. Namun, kita pun masih harus melunasi hutang itu setelah peristiwa itu. bersyukurlah kabinet SBY JK sanggup melunasi hutang itu.
Maksud saya, kita memang layak berbangga dengan kejayaan masa lalu untuk memacu kita lebih optimis bahwa kita bisa maju, tetapi bukan kebanggan sejarah semu yang faktanya memang tidak sebesar itu, (comment saya sebelumnya) malah dianggap cita cita ideal untuk model pemerintahan Indonesia modern.. ya .. fatal.