Mahapatih Gajah Mada adalah sosok yang kontroversial. Hampir di seluruh kota/kabupaten di Indonesia mengabadikan tokoh ini sebagai nama jalan utama di wilayahnya.
Namun pernahkah kita perhatikan bahwa di wilayah Provinsi Jawa Barat tidak ada satu kotapun yang menggunakan nama Gajah Mada?
Ternyata hal ini terkait dengan polemik kesejarahan sosial di masyarakat Sunda yang terkait langsung dengan kebesaran nama Kerajaan Sunda.
Bagi masyarakat Sunda, Mahapatih Gajah Mada adalah tokoh antagonis yang sangat dibenci karena mengadu domba antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Sejarah kultural kebencian ini tercatat dalam Kidung Sunda/Kidung Sundayana.
Kidung Sunda/Kidung Sundayana ditulis oleh para mpu di Majapahit atas perintah Prabu Hayam Wuruk. Secara ilmiah Kidung Sunda atau Kidung Sundayana lebih tepat dikelompokkan sebagai karya sastra.
Namun sebagai informasi mengenai terjadinya skandal/tragedi Bubat yang Kidung Sunda cukup dramatis menceritakan tentang kejadian tersebut. Bahkan orang Sunda yang terkenal halus tutur bahasanya dalam Kidung Sunda tercatat dialog yang sangat kasar antara para petinggi Kerajaan Sunda dengan Mahapatih Gajah Mada.
Pada akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin Mahapatih Gajah Mada dan rombongan pengiring calon pengantin Kerajaan Sunda. Dalam catatan Kidung Sunda seluruh rombongan dari Kerajaan Sunda gugur, termasuk puteri Dyah Pitaloka.
Ada banyak versi dan penafsiran mengenai skandal Bubat tersebut (saya lebih cocok menggunakan kata skandal daripada perang karena lebih bersifat perkelahian spontan dan pembantaian daripada adu strategi militer).
Salah satunya adalah upaya untuk mendiskreditkan Mahapatih Gajah Mada. Seperti diketahui bahwa Gajah Mada bukanlah keturunan bangsawan di lingkungan kerajaan di Jawa. Kariernya dimulai sebakai bekel (kira-kira setara dengan pangkat Prajurit Dua TNI).
Kariernya mulai cemerlang saat menyelamatkan Prabu Jayanegara (Raja Kahuripan) pada saat pemberontakan Ra Kuti. Sehingga dianggkat menjadi Patih Kahuripan.
Jabatan ini dapat disetarakan dengan Perdana Menteri atau Kepala Pemerintahan. Selama itu jabatan tertinggi adalah Patih yang lebih bersifat seperti Sekretaris Negara atau Menteri Koordinator.
Sehingga sangat wajar jika diangkatnya Gajah Mada sebagai Mahapatih (rakryan patih) oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi menimbulkan kecemburuan dan menciptakan intrik di lingkungan Kerajaan Majapahit.
Pada saat Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa pun banyak pihak yang menyangsikan kemampuannya mewujudkan hal tersebut. Bahkan sebagian elit Majapahit menganggapnya sebagai upaya penjilatan kepada Ratu Majapahit saat itu.
Hal tersebut dapat dipahami karena sebagai pemimpin dan kepala negara Ratu Tribhuwanatunggadewi pada saat itu sedang mengalami krisis kepemimpinan yang sangat parah sepanjang sejarah para Raja Majapahit.
Pada saat itu banyak wilayah di Majapahit yang melakukan pemberontakan separatis terutama gerakan Keta dan Sadeng. Patih Gajah Mada pun berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga diangkat menjadi Mahapatih oleh Ratu Majapahit.
Ternyata Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya dengan menguasai Bedahulu (Bali), Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra), Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.
Di jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.
Jika melihat catatan penguasaan Majapahit di atas maka dapat dilihat bahwa Sunda tidak pernah menjadi wilayah Nusantara. Sekalipun Gajah Mada menyebutkan Kerajaan Sunda sebagai salah satu target yang harus dikuasai pada saat mengikrarkan Sumpah Palapa.
Adapun terjemahan dari bunyi Sumpah Palapa adalah sebagai berikut:
Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.
Hingga sangat wajar jika kemudian Gajah Mada begitu bernafsu ingin menjadikan Puteri Dyah Pitaloka sebagai persembahan tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit. Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan pengantar calon pengantin yang dipimpin oleh Raja Sunda langsung tersebut sebagai kesempatan untuk menaklukkan Kerajaan Sunda.
Maka Gajah Mada pun kemudian melarang Prabu Hayam Wuruk untuk menjemput rombongan calon pengantinnya ke Desa Bubat. Dengan membawa pasukan yang besar dengan tujuan untuk mengintimidasi Raja Sunda berangkatlah Gajah Mada ke Bubat hingga terjadilah skandal pembantaian tersebut.
Secara pribadi saya sendiri kurang setuju dengan pengangkatan Gajah Mada menjadi Pahlawan Nasional. Bagaimanapun konsep Nusantara yang diadopsi dalam sistem kenegaraan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara kesejarahan sedikit-banyak mencederai perasaan kebanggaan identitas kesukuan beberapa saudara sebangsa kita di banyak wilayah.
NKRI bukanlah kelanjutan dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. NKRI tidak sekedar Jakarta dan Pulau Jawa saja. NKRI adalah komitmen para pendahulu kita yang menginginkan berdirinya Indonesia sebagai tanah air, bangsa dan bahasa sebagaimana terucap dalam Sumpah Pemuda.
Maka sudah selayaknya pemakaian konsep-konsep dan penamaan sistem kebangsaan dan kenegaraan di NKRI ditinjau ulang.
Pernahkah kita bertanya mengenai konsep Nusantara?
Nusantara merupakan konsep imperialisme kerajaan-kerajaan di Jawa. Pada saat itu terdapat sistem kewilayahan yang membagi tiga kategori teritorial untuk daerah di kerajaan-kerajaan Jawa.
Tiga kategori tersebut adalah sebagai berikut:
- Negara Agung
Adalah wilayah khusus ibukota tempat berdiamnya sang raja dalam menjalankan roda pemerintahan dan kenegaraan sehari-hari. Wilayah yang disebut negara agung adalah pusat pemerintahan sebuah kerajaan Jawa. - Mancanegara
Adalah wilayah-wilayah sekitar negara agung yang mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa seperti Madura, Sunda dan Bali. - Nusantara
Adalah wilayah atau kerajaan-kerajaan yang tidak mendapat pengaruh langsung dari kerajaan Jawa tetapi masih merupakan daerah kekuasaan dimana para rajanya harus memberikan upeti kepada raja Jawa.
Maka dapat kita lihat bahwa polemik mengenai status Gajah Mada sebagai pahlawan nasional mungkin harus kita kaji ulang. Mungkin lebih tepat jika Gajah Mada kita hormati sebagai tokoh yang berperan dalam sejarah panjang perjalanan suku Jawa di Indonesia.
Sedangkan posisinya sebagai pahlawan nasional dapat dipertimbangkan karena jelas sekali bahwa Gajah Mada bukanlah tokoh kemerdekaan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia.
Popularity: 9% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Review Buku “Kantongi Sang Gajah”
- Mohamad Toha: “Pahlawan Nasional Tanpa Tanda Jasa”
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Polemik “Jangan Percaya Semua yang Kamu Baca” & “Validitas Informasi di Wikipedia”
- Fluoride, Menyehatkan atau Meracuni?
- Punakawan: Simbol Kerendahhatian dan Penebar Hikmah
- Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
- Dilema dan Fenomena Snouck Hurgonje
- Review Buku “Don’t be Sad” atau “Laa Tahzaan”
- Berbasa Daerah = Kampungan?
- Pilih Durinya atau Dagingnya?
- Ditindas atau Bangkit Melawan!!
- Ditindas atau Bangkit Melawan (Jilid 2)
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development” Bagian 2

Umumnya sejarah indonesia digali oleh orang eropa terutama belanda dan inggris, sedang pelengkap datanya biasanya dari catatan perjalanan orang china, portugis, arab, india dan juga sumber lokal. banyak catatan lokal mengenai sejarah masa lalu, tapi sering bercampur dengan mitos, kebanyakan penulis chronicle (peristiwa2) di masa lalu, lebih untuk melestarikan kekuasaan daripada membuat tulisan buat generasi sesudahnya. sejarah indonesia umunya bersumber dari buku2 eropa dan belanda, termasuk rekonstruksi candi2 umumnya dilakukan oleh orang eropa, jadi secara ilmiah lebih bisa dipertanggung jawabkan, termasuk prestasi gajah mada. namun perlu diketahui perang bubat bahkan tidak ada di negara kertagama (sumber lokal), dan tidak memiliki pendukung dari catatan luar, kecuali kidung bali sebagai satu2nya sumber. berbicara suku isme, kerajaan jawa di masa lalu tidaklah homogen, artinya di dalam srukturnya ada orang lokal, india, china. ini bisa diterangkan dengan agama orang majapahit yang disebut siwa budha (campuran hindu dan budha) sebagaimana fakta hari ini bahwa hanya negara2 indochina, china, korea dan jepang yang beragama budha sebagai agama negara. itu menunjukan ada konflik yang disatukan dengan konsep bhineka tunggal ika untuk menghindari konflik hindu – budha, bila hindu sudah menyatu dengan pribumi, budha kemungkinkan masih dibawa orang2 china dan keturunnanya. jadi secara ilmiah perang bubat ada masih debatable tapi ok untuk di jadikan roman
DJOWO vs SUNDO… wakakakakakkkk primitiv bgt yak… sebenernya Perang Bubat kagak pernah ada cuey!!! kidung sunda itu hanya karya bualan bongso walondo (nederland) yg menjajah dan mengadu domba nusantara (bangsa kita) pada jaman dulu untuk mencipta ego kesukuan dan mencipta perang antar suku. jancok jaran wong londo iku!!!!! sadarlah wahai saudaraku Sunda… saya asli keturunan majapahit. skrg NKRI!!!! salam…
kidung sunda hanya roman atau novel yg bersifat fiktif belaka… dan kejadian PERANG BUBAT itu TIDAK PERNAH ADA, dan jelas tidak pernah terjadi. utk itulah wahai saudaraku… banyak2lah membaca dari berbagai sumber, kalo perlu telusuri sejarah spy tahu kebenarannya!!!!!!
Gajah Mada buat kamu pergi ke semarang ngga perlu buat pasport… Gajah Mada buat kamu pergi ke Sumatra ngga perlu buat pasport… Gajah Mada buat kamu pergi ke Sulawesi,… ngga perlu buat pasport… emang ngga mikir apa… kalo satunya Indonesia ini karena perjuangan gajah mada…. kacian de loe…!
@ ariehvn:
Wah… kalau itu sih nggak ada hubungannya dengan gajah mada pak…
Terbentuknya NKRI terbentuk dari Kongres Pemuda Indonesia yang mendeklarasikan bangsa, bahasa dan tanah air Indonesia, bukan Nusantara.
udah..
ga sah trlalu repot dipikirin..
itu masa lalu..
apapun yang terjadi di masalalu tentang majapahit ga terlalu berdampak pada kehidupan kita yang sekarang..
yang penting karang kita dh merdeka n yang pasti kita tahu sapaa aj yang udah buat kita hidup tenang seperti ini..
so enjoy your life..
ok
Aku setuju kalau NKRI bukan product eyang gajah mada tetapi produ ct kesepakatan suku-suku di indonesia untuk bersatu terutama melawan pejajah dutch dan untuk bersatu menjadi NKRI. Tetapi dengan caranya sendiri maha patih gajah mada telah mempersatukan nusantara. Ide dan pemikirannya itu perlu kita dukung, tetapi tehniknya kita sesuaikan dengan kondisi sekarang. Semoga perang bubat sebenarnya adu domba londo saja tetapi jika benar ada, anggaplah sebagai pengorbanan sebagaian bangsa kita untuk persatuan Nusantara, Biarkanlah itu sebagai sejarah, tetapi tak perlu emosional sebab sekarang kita Indonesia milik semua mantan suku di Nusantara.
Halo semua, jangan percaya dengan apa yang dikatakan Gajah Mada. Dia itu hanya menyebutkan kata-kata “Seblum aku menyatukan nusantara aku tidak akan makan buah pala”, lha kalau cuman ngomong begitu toh aku juga bisa. Apakah itu sudah menjamin lalu Gajah Mada telah menguasai nusantara. Saya tolak man statement begitu.
Kalau kakek saya juga pernah ngomong begitu apa lantas dia disebut telah menaklukan nusantara????pikir man
Sejarah Gajah mada dan penguasaannya itu pinter-pinternya orang Jawa yang merekayasa kisah sejarah dan memanipulasi opini agar kita semua percaya. Setelah itu dibukukan dan disebarkan seakan-akan Gajah Mada yang ” katanya orang Jawa” telah mempersatukan nusantara, nah itu yang dipegang TNI sampai sekarang. Jadi sifatnya politis bung.
Saya orang Dayak dari Kalimantan tidak rela dan tidak akan pernah mau bergabung dengan NKRI. Apa yang dikatakan Gajah Mada dan sejarah yang dibuat Moh Yamin itu bohong semua, jangan dipercaya. Itu hanya taktik bagaimana TNI menguasai nusantara dengan dalih sejarah tadi.
Kalau mau jujur, Gajah Mada itu hanya sebuah angan-angan yang dibuat-buat saja oleh TNI masa Orde Baru untuk tujuan politik. Jadi bung yang punya blog ini pun sudah termakan sejarah bohong yang disebarkan TNI dan Jawasentris.
Kami orang Kalimantan tidak akan menerima kisah tersebut, kalau terjadi perang dunia ketiga habis lu semua jang berusaha menjawa-jawakan kalimantan. Dilarang berbahasa Jawa ditempat kami sama seperti anda melarang bahasa Cina di Jawa.
Untuk bung Arya, orang Jawa tidak pernah mau mengalah, lihat saja memang bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia tetapi akhir-akhir ini sejak jaman Soeharto Jawa berusaha memasukkan kosa kata Jawa sebanyak mungkin dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, apa itu? Paksaan kan namanya.
Jadi Jawa berusaha menguasai sendi-sendi termasuk mau merubah identitas bahasa dari yang tadinya bahasa Indonesia-Melayu menjadi Indonesia-Jawa. Bangsat kan Jawa. Jadi tidak benar Jawa sudah banyak mengalah. Itu isapan jempol saja.
Bung Gati.
Kita ga usah menyatu-nyatukan suatu perbedaan. Biarlah perbedaan itu berjalan dengan sendirinya hanya saja dalam perbedaan itu kita saling menghormati dan adil dalam betindak maka cita-cita Gajah Mada lu tu jadi kenyataan.
Kami jelas tidak mau dong sebagai orang Kalimantan dibilang telah ditaklukan Jawa atau Gajah Mada. Jika seperti itu mksudnya maka perlu ditanyakan, maksud anda apa berusaha mengarahkan supaya kami meyakinkan si Gajah Mada itu menguasai kami juga yang jelmaannya sekarang adalah orang Jawa itu, sori bro.
LihatPancasila itu pada sila ke tiga, jelas sudah kata-kata yang berbunyi ” Persatuan Indonesia” bukan “Kesatuan Indonesia”. Jadi konsep NKRI itu juga pandai-pandainya TNI yang buat agar sumberdaya alam tetap dikuasai.
Melihat hal itu jelas sudah siapa yang membelokkan sejarah dan falsafah bangsa? dari kata PERSATUAN (Persemakmuran) menjadi kata KESATUAN. Kata Kesatuan tidak dikenal dalam falsafah bangsa. yang ada adalah Persatuan dan Bhineka Tunggal Ika yang artinya Beraneka ragam tetapi tetap satu. Tidak ada makna Kesatuan disana. Kesatuan adalah sesuatu yang mengikat dalam satu aturan dan segala hal, apakah termasuk adat budaya dan bahasa? Tidak.
Terjadinya Indonesia sebagai sebuah negara tidak didasari oleh keterikatan, perlu diingat itu, melainkan kesadaran masing-masing daerah utuk bergabung karena senasib.
Akhir-akhir ini saja konsep persatuan diplesetkan menjadi kesatuan, lebih ganas lagi sebutan NKRI Harga Mati.
Ya ga masalah. Biarpun selogan itu begitu mengerikan, kalau Tuhan sudah berkehendak Indonesia hancur, ya hancur.
Sultan Hamid II pembuat lambang negara Burung Garuda kok sampai sekarang tidak diakui negara terutama oleh para pemimpinnya yang Jawa itu. Bangsat Jawa.
“Di jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.”
maaf…tapi makassar tidak pernah ditakklukkan oleh gajah mada…..hubungan kedua kerajaan ini adalah hubungan dagang..bukan hubungan penaklukan….!!!