Saya ingat, waktu masih maraknya judi lotere seperti Porkas, SDSB dan TSSB dulu, banyak orang yang tidak hanya kehilangan harta tetapi kehilangan akal sehatnya.
Mereka adalah orang-orang yang bermimpi bisa cepat kaya hanya dengan berjudi dan menggantungkan hidupnya pada undian yang menghasilkan deret angka tertentu.
Sedemikian terobsesinya mereka terhadap cara mudah dan cepat kaya ini sehingga akal sehatnya tergadaikan dengan mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat bahkan dukun kode buntut.
Bagi sebagian kecil orang yang kebetulan memperoleh kesialan dari usahanya menjadi cepat kaya tersebut mereka kemudian memproklamirkan bahwa menjadi kaya tanpa kerja keras itu adalah keniscayaan.
Mereka kemudian yang menjadi corong para dukun kode buntut dalam menyuarakan propaganda cara sukses menjadi kaya tanpa kerja keras dan cepat.
Bahwa kemudian kenyataan membuktikan bahwa bagi kebanyakan orang, cara instan itu ternyata menyesatkan dan menghancurkan kehidupan mereka.
Hal paling tragis yang terjadi adalah kenyataan bahwa para dukun kode buntut itu ternyata kaya-raya bukan karena ramalan mereka terbukti jitu tetapi disebabkan banyaknya orang yang datang dan memberikan uang jasa konsultasi kepadanya.
Sayangnya jumlah orang-orang yang bermental seperti itu, baik sebagai orang yang terobsesi dengan cara cepat kaya maupun dukun kode buntut masih banyak bertebaran saat ini.
Hanya berbeda baju tetapi hakikatnya sama, kemalasan orang untuk menjalani proses dan kecerdikan orang-orang licik yang memanfaatkan rasa malas itu.
Lihatlah orang-orang yang menyemut di forum-forum yang mengklaim mampu menjadikan mereka cepat kaya.
Mereka lupa pada satu hal bahwa kekayaan hanyalah efek sampingan dan bukan hasil akhir.
Tanyalah pada orang-orang yang sukses dalam hidup ini, semuanya akan memberikan pernyataan seragam: “kenikmatan proses meraih sukseslah yang menjadi passion mereka dibandingkan hasilnya itu sendiri.”
Ayolah, masihkah kita percaya pada seorang dukun kode buntut yang sekedar berganti baju?
Popularity: 4% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Sup Buntut Dapur Dahapati
- Kesejahteraan VS Kekayaan = Target Infaq VS Income yang Harus Dicapai
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Betapa Rapuhnya Kekayaan Harta Kita
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”
- Siapa Bilang Zakat Cuma Buang Sial?
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Tanggapan Pribadi Atas Internet Marketing & Motivasi Gabung dengan TDA
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Behind the Process… Buku “Buktikan..! Anda Pasti Kaya-Raya”
- Ulasan Buku: “Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami”
- Hati-Hati dengan Pembajakan Alamat E-mail
- Borong Aja Sendiri.. Pasti Orang Penasaran!!
- Resensi Buku “10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas”

Hallo mas Aries,
Barusan saya baca tulisan tentang mbah Dukun buntut. Memang kasihan sekali ya orang2 yang kehilangan akal sehat hanya karena ingin cepat kaya.
Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk niat baik. Salam dan doa sehat sukses bahagia.
Assalum’alaikum pak Setiabudi,
Have a nice weekend nih…
Baca link posting ini dari TDA, betul juga posting bapak, jadi inget fenomena dukun kode buntut dulu ya, hehehehe.
Itulah hidup pak, kan namanya juga panggung sandiwara kata Ahmad Albar
Sekian pak, di undang mampir juga nih… ke blog saya:
http://www.deni-ds.blogspot.com
Wassalam
Kang Deni
Banda Aceh
@ Bu Aning Harmanto:
Halo Tante..
Terima kasih sudah main ke blog yang masih harus banyak dibenahi ini (termasuk saya sendiri juga harus banyak dibenahi
)
Semoga sukses selalu Tante..
@ Kang Deni:
Alaykum salaam.. wah jangan dipanggil Pak dong Kang.. orang masih anak ingusan begini.
Saya sudah masukkan blog Kang Deni di Feed RSS blog ini sejak lama
Maklum fakir bandwidth
Mas, dukun kode buntut juga kudu punya keahlian lho, yaitu mampu melihat dalam kegelapan dan melompat masuk ke dalam celah kebutuhan orang lain. Celah kebutuhan ini terjadi karena realitas tidak sesuai harapan. Makin lebar celahnya, makin tinggi ketegangannya. Nenek moyang kita yang tinggal di gua-gua mewariskan gen bahwa ketegangan tidak bisa terus menerus dipertahankan,untuk survive dia harus di rilekskan. Jadi dukun kode buntut bisa masuk dari sini, menawarkan, memberi harapan, melepaskan ketegangan kebutuhan dan akhirnya dapat sindiran dari BUYA’E RANIA
Oh iya lupa, mentang2 orangtua, semua orang di anggap sepantaran aja, maaf mas
Anyway busway, sekalian mau info juga nih, sejak kemarin blogspot saya re-direct ke
:
http://ww.deni-ds.com
Mohon diupdate ya mas.
@ Bu Evi:
Wah.. kalau begini sih malah Bu Evi yang nyindir “dukun kode buntut” itu
@ Kang Deni:
Ok bos.. done!