Sepulang dari tempat kerja, saya mendengarkan radio di kendaraan. Kebetulan saat sedang memindai frekuensi, terdengar alunan seorang saritilawah yang membacakan terjemahan Surat al-Mudadtsir.
Tiba-tiba saya terhenyak saat terdengar kalimat ini:
“..dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhan-mu, bersabarlah.”
Nggak kerasa.. badan saya jadi bergetar, merinding dan bergidik secara spontan.
Ternyata selama ini saya sudah terlenakan dengan prinsip dan cara pandang yang ditunggangi nafsu, bahwa jika ingin memperoleh sesuatu maka haruslah memberi terlebih dahulu.
Seolah-olah dengan apa yang saya lakukan dan berikan untuk orang lain pada akhirnya terselip niat untuk memperoleh balasan dalam bentuk apapun.
Sudah tidak ada lagi spirit tanpa pamrih atau ketulusan di dalamnya, apalagi sifat ikhlas yang menjadi tuntutan pola pandang seorang Muslim sejati.
Saya pun menjadi malu sejadi-jadinya kepada Alloh SWT.
Betapa ternyata saya sudah terjerumus melanggar larangannya demi sekedar mengikuti nafsu belaka.
Apapun yang kita usahakan pada akhirnya hanyalah ditujukan untuk menghambakan diri kepada-Nya.
Seharusnya saya berpegang teguh pada janji-Nya bahwa Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka jika kita total beriman dan bertakwa kepada-Nya.
Seharusnya saya betul-betul total pasrah dengan keyakinan tanpa ragu bahwa Dia akan menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang selalu mendahulukan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Ah.. terima kasih dan mohon ampun yang sedalam-dalamnya hamba persembahkan kepada-Mu ya Alloh..
Semoga saritilawah dan pemilik siaran radio yang menjadi alat untuk mengingatkan saya tersebut memperoleh balasan kebaikan yang setimpal dari-Nya.
Popularity: 4% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Memberi itu (ternyata) indah
- Kemampuan Kita Ternyata Tak Terbatas
- Pikiran Anda Tidak Sebodoh yang Anda Kira! (Karena Kita “bukan” Kera Terpelajar)
- Benarkah Alloh adalah Tuhan Kita?
- Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- Ingin Sukses? Sholatlah!
- Mengapa Saya Lebih Memilih Menjadi Wirausahawan
- Data Lebih Lengkap Soal Razia Illegal Software Di Tempat Publik
- Sujud – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (8)
- Sudahkah Kita Nikmati Ibadah Kita?
- Hal-Hal yang Ingin Saya Sampaikan (kalau) Bertemu Bill Gates di Indonesia
- Waduh… THR Kok Diributin
- Alloh SWT Tidak Adil Kepada Iblis?
- Duduk di antara dua sujud – Seri Kita Belajar Sholat Yuk (9)

Terimakasih Pak Aries, kembali mengingatkan kita untuk mengutamakan Ikhlas.
Fuad Muftie
@ Pak Fuad Muftie:
Jazakumulloh Pak Fuad.. nggak tahu harus ngomong apa
Masih syok dengan “tamparan” itu..
Trim’s Pak Pencerahannya…
Sukses terus untuk mendalamai makna Ilmu Ikhlas-nya.
Bagaimana Kontek 2M (Memberi dan Melayani) kutipan dari blog Pak Bams (http://betigaklaten.wordpress.com/)
@ Pak Ipul Anwar:
Mohon doanya Pak.. semoga bisa mencapainya..
Alhamdulillah, suatu ‘tamparan’ yg indah dari Allah. Tetapi, kalau boleh saya berpendapat, selama kita berharap sepenuhnya bahwa apa yg kita berikan akan dibalas oleh Allah, apapun bentuknya asalkan untuk kebaikan, maka itu tidak melanggar syariat.
Yg dilarang adalah jika kita mengharap ‘pamrih’ selain dari Allah, sedangkan kepada Allah sudah seharusnya dan sepantasnya kita meminta ‘pamrih’.
Salam kenal ya Pak…
@ rulsyah:
Salam kenal juga..
Kalau saya sih nggak berani berharap apapun kepada Alloh SWT kecuali diampuni segala dosa yang sudah saya perbuat dan selalu dibimbing oleh-Nya.
terima kasih
Ya mestinya kita melakukan kebaikan semata untuk ALLAH Bukan untuk imbalan ok