Arsip Postingan

Blog yang Setiap Hari Saya Kunjungi

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak

Buku berjudul Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak ini adalah saduran dari buku berjudul What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccinations karangan Stephanie Cave, M.D., F.A.A.F.P bersama Deborah Mitchell.

Diterbitkan dengan ISBN 979-22-349-4 yang diterbitkan pertama kali oleh PT. Gramedia Pustaka Utama cetakan pertamanya pada tahun 2003.

Buku yang sangat memukau saya karena menyajikan banyak informasi mengejutkan tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan di media informasi apapun.

Selama ini setiap informasi yang kita terima mengenai vaksinasi adalah suatu hal yang harus dilakukan dan memiliki dampak nol persen terhadap kesehatan manusia.

Padahal sebagaimana tertulis dalam lembaran pertama buku ini disebutkan sebagai berikut, “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik daripada menyembuhkan”.

Ditutup dengan kalimat berikutnya, “Jangan ambil resiko untuk kesehatan anak Anda! Pelajari lebih lanjut tentang vaksinasi yang ada pada masa kini dengan… ORANG TUA HARUS TENTANG VAKSINASI ANAK”.

Mengapa hal tersebut menjadi penting?

Karena sebagai orang tua, tentunya kita mengharapkan hal terbaik yang dapat kita berikan kepada seluruh anak kita. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika dan hanya jika kita memiliki informasi yang memadai mengenai apapun yang ingin kita persembahkan kepada mereka.

Fakta-fakta mengejutkan tentang kandungan merkuri yang digunakan dalam sebagian besar vaksin anak saat ini baru salah satu contoh mengerikan tentang vaksin yang harus Anda ketahui.

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang vaksin:

  1. Beberapa vaksin mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan formalin
  2. Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program vaksinasi berbasis sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada anak-anak usia sekolah karena kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan dengan vaksin tersebut dan lebih dari 600 kasus imunitas dan persyarafan telah dilaporkan.
  3. Beberapa vaksin dibuat menggunakan bahan yang berasal dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan.
  4. Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak berusia 5 tahun, ia sudah harus menerima 33 dosis dari 10 vaksin.
  5. Para dokter hanya melaporkan kurang dari 10 persen kejadian buruk yang berkaitan dengan vaksinasi dan/atau sesudah vaksinasi.

Selain itu salah satu isu keamanan yang menurut buku ini sering diabaikan adalah bahan-bahan tambahan yang terdapat dalam vaksin sebagai berikut:

  1. Alumunium
  2. Logam ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai pendorong terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab kejang, penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini biasanya digunakan pada vaksin-vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B.

  3. Benzetonium Khlorida
  4. Benzetonium adalah bahan pengawet dan belum dievaluasi keamanannya untuk dikonsumsi oleh manusia. Biasa digunakan sebagai campuran vaksin anthrax terutama diberikan kepada para personil militer.

  5. Etilen Glikol
  6. Biasa digunakan sebagai bahan utama produk antibeku dan digunakan sebagai pengawet vaksin DaPT, polio, Hib dan Hepatitis B.

  7. Formaldehid
  8. Bahan kimia yang terkenal sebagai zat karsinogenik (penyebab kanker) yang biasanya digunakan dalam proses pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan peledak dan pewarna kain.

    Selain beracun, menurut Sir Graham S. Wilson pengarang buku The Hazards of Immunization formalin tidak mamadai sebagai pembunuh kuman sehingga maksud penggunaannya sebagai penonaktif kuman dalam vaksin menjadi tidak berfungsi dengan baik.

    Akibatnya adalah kuman yang seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah menguat dan menginfeksi penggunanya.

  9. Gelatin
  10. Bahan yang dikenal sebagai alergen (bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan dalam vaksin cacar air atau MMR. Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu tambahan karena biasanya bahan dasarnya berasal dari babi.

  11. Glutamat
  12. Bahan yang digunakan dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi buruk kesehatan dan ditemukan pada vaksin varicella.

  13. Neomisin
  14. Antibiotik ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan vaksin. Neomisin menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan sering ditemukan dalam vaksin MMR dan polio.

  15. Fenol
  16. Bahan yang berbahan dasar tar batu bara yang biasanya digunakan dalam produksi bahan pewarna non makanan, pembasmi kuman, plastik, bahan pengawet dan germisida.

    Pada dosis tertentu, bahan ini sangat beracun dan lebih bersifat membahayakan daripada merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan tujuan utama pembuatan vaksin.

    Fenol digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.

  17. Streptomisin
  18. Antibiotik ini dikenal menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa ditemukan dalam vaksin polio.

  19. Timerosal/Merkuri
  20. Bahan yang sangat beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada hampir seluruh vaksin yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah salah satu bahan kimia yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang yang menyebabkan lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.

    Berikut ini adalah beberapa kerusakan yang disebabkan keracunan merkuri:

  1. Otak bayi masih mengalami perkembangan yang cepat dan merkuri bisa merusak sel otak secara menetap.
  2. Sistem kekebalan tubuh bayi masih belum berkembang secara penuh sehingga bayi tidak mempunyai kemampuan melawan serangan benda asing (bakteri, virus dan racun lingkungan) secara benar.
  3. Kemampuan tubuh bayi untuk membuang racun dari tubuhnya melalui hati belum berkembang sepenuhnya sehingga zat-zat berbahaya cenderung menetap di dalam tubuhnya seperti merkuri, formalin dan alumunium.
  4. Penghambat darah-otak (selaput yang berada di antara darah yang beredar di tubuh dengan otak yang berfungsi bahan-bahan berbahaya mencapai otak) belum mampu menghalangi racun yang bisa merusak otak.
  5. Gejala keracunan merkuri yang paling umum antara lain adalah:
    • Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk mudah marah dan malu
    • Hilangnya sensasi dan masalah penglihatan serius
    • Ketulian dan kecenderungan kesulitan berkomunikasi karenanya
    • Kelemahan otot dan tidak adanya koordinasi tubuh yang baik
    • Hilangnya/lemahnya ingatan
    • Tremor/gemetaran

Belum lagi fakta-fakta yang disajikan dalam buku ini yang mengkaitkan vaksinasi yang berbahaya dengan meningkatnya kasus-kasus autisme saat ini.

Dimana kasus autisme ini ternyata memiliki kemiripan dengan gejala-gejala keracunan merkuri yang banyak digunakan dalam vaksin.

Hal yang menarik lainnya untuk kita di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya melakukan vaksinasi polio melalui mulut (oral/dimakan) adalah fakta bahwa sejak tahun 2000 Sentra Pengendalian Penyakit Amerika Serikat sudah menghentikan vaksin oral dan digantikan dengan suntikan.

Mengapa? Karena vaksinasi polio oral terbukti menimbulkan sampai 10 kasus polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan terutama penyumbatan usus!

Lantas mengapa informasi-informasi tersebut cenderung tidak pernah terpublikasikan secara luas?

Alasannya tentu saja sederhana sekali: UANG.

Bisnis produksi dan penjualan vaksin bernilai milyaran dollar Amerika Serikat per tahun! Selain itu banyak sekali bukti-bukti yang kemudian dibungkam menelusuri bahwa penyakit-penyakit saat ini seperti HIV/AIDS, DBD (demam berdarah), flu burung, dsb adalah senjata biologi yang sengaja dikembangkan yang kemudian dilepaskan ke komunitas sehingga mendorong kebutuhan akan obat dan vaksin penyakit-penyakit tersebut.

Saya dan isteri pun akhirnya sepakat untuk tidak memvaksinasi puteri kami. Hal ini kami lakukan setelah berkonsultasi dengan banyak ahli kesehatan (kedokteran, kimia klinis, teknologi kesehatan, dsb).

Apalagi ternyata teman-teman kami yang menjadi atau sedang kuliah menjadi dokter di Eropa secara terang-terangan menyatakan “vaksinasi adalah fiksi seperti cerita manusia mendarat di bulan..”

Popularity: 20% [?]

Bookmark this on Hatena Bookmark
Hatena Bookmark - Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
Share on Facebook
Post to Google Buzz
Bookmark this on Yahoo Bookmark
Bookmark this on Livedoor Clip
Share on FriendFeed

Topik yang mungkin Terkait:

  1. Review Buku “The Art of Innovation”
  2. Review Buku: The Alchemist
  3. Review Buku “Don’t be Sad” atau “Laa Tahzaan”
  4. Review Buku: Sukses Tanpa Batas
  5. Review Buku “Kantongi Sang Gajah”
  6. Review Buku “Latih Ulang Otak Bisnis Anda”
  7. Review Buku: “Hebron Journal”
  8. Review Buku “Blue Ocean Strategy”
  9. Kesejahteraan VS Kekayaan = Target Infaq VS Income yang Harus Dicapai
  10. Review Buku: “Rich Game – Cara Kaya dengan Investasi”
  11. Review Buku “Rencana Bisnis Lengkap”
  12. Pesta Tahu Sumedang di Perjalanan Pulang Mudik
  13. Kritikan terhadap UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
  14. Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
  15. Tahukah Anda Seorang Penerbang Menggantungkan Hidupnya pada Sebatang Jarum?

20 comments to Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak

  • Salam kenal. Wah, yang ini saya belum baca, Pak. Lebih seram dari info yang saya dapat sebelumnya. Alhamdulillah, walau agak terlambat sejak umur 6 bulan anak saya sudah tidak saya ikutkan vaksin lagi. Sekarang cukup kekebalan alami saja, ASI.

  • Salam kenal juga Ibu Sheila..
    Terima kasih sudah mampir.
    Kalau baca bukunya lebih “ngeri” lagi lho..

  • saya pengen punya buku ini, cuman kayanya sekarang udah gak cetak lagi. boleh gak saya copy bukunya. :mrgreen: :wink:

  • @ emil:

    Kayanya sih emang udah dibredel di Indonesia :smile:

    Mendingan beli versi aslinya saja deh di http://www.amazon.com/What-Doctor-About-Childrens-Vaccinations/dp/044661503X/ref=sr_1_1?ie=UTF8&s=books&qid=1203066818&sr=8-1

    Nggak enak kan kalo di-copy ntar jadi ngebajak hasil karya orang lain.

    Salam..

  • yups… bener banget buku itu emang udah di bredel alias gak boleh beredar lagi :lol: maka itu saya susah banget tuk dapetin itu buku :mrgreen:

  • @ emil:

    Atau coba bikin sadurannya ke Bahasa Indonesia dan diajukan buat diterbitkan di penerbit lain :smile:

  • Assalaamu’alaykum

    Pak Setiabudi yang baik, saya sangat memerlukan buku ini. Saya perlu untuk bahan tulisan saya. Kalau boleh saya mau foto kopi. Boleh minta no telp dan alamat bapak?
    Terima Kasih

    Wassalaamu’alaykum
    Asdwin Noor

  • @ Nigella Sativa:

    Alaykum salaam..

    Halo Pak Asdwin Noor yang budiman.
    Mohon maaf sebelumnya, bukankah kalau difotocopy harus ada ijin tertulis dari penerbitnya? :smile:

    Mungkin bisa dihubungi langsung ke penerbitnya saja untuk penggandaan tersebut atau silahkan beli langsung versi aslinya di Amazon.com.

    Jazakumulloh..

  • yup, saya pernah mndengar itu dri teman d kantor, swaktu imunisasi pertama anak saya, saya sempat bertanya ke bidannya–lbh mlihat halal haramnya bahan imunisasi. Krn msh bimbang, akhirnya trpaksa anak di imunisasi deh sampai skrg. skrg anak saya br brusia 7 bulan. bagaimana sbaiknya?apakh imunisasi slanjutnya d hentikan? kl dihentikn lalu alternatifnya apa?slain ASI/Herbal? terimaksih

  • @ wahyu:

    Salam Pak Wahyu,

    Dari pengalaman puteri kami sih, Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa Pak.

    Malah terjadi kasus keponakan kami, pagi harinya diimunisasi campak tapi besok paginya malah terserang :smile:

    Yang pasti jika melihat kandungan yang terdapat di dalamnya, imunisasi jelas “lebih banyak mudharatnya” daripada manfaatnya.

  • uminasywa

    saya juga punya baru punya putri 4 bln dan sedang bimbang sekali mengenai masalah immunisasi ini, karena kakaknya (4 thn) dulu saya berikan imunisasi lengkap sampai yang tambahan2nya. klo tanya ke DSAnya sih jawabannya aman aman aja. tapi insya Allah saya mau hentikan saja imunisasi ini untuk dede. hanya kepada ALLAH SWT saya bergantung

  • sylvie

    slmt malam pak wahyu.. saya sylvie dr bali, putri kami baru berumur 2 bulan, temen saya ada bilangin saya soal autisme ini.. tapi begitu saya tanya dokter tentang vaksin2 katanya banyak kasusnya skrg, banyak yg meninggal.. .and semua vaksin aman2 saja..
    nah, kalo dokter udah bilang gitu saya sebagai ortu mau gak mau ya harus terima di vaksin.. karena takut omongan dokter itu..

    kira2 pak wahyu tau gak kemana saya harus konsultasi tentang vaksin ini…??

    trims sebelumnya..

  • @ uminasywa:

    Banyak yang melupakan satu hal penting.
    ASI ternyata karunia Alloh SWT yang tidak tergantikan dalam membentuk sistem imunitas alami tubuh manusia.
    Jadi bukan tanpa alasan jika para ibu yang mulia didorong untuk menyusui anaknya sampai usia 2 tahun.

  • Hilmi

    Salam kenal pak,
    Sangat senang sekali membaca info ini, setelah beberapa kali bingung tentang vaksinasi untuk anak.
    Anak kami yang pertama sudah di vaksinasi penuh, & sekarang istri saya sedang hamil 6bulan.
    Insya allah anak kami yang kedua rencana tidak kami imunisasikan, tapi masih bimbang omongan orang kiri-kanan (takut waktu jatuh sakit men jugde karena tidak diimunisasi)

  • Hilmi

    Salam kenal pak,
    Sangat senang sekali membaca info ini, setelah beberapa kali bingung tentang vaksinasi untuk anak.
    Anak kami yang pertama sudah di vaksinasi penuh, & sekarang istri saya sedang hamil 6bulan.
    Insya allah anak kami yang kedua rencana tidak kami imunisasikan, tapi masih bimbang omongan orang kiri-kanan (takut waktu jatuh sakit men jugde karena tidak diimunisasi)

    Oya kalau bisa web bapak diberi fasilitas untuk share di facebook agar teman2 juga bisa mengakses informasi yang sangat bermanfaat dari bapak.
    Tks

  • indrajaya

    salam.
    saya baru d tag tmn saya , mslh vaksin dg asi . saya minta solusi , anak saya kebetulan gak mnm asi . mamanya udh gak klyar asinya . tq .

  • Tksh infonya, jd +yakin :idea: , Jadi ingat istri teman dan 2 anaknya yg sdh diimun cacar, eh kena campak juga, tp suaminya yg tdk diimuns malah tdk tertular..

  • humez

    perlu diingat juga bahwa sistem kekebalan untuk bayi itu harusnya sudah mulai dipikirkan sejak masih dalam kandungan. karena awal mulanya kan dari sejak ibunya hamil. jd ibu hamil jg harus benar2 memperhatikan gizi dari asupan makanan dan minumannya. pas belanja lebih hati2. mending pilih yg organik meskipun lebih mahal daripada bahan2 makanan transgenik..
    kalo baca teori konspirasi di bidang kesehatan pasti bakal lebih ngerilah..
    saya cenderung setuju dg kalimat terakhir tulisan ini, “vaksinasi adalah fiksi seperti cerita manusia mendarat di bulan..”
    wallohu a’lam…

  • diaz Mubarok

    astaghfirulloooohhh.. hikhikhik…
    baru tau, tapi anak sudah berumur 2thn dan sudah penuh lengkap smw imunisasi yg DSA nya sarankan walu mahaL kami bela-belain karena berharap yg terbaik utk buah hati kami..
    jadi gimana neh??
    hari ini baruuu saja di campak yg kesekian kalinya

    inginmenangissaja.com

  • iman

    slamat pagi semua, waduh memang hal yang satu ini slalu menjadi kontroversi, boleh atau tidak vaksin itu? kbetulan saya seorang dokter dan kemudian lagi saya sedang mengambil spesialis, pada dasarnya kalau kita mau memandang sesuatu janganlah dilihat dari salah satu sisi saja, seperti hal ini, kalau buku ini memandang hanya memberikan pandangan salah satu sisi saja, dalam menilai salah satu karya tulis itu kita semestinya tau kuaitas tulisan itu bagaimana, menurut saya buku ini hanya mempunyai kelas 3C, yaitu pendapat ahli, yang sama sekali tidak disetujui oleh semua ahli yang sama, nah satu sisi lagi kalau dibenturkan mengenai agama coba kita bercermin pada negara2 arab, seperti turki, arab saudi, yang nota bene negeri rasul mereka menerapkan imunisasi yang sangat ketat, contohnya kita kalau mau naik haji mesti ada keterangan sudah di imunisasi meningitis, belum lagi kalau saudara2 pergi ke turki mereka menerapkan imunisasi penyakit thypus dengan sangat2 ketat, nah smuanya pandang dari sisi yang positif saja betul, dan pada akhirnya tidak ada yang sempurna, begitu juga imunisasi, namun kita lihat persentase yang berhasil dan tidak, 1 persen pun kejadian yang buruk tidak ada, nah mau tau perasaan saya melihat anak2 terserang difteri beberapa bulan lalu di jawa, rasanya bangsa ini mundur kembali bertahun2 penyakit ini hilang dari daftar penyakit dunia kini harus sampai 30 anak mati sia2 karna tidak mau di imunisasi, sungguh memilukan saudara2 sebangsa saya mundur dan mundur kembali, bercermin pada malaysia yang menerapkan agama dan ilmu pengetahuan pada tempatnya….salam smuannya jangan sia2kan anak-anak bangsa ini.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>