Snouk Hurgronje atau Christiaan Snouck Hurgronje adalah tokoh yang mengundang kontroversi tidak hanya di negeri ini tetapi juga secara internasional.
Sampai saat ini, sosok ini masih terus diperbincangkan dan ditelusuri oleh banyak pihak itu menjadi pribadi yang masih samar-samar alias berada di daerah abu-abu.
Maksudnya, jika secara subyektif dilihat dari sisi kaum Muslim di Indonesia tidak pasti juga apakah dia adalah orang munafik yang pura-pura masuk Islam atau Muslim yang dalam kondisi dilematis.
Penggalian sejarah tentang sosok Snouk Hurgronje sendiri masih belum menyeluruh dan utuh. Banyak sisi-sisi sejarahnya yang belum banyak digali seperti hubungan dia dengan masyarakat Sunda.
Sejarawan Ajip Rosidi yang banyak meneliti sejarah Sunda, pernah menulis tentang hubungan erat Snouk Hurgronje dengan masyarakat Sunda terutama daerah Priangan Timur.
Melihat dekatnya hubungan dia dengan kaum ulama dan bangsawan Priangan, tentunya menjadi hal yang menarik menelaah mengapa dia tidak melakukan prosesi yang sama dengan di Aceh.
Padahal Snouk Hurgonje menikah dua kali dengan wanita Sunda. Isteri pertamanya adalah Sangkana puteri dari Raden Haji Muhammad Ta’ib, penghulu besar Ciamis.
Kemudian setelah Raden Sangkana meninggal akibat keguguran, Snouk menikah lagi dengan Raden Sadiyah puteri dari Raden Kalipah Apo.
Hal ini tercatat pula dalam wawancara antara Raden Tachniah kepada van Koningsveld yang menyusun buku Snouck Hurgronje en Islam; Acht artkelen over leven en werk van een orientalist uit het koloniale tijdperk yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berjudul Snouck Hurgronje dan Islam yang diterbitkan oleh PT. Girimukti Pasaka yang dicetak pertama kali tahun 1989.
Masalah ketidaktulusan Snouk menjadi Muslim sebenarnya diulas dalam buku tersebut. Namun tentu saja hal tersebut tidak diungkapkan kepada sahabatnya, Penghulu Haji Hasan Mustapa yang bahkan sudah menganggapnya seperti saudara.
Para keturunannya menganggap bahwa Snouk adalah sosok Muslim yang ikhlas. Hal ini disebabkan keyakinan mereka akan kedalaman ilmu H. Hasan Mustapa dan para Qodi di Mekkah yang pasti sudah dapat membaca niat buruk Snouk sebelumnya.
Tapi jika kita melihat dokumen yang ditulis oleh Snouk mengenai proses penguasaan di Indonesia yang mayoritas Muslim, sebenarnya hal tersebut adalah ulasan atas kenyataan yang sudah ada sebelumnya di masyarakat.
Dia hanyalah memberikan gambaran tentang kondisi Islam di Indonesia terkait dengan sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Ulasannya tentang memisahkan nilai-nilai Islam dalam politik dan usaha menghalangi supaya tidak menyebabkan lunturnya nilai-nilai budaya setempat oleh syariat Islam adalah pengamatan cerdas atas rendahnya tingkat pendidikan Muslim di Indonesia.
Mayoritas Muslim di Indonesia tidak terdidik dengan baik. Jika pun ada, kebanyakan dari mereka dididik dengan paham-paham yang cenderung menepikan agama atau tidak mau terlibat dalam kegiatan politik praktis.
Sehingga hal tersebut menjadi celah bagi Belanda untuk melakukan propaganda, penyusupan dan aksi pecah-belah yang mengakibatkan semakin terpuruknya umat Islam di Indonesia.
Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa Snouk hanya menunjukkan kepada Belanda titik api yang dapat digunakan untuk membakar komunitas Muslim di Indonesia.
Karena jika kita lihat, melihat permainan politik cantik yang dilakukan oleh para pemuka Agama Islam di daerah Pasundan maka wilayah ini sangat minim pergolakan dengan Belanda.
Di sisi misi penyebaran Kristen pun, daerah itu dapat dikatakan gagal jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Karena Kerajaan Belanda lebih bersikap pragmatis dengan kepentingan ekonominya. Sehingga selama daerah tersebut aman terkendali maka akan memberikan kontribusi yang besar bagi investasi dan perniagaan mereka.
Untuk referensi lebih lengkap, Anda dapat mengakses pranala-pranala berikut:
- Snouck Hurgonje dan Pemisahan ‘Islam Politik’
- Berdamai dengan Aceh (suatu pengalaman sejarah) oleh: Nab Bahany As
- Wikipedia: Snouck Hurgronje
- Snouck Hurgronje dan H Hasan Mustapa oleh Ajip Rosidi
Topik yang mungkin Terkait:
- Pola Tidur Sehat dan Fenomena di Balik Kedasyatan Sholat Malam
- Fenomena “nyantai aja” pake software bajakan..
- Syukur Ada Faithfreedom
- Makan Bersama Orang Nonmuslim Haram?
- Membosankan: Ribut-Ribut RUU Pornografi
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Akankah Saya Masuk Syurga?
- Selamat Tahun Baru 1429H (Heran, kok nggak ada sidang isbat yaa??)
- Minimnya Pendidikan Politik Etis Formal dan Dampaknya pada Krisis Demokrasi
- Hilangnya Mata Pelajaran Bahasa & Sastera Daerah di Sekolah dan Dampaknya pada Kepunahan Seni Budaya Lokal (Tanya Kenapa..)
- Kedaulatan Ada di Tangan Parpol
- Kok AKKBB Nggak Membela Bupati Simon Hayon?
- Review Buku: “Hebron Journal”
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development”
- Pemanfaatan IT: “Dilema Outsourcing atau Internal Development” Bagian 2


