Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan salah seorang paman yang datang berkunjung di rumah.
Kebetulan saat itu dia melihat-lihat jajaran buku di rak buku milik saya. Sambil tersenyum simpul dia berkata demikian, “Ah, saya juga banyak baca buku-buku tentang motivasi dan pengembangan diri. Tapi nggak ada efek apa-apa tuh sama saya. Ini semua kan cuma teori. Belum tentu juga penulisnya itu sesukses ceritanya.”
Terdengar tidak asing?
Saya yakin banyak orang yang memiliki kesimpulan seperti paman saya itu. Bagi mereka hidup ini sudah ditentukan dan nasib adalah sesuatu yang tidak bisa diotak-atik.
Sayangnya, mereka ini lebih suka mengiba diri dan menganggap kesuksesan orang lain sebagai buah keberuntungan.
Saya jadi teringat dengan sebuah kisah yang sangat menginspirasi dari sebuah cerpen karya Enid Blyton. Kisah ini saya baca saat masih umur tujuh tahun dan menjadi salah satu sumber motivasi dalam hidup saya sejak saat itu.
Isi ceritanya kira-kira seperti ini:
Ada seorang anak laki-laki dan anak perempuan di sebuah desa. Si anak laki-laki digambarkan selalu murung, berkeluh-kesah, iba diri dan pesimis. Sedangkan si anak perempuan digambarkan dengan karakter yang berlawanan dengan si anak laki-laki tersebut. Si anak perempuan ini selalu riang-gembira, suka menolong, tegar dan optimis.
Suatu hari si anak laki-laki disuruh oleh ibunya untuk pergi ke pasar menjual telur dan membeli tepung untuk membuat roti ke pasar.
Dengan segera si anak laki-laki tersebut menolak permintaan ibunya.
“Tadi malam turun hujan deras sekali. Sungai yang menjadi jalan satu-satunya menuju ke pasar pasti meluap dan sulit dilewati.
Selain itu jalanan pasti becek dan licin, saya takut terjatuh dan akibatnya telur-telur yang saya bawa berjatuhan dan pecah. Jadi sebaiknya ke pasarnya jangan hari ini,” keluh si anak laki-laki tersebut kepada ibunya.
Tentu saja ibunya marah mendengar hal tersebut. Akhirnya setelah diancam tidak akan diberi makan karena tepung sudah habis maka si anak laki-laki tersebut berangkat sambil bersungut-sungut.
Ternyata sesampainya di pinggir sungai, perkiraannya terbukti. Bagian paling dangkal di bagian sungai yang biasa dilewati ternyata terendam cukup dalam dan arusnya sangat deras.
Bahkan karena derasnya arus sungai dan lebatnya hujan semalam, hingga beberapa batu berukuran cukup besar terseret ke pinggir sungai.
Si anak laki-laki tersebut kemudian duduk di atas sebuah batu sambil merenungi nasibnya yang buruk, menyalahkan ibunya yang tidak percaya pada perkiraannya dan sibuk mencari-cari alasan untuk dikatakan saat pulang nanti.
Tidak berapa lama datanglah si anak perempuan sambil bernyanyi dengan riang. Melihat kedatangan temannya itu, si anak laki-laki kemudian memasang tampang sebagai orang paling susah sedunia.
Si anak perempuan kemudian mendatangi temannya karena melihat tampang orang paling susah sedunia itu.
Setelah mendengan penjelasan dan keluh-kesah si anak laki-laki, si anak perempuan kemudian malah tertawa. Tentu saja si anak laki-laki tersinggung melihatnya.
“Orang lagi susah kok diketawain,” batin si anak laki-laki.
“Coba kalau kamu yang dalam posisi saya, pasti kamu bakalan sama saja bingung dan tidak berdayanya seperti saya,” cetus si anak laki-laki kepada si anak perempuan.
“Maaf, bukan maksud saya mau menertawakan kamu. Tapi saya merasa geli melihat kamu yang sepertinya memang dari awal sudah niat ingin ada masalah yang membuat kamu tidak perlu pergi ke pasar,” jelas si anak perempuan tersebut.
Kemudian si anak perempuan mengambil sebongkah batu yang besarnya kira-kira seukuran kepala orang dewasa dan melemparkannya ke sungai.
“Ayolah, tolong bantu saya melemparkan batu-batu besar ini ke tengah sungai. Kamu kan laki-laki, tenagamu tentu lebih besar dibandingkan saya,” ajak si anak perempuan kepada si anak laki-laki.
Ternyata setelah beberapa kali melemparkan batu-batu besar ke dalam sungai, terbentuklah jalur jalan yang dapat digunakan untuk menyeberang.
“Terima kasih, kamu sudah membantu saya,” ungkap si anak laki-laki kepada si anak perempuan, “Nanti kalau ada masalah lagi saya akan berdoa semoga kamu bisa segera datang membantu saya.”
Dengan tersenyum ramah si anak perempuan menimpali, “Ah, jangan begitu. Daripada kamu menunggu pertolongan datang, lebih baik berpikir dan berusaha mencari pemecahan masalah yang kamu hadapi.”
Nah, suatu cerita yang inspiratif kan?
Tanpa sadar seringkali kita menangisi keadaan dan berharap pertolongan segera datang. Padahal setiap masalah pasti ada pemecahannya.
Rumusnya mudah sekali kok, tinggal ubah cara pandang kita berlawanan dengan pandangan awal kita yang menyusahkan tersebut. Pasti dari sana akan terpicu a-ha yang menjadi titik awal pemecahan masalah tersebut.
Selain itu, cerita tersebut mengingatkan kita bahwa masalah sebenarnya tidak pernah ada. Masalah dan halangan itu muncul karena kita mengundangnya datang dengan pikiran maupun sikap negatif.
Dalam hal ini pilihan yang kita buat akan membentuk diri kita ke depan. Berkembang atau tidaknya diri kita sangat tergantung pada tekad dan usaha yang tiada kenal lelah.
Popularity: 7% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Perlukah Pelatihan Motivasi dan Pengembangan Diri?
- Pria Tangguhkah Kamu?
- Hijryah, Hikmah Keunggulan Evolusi Diri
- Tanggapan Pribadi Atas Internet Marketing & Motivasi Gabung dengan TDA
- Siapa Bilang Zakat Cuma Buang Sial?
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru
- I Love You Mom(s)..
- Akankah Saya Masuk Syurga?
- Hidup Ini Memang Tidak Adil
- Maulid Nabi.. Kok Cuma Jadi Libur Nasional?
- Dibuka Aib Kemana-Mana? Bersyukurlah..
- Mencari Tuhan
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Dialog Nasib & Takdir
- Haahhh.. Kamu Nggak Bisa Bayar Qurban?

assalamualaikum
salam kenal, pak. saya pernah jadi mentor sebuah lembaga pengembangan dan motivasi sejenis anthony robbins gitu. awalnya saya pikir juga banyak peserta training yang skeptis, tapi ke belakang – tanpa niat sengaja mengumpulkan testimony – ternyata training2 itu ada manfaatnya kok. ada ibu rumah tangga yang tadinya nggak punya planning hidup dan cuma berobsesi ngurusin anak2 di rumah, sekarang sudah jadi psikolog bersertifikat universitas dan diterima jadi pns. waktu saya tanya, dia bilang, “itu karena pelatihan yang anda ajarkan.” well, menurut saya, kita bisa memungut motivasi dari mana saja. ngga usah sinis dengan banyaknya buku, pelatihan yang bikin orang kepingin maju. iya tho?
alaikum salaam Bu Detti,
Salam kenal juga..
Terima kasih sudah mampir di blog saya.
Blog-nya ibu saya list di feed agregator saya ya bu..
Jadi bisa jadi inspirasi banyak orang yang kebetulan mampir kesini.
Salam..