Sepuluh tahun lalu menjadi tonggak sejarah dari babak baru perjalanan Bangsa Indonesia melalui reformasinya. Terjadinya pun sudah menelan korban para putera bangsanya.
Namun ternyata apa yang diimpi-impikan oleh seluruh rakyat Indonesia tentang perubahan arah nasib bangsa dan negara yang lebih baik tidak segera terwujud.
Ironisnya praktik-praktik kebobrokan moral para penyelenggara pemerintahan dan pembangunan negeri ini semakin parah serta menyengsarakan rakyat.
Setiap rezim pemerintahan dari era kepemimpinan Presiden B.J Habibie hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono boleh mengajukan pernyataan bahwa mereka sudah memperlihatkan kinerja yang membawa bangsa ini semakin baik.
Tetapi rakyat pun boleh mengajukan pernyataan lain karena mereka sendiri yang mengalami hasil-hasil pengambilan maupun eksekusi kebijakan para pengurus negara di setiap detiknya.
Bangsa Indonesia sudah mengalami perjalanan sejarah yang panjang sejak dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928. Tanah airnya pun sudah banyak disiram darah dan air mata para anak bangsanya.
Tapi air mata para anak bangsa sekarang ini sudah mengering. Bahkan mereka sendiri sudah tidak sudi menumpahkan darah mereka.
Jika dahulu mereka rela darahnya tumpah demi harga diri dan martabatnya sebagai bangsa yang ditindas oleh bangsa lain maka apakah masih pantas itu terjadi karena sekarang mereka ditindas oleh bangsanya sendiri?
Di setiap negara manapun di dunia ini, hukuman yang setimpal bagi para pengkhianat bangsa adalah hukuman mati. Setelah mati namanya akan dikenang sepanjang masa sebagai seorang pengkhianat busuk.
Dan para pengkhianat negeri ini belum ada satupun yang dihukum setimpal. Mereka masih mencengkeram harga diri bangsa ini dan semakin sombong menginjak-injak ketulusan hati rakyat Indonesia.
Darah mungkin masih harus tertumpah. Tapi yang akan ditumpahkan adalah darah para pengkhianat bangsa tersebut.
Revolusi adalah pilihan yang harus dibuat oleh Bangsa Indonesia. Saya sendiri tidak berani membayangkan kengerian yang akan terjadi jika itu betul-betul dipilih oleh mayoritas anak bangsa yang tertindas ini.
Kengerian bahwa di setiap kantor kelurahan/desa tertancap kepala para lurah/kepala desa, di setiap kantor kecamatan tertancap kepala para camat, di setiap kantor bupati/walikota tertancap kepala para bupati/walikota, di setiap kantor gubernur tertancap kepala para gubernur, di setiap kantor kementrian tertancap kepala para menteri, di setiap ruangan anggota DPR/MPR/DPD tergeletak kepala para anggota DPR/MPR/DPD dan di Istana Negara tertancap kepala sang presiden dan wakilnya.
Mungkin banyak yang tertawa mencemoohkan gambaran itu terjadi. Menepuk dada mengatakan hal itu mustahil terjadi.
Tapi mungkinkah jika itu benar-benar terjadi mereka masih akan tertawa dan menepuk dada?
Popularity: 4% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Apa yang Terjadi Setelah Seabad Kebangkitan Nasional?
- Bersyukurlah Kita Jadi Warga Negara dan Tinggal di Indonesia!
- Perang Indonesia VS Malaysia
- Saya TIDAK Terima Bangsa Ini Dihina oleh Yth. Bapak Jusuf Kalla
- Indonesia Mau Membangun PLTN? (Semburan Lumpur & Sampah Saja Susah Diurusnya)
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Polemik Malaysia “Mengakui Angklung Sebagai Kekayaan Budaya Mereka”
- Hebatnya Pak Harto!
- Indonesia Punya Posisi Tawar yang Kuat Terhadap Amerika Lhoo..
- Mohamad Toha: “Pahlawan Nasional Tanpa Tanda Jasa”
- Akankah Saya Masuk Syurga?
- The Government of Indonesia Republic will Giving some Free Certification Land for Poor Families
- Memanusiawikan Pendidikan di Indonesia (Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2007)
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Kedaulatan Ada di Tangan Parpol

10 Komentar Terakhir