Rania Maharani, puteri tercinta kami adalah salah satu guru dalam kehidupan saya. Banyak hal yang terkait dengan hidup ini yang dapat saya pelajari darinya.
Mengapa seorang anak berumur dua tahun bisa menjadi guru kehidupan bagi saya?
Karena dia mengingatkan tentang watak dasar manusia yang sebenarnya sangat tidak ingin menciptakan zona mapan dalam dirinya. Sang Maha Pencipta menciptakan dan memelihara kita dengan bekal mental bertahan serta berkembang yang tiada henti.
Sikap mental negatif kitalah yang kemudian membuat bekal dari-Nya itu semakin lama menjadi terkikis habis hingga menyebabkan kita menjadi manusia yang tidak berdaya diseret arus kehidupan ini.
Ah, itu sih nggak nyambung lah.. Bagaimana mungkin seorang batita mengajari kita yang sudah malang-melintang di kehidupan ini lebih lama dari dia?
Mungkin saja jika kita memperhatikan dengan seksama dan dibarengi dengan kerendahan hati yang tulus.
Pelajaran penting itu pertama kali saya sadari saat dia dulu baru belajar berjalan.
Rania sang bayi dengan tiada kenal putus asa terus berusaha melangkahkan kakinya. Dia tidak pernah peduli apalagi menghitung berapa kali dia jatuh saat belajar berjalan.
Dia tetap fokus pada tujuannya: “SAYA HARUS BISA BERJALAN SEGERA”. Karena itulah dia tidak perduli rasa sakit dan kesal yang dialaminya selama berusaha untuk melangkahkan kakinya.
Setelah ratusan kali terjatuh, akhirnya dia bisa berjalan dengan tertatih-tatih. Kemudian setelah dapat berjalan lancar, dia mulai belajar berlari sekalipun seringkali menabrak benda-benda di sekelilingnya atau bahkan terjatuh lagi.
Tapi dia tidak pernah mengeluh, sang bayi itu malah tertawa girang kemudian berdiri dan berlari lagi tanpa rasa takut bahwa dia akan jatuh dan kesakitan lagi. Baginya kenikmatan saat berlari mengalahkan rasa takutnya itu.
Kita semua pasti pernah mengalami pengalaman yang sama dengan puteri kami itu. Kenikmatan mengejar impian dan pantang menyerah menghadapi tantangan maupun resiko yang ada.
Bayangkan jika kita sudah trauma dan malas berjalan di langkah pertama kita saat belajar berjalan. Mungkin seumur hidup kita akan selalu merangkak karena sudah merasa nyaman dan aman dengan kondisi tersebut.
Nah, jika ternyata sudah dari sananya kita diciptakan sebagai pejuang tangguh yang tidak pernah takut mengambil resiko, mengapa sekarang justeru malah berkebalikan dari itu?
Popularity: 4% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Buruh Bisa Saya Ganti Pake Robot & Mesin!
- Mengapa Saya Lebih Memilih Menjadi Wirausahawan
- Kemampuan Kita Ternyata Tak Terbatas
- Memberi itu (ternyata) indah
- Haruskah Menjadi Wirausahawan?
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Haahhh.. Kamu Nggak Bisa Bayar Qurban?
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)
- Siapa Bilang Orang Nonmuslim Tidak Bisa Masuk Surga?
- Akankah Saya Masuk Syurga?
- Tips Metode Selalu Menjadi Kreatif
- Ternyata Alloh SWT Melarang Kita Memberi karena Ingin Menerima Lebih Banyak..
- Emang Saya Ini Luar Biasa Dahsyat.. Huahahaha..!!

10 Komentar Terakhir