Karier profesional saya sebagai employee (pegawai) dimulai tahun 1997 di sebuah perusahaan konsultan pengembangan sistem informasi nasional. Itu pun kemudian berpindah-pindah sesuai penawar tertinggi (matre banget ya? hahaha..)
Sebenarnya keinginan untuk membuka usaha sendiri sudah muncul sejak sekitar tahun 1999. Tapi baru terwujudkan di pertengahan tahun 2000.
Itu pun sebenarnya bisa dibilang terjadi tanpa direncanakan sebelumnya oleh saya. Kebetulan ada seorang pemilik perusahaan konsultan TI di Bandung yang menawari saya pekerjaan dengan sistem borongan sebagai subkontraktor proyek yang dia pegang.
Awalnya saya sempat ragu-ragu, walaupun secara nominal sebenarnya nilainya cukuplah buat hidup setahun dengan kerja paling lama tiga bulan. Keragu-raguan saya muncul karena nggak kebayang bagaimana menjalankan sebuah proyek secara mandiri.
Selain itu perasaan negatif yang bermunculan pun menjadi penyebab rendahnya kepercayaan diri saya menerima proyek borongan tersebut. Perasaan mapan selama kurang lebih 3 tahun bekerja sebagai orang gajian juga banyak memberi kontribusi keraguan tersebut.
Segala hal tersebut kemudian bisa ditekan setelah saya teringat dengan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah idola saya, termasuk dalam hal masalah bisnis dan beliau memulai proses sebagai wirausahawan sejak usia tujuh tahun.
Padahal umur segituan sih saya masih jungkir balik di atas pohon di halaman rumah
Sebenarnya saya tidak langsung 100% berwirausaha karena masih dalam kelompok self-employee dan hidup dari pihak-pihak yang memberikan pekerjaan.
Legalitas badan usaha pun diteguhkan dengan mengusung bendera PT. Bandung Infotech. Seiring dengan semakin banyaknya proyek yang diberikan, saya pun mulai merekrut tim kerja sejak tahun 2001.
Namun perjalanan saya merintis usaha ini pun tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan ilmu, bimbingan dan sumber daya menjadi semacam kuliah bisnis saya (hingga saat ini).
Seringkali di saat keadaan begitu buruk, saya tergoda untuk kembali menjadi pegawai dan hidup nyaman dengan gaji bulanan yang lumayan besar.
Iseng-iseng tahun 2003 saya pernah melamar pekerjaan dan ditawari gaji 15 juta rupiah sebulan lho. Tawaran yang menggiurkan tentunya! Apalagi saat itu kondisi saya dengan rekanan bisnis di perusahaan yang kami rintis juga sedang dalam kondisi yang kritis. Terutama masalah kepercayaan
Tapi dalam kondisi goyah seperti itu, Kang Darto (salah seorang mentor bisnis saya) memberikan masukan yang bisa kembali membakar semangat saya berwirausaha.
“Segala sesuatu yang berharga harus diraih dengan pengorbanan yang seimbang. Tapi sesuatu tidak pernah menjadi pengorbanan kalau dilakukan dengan kecintaan,” nasihat beliau pada saya.
Bayangkan, nasihat sehebat itu datang dari seorang pedagang swike di Pasar Baru Bandung dan hanya lulus SMP! (Ternyata jadi orang pintar bukan harus sekolah tinggi-tinggi tapi memahami hikmah dalam-dalam)
Ya, masalahnya ternyata ada kecintaan saya terhadap apa yang saya lakukan. Menurunnya kadar cinta itu mendorong turunnya tekad saya membuat mimpi-mimpi menjadi nyata!
Ustadz Zainal Arifin yang menjadi pembimbing spiritual saya pun ikut menyalakan kembali api semangat itu. Beliau mengingatkan saya mengenai masalah orientasi. Jika orientasi salah dan tidak jelas, bagaimana mungkin saya bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya!
Masalah orientasi ini pun banyak menampar kesadaran saya. Kesadaran akan murahannya orientasi bisnis saya. Sebagai manusia saya lupa bahwa Alloh SWT menciptakan manusia hanya untuk satu tujuan saja: “beribadah kepada-Nya”.
Saya tersadarkan bahwa selama ini terlalu terfokus pada untung-rugi hingga melupakan bahwa harta adalah sumber cobaan yang pantang kita damba-dambakan. Ukuran kesuksesan hidup bukan dari seberapa banyak harta yang diperoleh tapi seberapa besar kebermanfaatan kita dalam hidup ini.
Akhirnya setelah melakukan evaluasi dan menata-ulang seluruh bagian rencana/program hidup maupun bisnis saya, mulailah saya melarikan kembali laju usaha (saya tidak suka istilah menjalankan, kok kesannya lambat sekali di dunia yang perubahannya begitu cepat)
Alhamdulillah, semangat bukan mengejar untung dan niat ibadah dalam bisnis terbukti mampu melejitkan perjalanan bisnis saya. Segala sesuatunya berjalan dengan kondisi pas-pasan.
Maksudnya, pas perlu partner baru, dapat yang sehati (jangan salah asosiasi ya
), pas perlu dana dapat pemasukan kas yang lumayan dan hal-hal lainnya juga.
Ternyata terbukti bahwa di saat kita sudah tidak memikirkan diri sendiri dan fokus pada memikirkan kebermanfaatan bagi orang banyak, Alloh SWT akan selalu memberikan jalan dari arah dan di waktu yang tidak terduga.
Tahun 2005 merupakan tahun titik-balik dari perjalanan bisnis saya. Dengan mengibarkan PT. AWAKAMI, kami memulai bisnis dengan modal dengkul seadanya. Kantor kami di sebuah gudang sehingga setiap ada klien atau prospek yang mengajak rapat selalu dibawa ke kafe yang lumayan murah, hehehe..
Dengan modal hanya 10 juta rupiah, kami melarikan laju bisnis PT. AWAKAMI dengan segala kegilaan dan kesulitan yang tidak terbayangkan. Bahkan sempat muncul rasa pesimis bahwa usaha ini tidak akan mampu bertahan melalui tahun pertama karena sepinya permintaan hingga kuartal ketiga.
Tapi rupanya Alloh SWT berkehendak lain, alhamdulillah kami masih bisa bertahan bahkan berkembang melalui tahun pertama tersebut.
Dari omzet tahun pertama kami bisa pindah ke kantor yang lebih layak dengan menyewa sebuah rumah tipe 45 di daerah Sarijadi Bandung. Setidaknya sekarang kami berani mengundang klien untuk rapat di kantor, hahaha..
Kami pun banyak belajar dan mengambil hikmah dari perjalanan usaha yang dirintis bersama tersebut. Pelajaran penting yang kami dapatkan selama perjalanan bersama tersebut adalah kenyataan bahwa modal utama usaha adalah KEPERCAYAAN, bukan UANG.
Masa-masa sulit masih terus berlanjut di tahun kedua. Namun lagi-lagi alhamdulillah, tahun tersebut ditutup dengan manisnya omzet yang melesat hingga 500% dari periode sebelumnya!
Dengan omzet yang melesat tersebut, kami pun mengembangkan usaha dengan lebih semangat. Kami pun terpaksa harus pindah kontrakan kantor karena sudah tidak muat lagi menampung 20 orang pegawai yang ada.
Perjalanan ini pun masih berlanjut di tahun ketiga ini. Kesulitan masih datang bertubi-tubi dan menjadi pembakar semangat kami untuk lebih banyak belajar, berkembang, kreatif, inovatif dan mengharamkan zona mapan terbentuk.
Tentu saja harapan kami tetap luar biasa positif di tengah-tengah badai yang menerpa bahwa tahun ini akan ditutup dengan lebih manis dengan tahun kemarin dan tahun depan bersama-sama sahabat lainnya akan lebih maju dan berkembang!
Maju terus pantang mundur!
Popularity: 6% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Haruskah Menjadi Wirausahawan?
- Mengapa Saya dan Teman-Teman Berbisnis di Bidang Teknologi Informasi
- Ternyata Bayi Bisa Menjadi Guru Saya..
- Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)
- Mas.. Saya Kena PHK.. Terus Bagaimana Saya Mencari Nafkah?
- Data Lebih Lengkap Soal Razia Illegal Software Di Tempat Publik
- Para Raja yang Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Raja
- Wirausahawan Banyakan Nongkrong di Kantor? BAHAYA!
- Ternyata Alloh SWT Melarang Kita Memberi karena Ingin Menerima Lebih Banyak..
- Haruskah Kita Menjadi Kaya?
- Tips Memilih Kontraktor IT di Organisasi/Perusahaan Anda
- Mengapa Sejarah Itu Penting?
- Saya Jadi Mentor Wirausaha? Aya-Aya Wae..
- Saya Anti Microsoft?
- Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)

nice artikel,
menjadi inpirasi bagi saya yang baru mencoba mengikuti jejak Anda.
wow …
jadi semangat terus nich …
btw, salam kenal ya Pak.
saya adalah member milis TDA baru.
Yuda Dian Harja
08563305401
YM: brighter19
Terima kasih Pak Arif dan Pak Yuda.
Salam kenal buat Anda semua.
Semoga kebersamaan kita dapat menjadi rahmat di alam semesta ini.
saya bertemu catatan bpk saat saya mencari gambar2 tokoh wayang utk contoh desain produk clothing yg sedang saya rencanakan untuk melaju agustus ini. pas juga nih, saya melihat catatan wirausaha bpk.. kalo boleh saya minta bpk mnjwb 3 pertnyaan saya via imel ya..
1. bagaimana jika bpk brgkt sbg pemuda 20th yg berkeluarga (punya anak) dengan tanpa penglmn kantor/gaji, pengetahuan minim, dan sulit brgrak?
2. catatan itu cukup menggetarkan hati, tp knp bpk menuliskan itu? krn sy yakin catatan pnjng itu hanyalah ringkasan 1 lmbr dari 1 buku. sy merasa mndpt sesuatu dr catatan itu tp apa tepatnya entahlah.. mgkn sprti hbs mbaca buku ippho santosa dkk. knp?
3. maukah bpk mementori sy?
roe:
Tanggapannya saya rilis di posting sini saja ya?
Biar bisa berbagi dengan yang lain.
Salam..
aq gi bgung ny,,,,,,,,