Mungkin jarang di antara kita yang mengetahui bahwa Nokia yang sekarang menjadi penguasa pasar alat telepon genggam dunia pada awal berdirinya adalah perusahaan pengolah kayu dan karet.
Dalam sejarah perusahaannya, Nokia mengalami metamorfosis dari industri nonteknologi menjadi industri teknologi terdepan saat ini.
Didirikan pada tahun 1865, Nokia memindahkan basis produksinya ke sisi Sungai Nokianvirta. Dimana salah satu faktor utama yang mendorong migrasi pabrik tersebut didasarkan pada efisiensi biaya produksi.
Dengan dipindahkannya pabrik ke pinggir sungai yang relatif besar, Nokia dapat meningkatkan kapasitas penyalur energi menjadi lebih besar dengan biaya relatif lebih rendah karena menggunakan pembangkit listrik tenaga air.
Sebenarnya selain belajar mengenai bagaimana Nokia dari awal sudah melakukan efisiensi biaya produksi, kita dapat menelaah proses perusahaan multinasional tersebut keluar dari zona kemapanan bisnisnya.
Para pemilik dan manajemen Nokia sudah dapat melihat tren di masa depan disaat perusahaan-perusahaan dengan bisnis inti yang sama masih berkutat dengan kenyamanan usahanya.
Tentunya bukan hal yang mudah mengubah arah usaha perusahaan dari basis industri karet menjadi industri telekomunikasi.
Hal tersebut sudah disadari oleh mereka dengan melakukan perubahan secara bertahap sejak tahun 1967. Sejak tahun tersebut Nokia melakukan perluasan bidang bisnis yang mayoritas terkait dengan teknologi informasi seperti personal computer, kabel telekomunikasi, produk elektronik dan kapasitor.
Berbekal dari pelajaran-pelajaran di dalam bisnis telekomunikasi tersebut Nokia mulai memasuki industri telekomunikasi bergerak (mobile telecommunication) hingga menguasai pasar seperti saat ini.
Proses perjalanan Nokia dari perusahaan berbasis industri karet dan kayu menjadi berbasis industri telekomunikasi adalah pelajaran berharga bagi kita semua.
Dari perjalanan tersebut kita dapat mengambil hikmah pentingnya keluar dari zona nyaman dan mapan. Zona mapan dan nyaman tersebut adalah pembunuh senyap (silent killer) dari kemajuan kita.
Maka waspadalah jika kita sudah merasa mapan dan nyaman dengan kondisi yang ada saat ini. Kewaspadaan tersebut menjadi semacam alarm atas kemungkinan terhentinya keinginan serta kemampuan kita untuk beradaptasi dengan jaman yang terus berubah.
Mewaspadai zona nyaman bukan berarti tidak bersyukur atas anugerah yang kita terima dari Sang Pencipta dan Pemelihara.
Mewaspadai zona nyaman adalah sikap mental untuk selalu terus belajar kemudian tumbuh dan berkembang secara adaptif terhadap kondisi yang ada.
Dimana pada akhirnya kita mampu melakukan sesuatu yang benar, tidak hanya melakukan sesuatu secara benar.
Popularity: 4% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Sebuah Pelajaran Bisnis Berharga dari Seorang Diyan Marandi
- Pemanfaatan CMM (Capability Maturity Model) Dalam Pengembangan Aplikasi Software
- Wirausahawan Banyakan Nongkrong di Kantor? BAHAYA!
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?
- Pentingnya Menetapkan Visi dan Misi Bisnis Anda
- Outsourcing: Trend Bisnis Mutakhir?
- Ulasan Buku: Rahasia Bisnis Orang Jepang
- Hidupilah Komunitas bukan Hidup dari Komunitas!
- Mengembangkan dan Mempertahankan Industri Kreatif
- Apakah Manfaat Sistem Informasi Bagi Bisnis Anda?
- Tips Membangun On-line Transaction Portal untuk Mendukung Sales & Marketing Bisnis Anda
- Review Buku “Latih Ulang Otak Bisnis Anda”
- Benarkah Memulai Bisnis Bisa Tanpa Modal?
- Review Buku “Rencana Bisnis Lengkap”
- Para Mentor & Panutan Bisnis Saya (yang kata orang sih nggak mutu..)

Blognya sangat inspiratif pak, membuat yang bacanya kembali bercermin tentang perjalanan bisnisnya.
Sukses buat kita
anekakulit.blogspot.com
ade-hidayat.blogspot.com
@ Ade Hidayat:
Halo Kang Ade.. terima kasih atas kunjungannya.