Karena merasa penglihatannya terganggu dan semakin tidak menyenangkan, Kang Tia kemudian memutuskan untuk memeriksakan mata ke seorang spesialis mata.
Sesampainya di tempat praktek dokter tersebut, Kang Tia kemudian ditanya oleh sang dokter, “Ada masalah apa Pak?”
“Ini dok, sudah sebulan ini penglihatan saya terganggu. Kalau melihat ke kejauhan kok sering jadi kabur, terus jadi pusing-pusing,” keluh Kang Tia pada sang ophthalmologist tersebut.
“Hmm.. kalau begitu mudah solusinya. Coba Anda pakai kacamata saya ini. Kacamata ini sudah saya pakai selama 12 tahun dan sangat membantu saya mengatasi masalah yang Anda sebutkan tadi,” jawab dokter tersebut sambil melepas kacamata yang digunakannya.
Kang Tia kemudian menerima dan memakai kacamata tersebut.
“Bagaimana Pak? Pandangannya jadi bagus lagi kan?” tanya sang dokter spesialis mata dengan penuh percaya diri pada Kang Tia.
“Aduh dok.. kok pandangan saya jadi makin kabur. Sekarang melihat yang jaraknya dekat saja jadi suram. Kepala juga jadi pusing-pusing,” keluh Kang Tia sambil melepas kacamatanya.
“Anda ini bagaimana sih! Coba berfikir dan bersikap positif dong.. Kacamata itu sudah 12 tahun saya pakai dan saya tidak pernah bermasalah dengannya. Anda ini keterlaluan sekali, sudah dibantu malah menyalahkan bantuan yang saya berikan,” sergah sang dokter sambil mengambil kembali kacamatanya dari Kang Tia.
Tentu saja cerita tersebut di atas hanya rekaan saya saja. Saya tidak membayangkan jika situasi tersebut betul-betul terjadi. Wah, bisa-bisa dilempari batu sama orang-orang tempat praktek ophthalmologist tersebut.
Namun dalam analogi lain, kita sering terlibat dalam situasi tidak menyenangkan tadi. Entah kita dalam posisi sebagai Kang Tia atau sebagai sang dokter spesialis mata.
Mungkin kita pernah bertindak seperti dokter tersebut. Pada saat ada orang yang meminta bantuan, kita sering langsung memberikan skema solusi tanpa melakukan peninjauan mendalam atas masalah si peminta tolong.
Kesombongan diri sering menempatkan kita dalam posisi di atas orang yang meminta pertolongan. Sehingga akhirnya menyebabkan kita bersikap serampangan dalam mengambil kesimpulan.
Salahnya pengambilan kesimpulan tersebut tentunya akan berdampak pada tidak tepatnya solusi yang kita tawarkan.
Ironisnya karena polusi perasaan lebih tinggi tersebut, kita sering menjadi bersikap negatif pada orang yang meminta pertolongan kepada kita.
“Dasar tidak tahu terima kasih, sudah ditolong tapi masih mengeluh juga,” kira-kira seperti itulah yang sering terlontar dari pikiran kita.
Padahal mungkin saja masalahnya ada di kita. Proses pemahaman sering kita lewati sehingga mengakibatkan kurang tepatnya kesimpulan yang dibuat.
Popularity: 3% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru
- Restoran Steak Suis Butcher yang Baru
- Selamat Tahun Baru 1429H (Heran, kok nggak ada sidang isbat yaa??)
- Lho.. Kambing kok Disuruh Bertelur!
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- Berfikir Efektif VS Berfikir Efisien
- Buruh Bisa Saya Ganti Pake Robot & Mesin!
- Empati: “Kunci Pemasaran Efektif”
- Profit Oriented VS Berkah Oriented
- Haruskah Menjadi Wirausahawan?
- Tahukah Anda Seorang Penerbang Menggantungkan Hidupnya pada Sebatang Jarum?
- Neo NATO… No Action Think Only..
- Jangan Sepelekan Pendapat Kedua!
- Menentukan Mahal-Murahnya Tarif Jasa Layanan (Apapun)
- Alasan Mengapa Saya Tidak Suka Seminar (padahal beberapa kali jadi pembicara di seminar)

Cerita analogi yang bagus, meskipun sedikit “ngawur”..hwekekek…
Masak kasih contoh dengan dokter spesialis mata, ya nggak “masuk akal” lho Mas…hehehe..
Kalau dokter kan mesti hati-hati, pasti ada PROGNOSIS dulu, sebelum memberikan DIAGNOSIS…
Hehehe…gak bermaksud serius LHO, cuman “pesan sponsor dari rekan-rekan dokter nih”.
Ok, lepas dari itu..bagus kok kisah bikinannya…sebuah analogi sikap..
Soal kasih komentar…Hehehe…gak usah sungkan Mas Aries…
Saya memang senang jalan-jalan ke berbagai blog…buat belajar. Bagi saya belajar memang mesti seumur hidup…
Kalau blog anda ini sudah saya link di blogspot saya, bukan di wordpress…
Ok, salam buat keluarga bahagia anda ya.
Wuryanano
http://wuryanano.com/