Mungkin sudah banyak di antara kita yang jangankan memperingati, sekedar untuk mengingat bahwa setiap tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional di negara yang kita cintai ini sudah lupa.
Secara pribadi, saya sebenarnya sudah sangat jemu dengan polemik yang berkembang mengenai sistem pendidikan nasional. Padahal NKRI sudah memiliki UU Sisdiknas yang tentunya dapat menjadi fondasi dari pengembangan pendidikan di negeri ini.
Namun yang kita lihat selain banyaknya polemik dan kasus yang mencuat tentang semakin tidak tertatanya sistem pendidikan kita, indeks prestasi rata-rata kualitas keluaran lembaga pendidikan di kita semakin turun di tingkat internasional.
Saya yang pernah mengalami sistem pendidikan dari tingkat TK sampai PT mengalami betul bagaimana rentannya kemampuan sistem pendidikan di negara kita dalam menjawab tantangan jaman yang begitu sangat dinamis serta tidak kompromis ini.
Bagaimana keberhasilan pendidikan hanya ditautkan dengan seberapa tinggi nilai akademis yang diraih tanpa memperhatikan apakah proses belajar-mengajar berhasil mencapai sasarannya.
Mungkin sudah waktunya sistem pendidikan dan pengajaran di negara kita mulai diarahkan secara eksklusif terhadap setiap individu. Negara kita terdiri atas berbagai macam suku bangsa, agama, ras dan budaya yang tentunya memiliki nilai-nilai standarnya sendiri dalam mempersiapkan generasi penerusnya menghadapi masa depan.
Model pendidikan ala barat yang begitu selalu dipuja sudah saatnya direvisi karena pada kenyataannya pun di tempat asalnya juga sudah mulai ditinggalkan. Saat ini wacana home-schooling semakin trendy dan diakui keunggulannya.
Home-schooling menjadi paradigma sistem pendidikan yang memanusiakan manusia secara alami sesuai dengan bakat serta potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Dalam sistem pendidikan seperti ini, peserta didik tidak dipaksa untuk menelan materi-materi yang memang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya.
Bagaimanapun juga, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia paripurna yang memiliki keseimbangan dalam kecerdasan mental, spiritual dan intelijensianya. Selama nilai-nilai dasar yang membentuk kecerdasan integratif tersebut dapat diwujudkan maka pengembangan minat dan bakat setiap manusia diserahkan pada pilihan pribadinya masing-masing.
Sehingga jika memang seorang anak memiliki bakat musikalitas yang tinggi dapat menjadi seorang musikus jenius sekelas Ludwig van Bethoven. Sedangkan yang memiliki minat dan bakat sains dapat menjadi orang yang menumbangkan postulat-postulat Albert Einstein dengan karya-karya nyata ilmiahnya.
Karena tidak selamanya orang dengan bakat musikalitas tinggi memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah daripada seorang doktor yang menemukan theorema matematika baru.
Sudah waktunya pendidikan menempatkan manusia sebagai subyek, bukan obyek yang dipaksa untuk menerima doktrin, dogma dan aksioma. Sudah waktunya kita melakukan kaderisasi dalam membentuk manusia cerdas paripurna yang kelak akan mampu menemukan doktrin, dogma dan aksioma baru!
Selamat Merayakan Hari Pendidikan Nasional
Topik yang mungkin Terkait:
- Minimnya Pendidikan Politik Etis Formal dan Dampaknya pada Krisis Demokrasi
- Apa yang Terjadi Setelah Seabad Kebangkitan Nasional?
- Bersyukurlah Kita Jadi Warga Negara dan Tinggal di Indonesia!
- Di Balik Aturan Menyalakan Lampu Sepeda Motor di Siang Hari
- Maulid Nabi.. Kok Cuma Jadi Libur Nasional?
- Akankah Terjadi Revolusi Indonesia?
- Indonesia Punya Posisi Tawar yang Kuat Terhadap Amerika Lhoo..
- Mohamad Toha: “Pahlawan Nasional Tanpa Tanda Jasa”
- Perang Indonesia VS Malaysia
- KEDEWASAAN: Deret Angka atau Deret Kematangan EIS (Emosi, Intelektual, Spiritual)?
- Catatan Kecil Penutupan Rakernas Rumah Zakat Indonesia
- The Government of Indonesia Republic will Giving some Free Certification Land for Poor Families
- Ribut-Ribut Blokir Situs Porno
- Hijryah, Hikmah Keunggulan Evolusi Diri
- Bisnis IT di Indonesia Tidak Akan Pernah Berkembang?




i like so much this passage because its represents our education situation now days.
@ rini oktarisa:
Thanks a lot.. our nation must be going better to win global competition nowadays.
@upik:
Halo Upik..
Semoga UN kamu sukses yaa..
Tapi masa depan nggak seluruhnya ditentukan sama hasil UN kamu lho..
Anggap aja ini salah satu tahapan hidup yang harus dilalui..
Selama sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya berarti tinggal nikmati & syukuri saja kan?
Sukses!
@ agustinus:
Betul Pak Agustinus, pendidikan seharusnya bukan jadi ajang ego kebijakan para pengambil keputusan.
ad sjrhX hardiknas g..???Q da tugas nie..
@ Dhietha:
Halo Dhieta..
Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional didasarkan kepada penghormatan kepada Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran beliau.
Salam.
pendidikan nasional di indonesia adalah warisan kolonial!!!!……belanda menjajah kita selama 3,5 abad padahal di eropa belanda adalah bangsa yang tertinggal….mutu2 sekolah di indonesia tidaklah sama padahal UAN dilaksanakan secara nasional…….apakah ini ADIL?ya mungkin ini adil…tapi adil menurut pemerintah……mungkin kalangan berduitlah yang akan berhasil di lingkungan pendidikan kita,,…trus kalo mereka sdh sukses pasti mengeksploitasi rakyat yang masih dalam tahap balita renta…….
aslm………. sebetulnya apa aja sich sitem pendidikan yang di bawa kolonial belanda ke indonesia??? n sebelun ada sistem itu sistem pendidikan di indonesia tu kayak gimana? aq jg da tgaz ni,,,,,,,, tolong yaaa >_<
tulisan yang bagus