Tanggal 24 Juli 2010 kemarin merupakan hari bersejarah dan membahagiakan bagi Metasistem Solusi dan Solusi Rumah Sakit yang mengembangkan MetaCare – Health Care Management System.
Melalui perjuangan panjang akhirnya MetaCare memperoleh pengakuan skala nasional sebagai The Winner of Open Source Category di INAICTA 2010 yang bagi kami merupakan sebuah amanah baru yang mencambuk kami untuk lebih maju dan berkembang lagi.
MetaCare secara serius kami kembangkan sejak pertengahan Juni 2009 tanpa tendensi untuk dijadikan materi perlombaan di INAICTA (Indonesia Information Communication Technology Award) 2010.
Misi kami mengembangkan MetaCare berangkat dari keprihatinan atas ketidaksanggupan mayoritas penyedia jasa layanan kesehatan di Indonesia meningkatkan pelayanannya melalui pemanfaatan teknologi informasi karena minimnya dana atau sering gagalnya implementasi.
Di sisi lain gempuran produk-produk aplikasi software SIMRS (sistem informasi manajemen rumah sakit) dari luar negeri dengan harga mencapai milyaran rupiah bisa laku keras di beberapa rumah sakit negeri ini.
Kondisi tersebut cukup membuat kami di Metasistem Solusi dan Solusi Rumah Sakit gerah.
Maka pada awal 2008 kami pun mengembangkan MetaCare namun akhirnya terhenti karena “kekurangan darah” dan tuntutan asap dapur untuk selalu ngebul membuat proyek ini terbengkalai hingga akhirnya di Juni 2010 pihak PMC (Pertamina Bina Medika Medical Center) bersedia untuk menggunakan dan mendanai implementasi di seluruh home clinic yang tersebar di 19 site.
Pihak PMC bersedia mengimplementasikan MetaCare dengan mempertimbangkan faktor-faktor utama yang kami tawarkan yaitu:
- IT budgeting cut-off proven
- User friendly for desktop base application user
- Security
- OSS memiliki keunggulan dalam hal akses ke kode sumber (source code) aplikasi software sehingga dapat diaudit untuk memastikan tidak adanya malware function di dalamnya.
- Linux memiliki system hardening yang relatif lebih tangguh terhadap serangan virus, malware, dsb jika dibandingkan Windows
- Akses antar server menggunakan ssh untuk memastikan data didistribusikan secara aman karena proses enkripsi dan dekripsi yang baik
- Full set of documentation
- Full access of source code
- Human resources development orientation
- Build from the scratch
- Dedicated support & development team
- Distributed system database proven
- Integrated & comprehensive front to back end features
Awalnya pihak PMC akan mengembangkan aplikasinya menggunakan solusi dari Oracle dengan estimasi biaya sekitar 1 milyar rupiah.
Silahkan bandingkan dengan proposal kami yang hanya memerlukan biaya 120 juta rupiah untuk masa pengembangan, migrasi, transisi dan implementasi selama 6 (enam) bulan!
Kami menyadari bahwa salah satu elemen tersulit dari implementasi aplikasi berbasis web adalah mengubah budaya para penggunanya yang sudah bertahun-tahun menggunakan aplikasi berbasis desktop.
Akhirnya kami pun membuat strategi untuk menggunakan AJAX di front-end user interfaces layer sehingga tampilannya benar-benar mendekati aplikasi berbasis desktop.
Bahkan tampilan menunya pun kami buat seperti startup menu di Windows!
Isu masalah keamanan sistem (security) adalah hal yang pertama dibicarakan saat kami mengajukan solusi menggunakan OSS (open source software).
Akhirnya kami bisa menenangkan beliau-beliau di PMC dengan penjelasan berikut:
Dokumentasi adalah hal yang sering menjadi krisis dalam proses implementasi IT.
Salah satu penyebab utamanya adalah pendeknya waktu tenggat penyelesaian proyek sehingga pihak pengembang lebih mengutamakan menggunakan sumber dayanya untuk mengejarnya.
Sebab lainnya adalah belum digunakannya sistem yang tidak bergantung kepada individu serta penggunaan knowledge management yang baik di dalamnya.
Selama ini para pengembang software selalu “menyandera” kode sumber (source code) dari aplikasi program yang dikembangkan oleh mereka.
Alasan yang sering disampaikan adalah hilangnya nilai (lost-value) atas aplikasi software tersebut.
Bahkan beberapa menggunakan hal tersebut untuk “menyandera” klien supaya mereka selalu bergantung kepada pengembang software tersebut.
MetaCare kami kondisikan lain, pihak klien bahkan memiliki akses langsung ke repository yang kami sediakan di server sehingga mereka selalu dapat memantau perkembangan aplikasinya langsung di kode sumbernya!
Dari pengalaman kami selama ini, pengembangan aplikasi perangkat lunak selalu “meninggalkan” sumber daya manusia di internal organisasi klien.
Sumber daya manusia tersebut lebih cenderung “dipaksa” untuk mengikuti dan minim sekali didengar kebutuhannya yang seharusnya diakomodir di dalam aplikasi software yang dikembangkan.
Padahal seharusnya para pihak pengguna dari setiap lapisan inilah yang “dituruti” sebagai pihak yang pada akhirnya akan mengoperasikan aplikasi software tersebut sehingga obyektif dari sistem informasi yang menggunakannya dapat tercapai.
Aplikasi software MetaCare kami kembangkan betul-betul dari nol.
Kami membangun framework sendiri dengan mencontoh bagian-bagian terbaik dari berbagai framework yang sudah ada.
Hal tersebut kami lakukan bukan tanpa alasan.
Fleksibilitas dan originalitas adalah tujuan utama kami.
Kami pun membangun MetaCare tidak dengan mengubah aplikasi-aplikasi open source yang ada.
Bagaimanapun, tujuan utama kami adalah MetaCare harus mampu secara fleksibel diadopsi dan diadaptasikan di lingkungan bisnis layanan kesehatan Indonesia yang cenderung belum terstandardisasi kecuali format laporannya ke Departemen kesehatan
Tim yang terlibat dalam pengembangan aplikasi MetaCare didedikasikan khusus tanpa terlibat dalam kegiatan proyek yang lain.
Tim pengembang MetaCare yang terdiri dari saya, Hendrik Saragih, Ihsan Nurdiansyah dan Syafikli Musyafako serta dukungan field support oleh Muhammad Reza Kamarullah semenjak bulan September 2009 hanya mengerjakan aplikasi tersebut.
Hal ini kami lakukan untuk memenuhi tenggat waktu yang relatif pendek yang diberikan oleh pihak PMC dan juga target kami supaya dapat diluncurkan pada bulan Maret 2010.
Salah satu kelemahan aplikasi software SIMRS yang ada di pasaran saat ini adalah kemampuannya di lingkungan yang terdistribusi.
MetaCare berusaha memberikan solusi atas kondisi tersebut dengan melakukan sinkronisasi antar cabang dan dari cabang ke kantor pusat.
Mayoritas aplikasi SIMRS yang ada di pasaran adalah belum terintegrasi dengan fitur back-office seperti akunting, keuangan, supply chain management, logistik dan persediaan dan manajemen aset.
Jikapun ada biasanya harga aplikasi sekelas ini sangat mahal hingga mencapai nilai milyaran rupiah.
MetaCare berusaha memberikan solusi aplikasi yang relatif lebih terjangkau dari sisi investasi dan memberikan kemudahan bagi pengguna untuk menyesuaikan dengan kebutuhan proses bisnis internalnya.
Topik yang mungkin Terkait:
- Nostalgia Memasarkan Open Source 8 Tahun Lalu..
- Open Source Software Hanya Tren (alias nanti bakalan hilang)?
- Open Source Software = Freeware = Software Gratis = Layanan Gratis?
- Fakta Tentang Kehandalan FOSS (Free Open Source Software)
- Saya Anti Microsoft?
- Posisi Penting SME (Subject Matter Expert) dalam Pengembangan Aplikasi Sofware
- Fenomena “nyantai aja” pake software bajakan..
- Mencari yang Mau Menerima Kebaikan Saja kok Susah..
- Main Game Tidak Produktif?
- Potong Investasi Teknologi Informasi Anda dengan FLOSS..
- Resolusi 2010
- Menyusun Proposal Teknis Pengembangan Aplikasi Software
- Ngeblog yang (Relatif) Aman dan Mandiri
- Tinjauan Beberapa Pemimpin Produk ERP (Enterprise Resources Planning)
- Review Buku “The Art of Innovation”




ini metacare opensource? dimana bisa download code nya ?
trims
Sourcecode untuk Metacare bisa donlot di mana? Terima kasih!
Informasi lebih lanjut mengenai MetaCare bisa diakses via http://solusirumahsakit.com
Trims.
Apa harus bayar 120 juta baru bisa memperoleh source kode-nya yach ?
@Ismail Musa:
Wah, informasi darimana Pak Ismail?
Infrastrukturnya & lisensinya sedang kami persiapkan dulu.
Dari sisi infrastruktur sedang cari-cari ISP yang mau sedikit berbagi bandwidth, hehehe
Sedangkan dari sisi lisensi dan EULA sedang kami diskusikan dengan teman2 yang mengerti masalah hukum supaya tidak terjadi penyalahgunaan atas source-code tersebut.
Terima kasih.
Pak Rantia, kenapa tidak pakai solusi project-hosting gratis yang sudah ada: google code, codeplex, dll? Menurut saya sebelum source-code bisa diundah gratis, software ini belum berhak mendapat judul ‘open-source’.
@Sam Theisens:
Oh ya?
Ada aturannya ya Pak Sam?
Betul kata Mas Sam. Agar bisa dikatakan open source maka Metacare harus comply dengan aturan open source. Lisensinya bisa dipilih di http://opensource.org/licenses/alphabetical
Lisensinya Metacare apa? Apa sudah comply dengan aturan Opensource? Ini perlu dipublish agar tidak timbul kesan Metacare “bukan open source betulan”.
Saya tertarik dgn informasi tentang produk bpk, tapi apakah aplikasi yg bpk miliki ini sudah jalan..? (sudah teruji) bukan abal-abalan..?, masih banyak errornya…?, klu memang aplikasi bpk benar2 bagus sy tertarik untuk memilikinya. Soal Aplikasi bpk menang di INAICTA 2010, belum sebuah jaminan bhw aplikasi bapak bagus, krn acara di INAICTA tsb baru sebatas konsep (ide) yg di wujudkan berupa produk, tdk ada pengujian aplikasi secara mendetail. Metacare ini apakah sdh berbentuk badan usaha atau masih perorangan..?, thanks pak sy menunggu jawabannya.
Pak Yogi ysh,
Alhamdulillah sebelum mengikuti INAICTA 2010 kami sudah mengembangkan dan melakukan riset sejak 2008.
Pada 2009 diimplementasikan secara serentak di 20 cabang Pertamedika Medical Center.
Pada 2010 MetaCare juga ikut serta di ajang Telkom Indigo Fellowship dan menjadi pemenang di kategori Enterprise & Business Application.
Pada 2011 MetaCare menjadi mitra binaan Telkom melalui Indigo Venture 2011 dan memiliki kontrak kerjasama bisnis untuk distribution channel sejak sejak 1 Agustus 2012-2015.
Tentu saja kami sudah menjadi badan usaha supaya bisa menjadi mitra korporasi sekelas Telkom