Seorang blogwalker mengirimkan email kepada saya seperti berikut:
Assalamu ‘alaykum, Apa kabar Pak?
Pak, mohon nasihatnya untuk saya, saya sudah ingin sekali berkeluarga, teman-teman kantor juga sudah sering menyarankan untuk menikah. namun saya masih bingung, saya susah sekali untuk mencari calon isteri, saya sangat menjaga sekali mengenai interaksi dg wanita. beberapa wkt yg lalu saya coba disarankan oleh teman untuk dipilihkan calon ke guru pengajian… namun ada kekhawatiran dlm hati saya, jika ketika guru saya tsb memberikan calon yg tdk pass…
Saya mohon motivasi dan nasihat pak agar jodoh itu lekas Allah tampakan…
terima kasih sebelumnya Pak.
Wassalam,
Y*** R*****@Tarakan – Kaltim.
Saat membacanya saya terbayang kembali saat dulu sedang “berburu” calon isteri
Saya pun sempat bertanya kepada beberapa orang dan memperoleh beberapa nasihat.
Rangkuman dari nasihat-nasihat tersebut antara lain:
Percayalah pada Hati Kecil
Diakui atau tidak, manusia sebagaimana mamalia lainnya memiliki ketertarikan atas lawan jenis kita berdasarkan “keselarasan kimia tubuh”.
Keselarasan ini lah yang seringkali disalahpersepsikan sebagai “dorongan biologis-seksual” yang tidak terkait dengan hati kecil kita.
Hati kecil kita tidak pernah salah dan bohong.
Nafsu dalam bentuk apapun yang menguasai benak kitalah yang menyebabkan hati kecil tersisihkan dalam mengambil keputusan.
Cobalah untuk membiarkan hati kecil kita yang jujur menguasai benak kita saat memilih pasangan.
Pasangan kita ibarat pakaian.
Dia harus mampu menutupi kekurangan kita, memperindah penampilan, estetis, melindungi dan tidak kalah penting adalah memberikan rasa nyaman saat bersamanya.
Dia adalah “Selera” Kita Pribadi bukan Orang Lain
Herannya, saat memilih siapa yang akan mendampingi kita hingga akhir hayat nanti seringkali kita “terjebak” dengan selera orang lain dalam berbagai bentuknya.
Saat hati kecil kita merasakan keselarasan dengan “sang calon” tiba-tiba keyakinan tersebut digoyahkan oleh “opini” dari sekitar kita yang jelas-jelas tidak memiliki relasi “keselarasan” itu.
Jadi jangan biarkan “selera” orang lain yang mendikte kita dalam memilih calon yang “selaras” dengan keinginan kita.
Hubungan adalah Proses bukan Tujuan
Seringkali kita melupakan satu hal yang sebenarnya sangatlah penting.
Bahwa hubungan adalah “proses” dari sebuah keterhubungan yang harus selalu dipelihara, dikembangkan dan dinikmati.
Hubungan tersebut bukanlah sebuah hasil akhir sehingga kita sering terjebak dalam pertanyaan “benarkah dia adalah soulmate saya?”
Popularity: 1% [?]
Topik yang mungkin Terkait:
- I Love You Mom(s)..
- Kerikil dan Hati
- Di Atas Langit Masih Ada Langit..
- Hikmah di Balik Humor
- Mungkinkah Ada Makan Siang Gratis dengan Iblis?
- Metamorfosis Tukang Obat Keliling Gaya Baru
- Filantropi: “Kedok Kesalehan Kapitalisme”
- Haruskah Memilih yang Terbaik dari yang Terburuk?
- Iblis Memang Luar Biasa Dahsyat!
- Dialog Nasib & Takdir
- Syukur Ada Faithfreedom
- Oleh-Oleh Mudik Lebaran 2008
- Benarkah Tuhan Saya adalah Alloh SWT?
- Benarkah Alloh adalah Tuhan Kita?
- Pilih Durinya atau Dagingnya?

like thiissss, bagus tulisannya deh..
@ ui:
terima kasih bi ni… ditanyain rania kapan maen lagi